Aku
bukanlah penganut paham anti kemapanan atau pun sejenisnya, tapi aku
adalah seseorang yang ingin melihat dunia lebih dekat merabanya
menciumnya dan bahkan merasakan saripati-nya. Empat tahun yang lalu aku
sama seperti kalian, seorang anak lelaki yang mendambakan karier,
materi, sex, serta kesenangan dunia lainnya, tapi apa yang aku dapatkan
dengan semua itu?
dengan kehidupan normal seperti itu ternyata banyak hal berharga yang telah aku lewatkan begitu saja. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri kawan, kesenangan dunia itu, obsesi telah membuat hatiku buta kawan.
dengan kehidupan normal seperti itu ternyata banyak hal berharga yang telah aku lewatkan begitu saja. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri kawan, kesenangan dunia itu, obsesi telah membuat hatiku buta kawan.
***
Kenapa
kita harus takut akan masa depan? kenapa kita takut akan miskin? kenapa
kita takut akan kegagalan? bukankah hidup ini sementara kawan.. lalu
apakah kita hanya akan terpaku dalam egoisme dunia saja. Apakah kalian
tahu di luar sini kehidupan begitu bermakna, begitu bebas begitu indah.
Aku bisa menebak keseharian kalian, Pagi-pagi kalian bangun lalu
berangkat sekolah/kuliah/kerja lalu pulang dengan membawa beban pikiran
baik itu tugas sekolah/kuliah atau pekerjaan dan kalian memikirkan beban
tersebut sampai menjelang tidur malam kalian dan itu akan berulang
sampai beberapa tahun kemudian. Lalu beberapa tahun kemudian kalian
menikah mencari kerja/uang dan beban tersebut masih kalian bawa sampai
kalian membusuk di liang lahat.
Lalu
mungkin kalian berpikir apa yang telah kalian lakukan/kerjakan itu
salah? aku menjawab tidak, tapi kalian melewati begitu banyak sesuatu
yang berharga dalam hidup kalian. kalian bak ubahnya robot-robot yang
telah di set otomatis atau bisa juga kalian diumpamakan hewan-hewan
peliharaan yang melewati hari-hari begitu saja dan hanya menunggu sang
penggembala menyembelih kalian saja. Egoisme nafsu dan selalu merasa
kurang dalam urusan dunia itulah beban yang aku maksudkan di atas.
Aku
bukanlah mengajak kalian mengikuti jejaku, tapi yang aku maksudkan
warnailah hidup kalian, lihatlah sekeliling kalian. Coba sesekali mampir
lah ke rumah tetangga kalian berbagilah bersama mereka. Lalu hiduplah
bagai air yang mengalir jangan sampai ego mengalahkan hati dan pikiran
kalian. Sesekali ajaklah istri/kawan/keluarga kalian pergi ke Desa,
lihatlah ketika petani memanen padi mereka, lihatlah peluh yang dia
keluarkan, lihatlah jarinya hampir putus ketika memanen padi, lihatlah
senyum tulus mereka yang walau hanya mendapatkan upah 20% dari hasil
keringat dan darahnya selama 4 bulan bekerja di sawah. Lihatlah nenek
tua itu ia hidup sendiri tak bersuami dan tak bersanak saudara, ia
mengumpulkan jerami-jerami padinya sendiri, napas-nya tersengal diantara
lelah dan teriknya sinar mentari tapi dia masih akan selalu tersenyum
dan berbagi bersama kalian ketika kalian bertamu ke rumah-nya yang
reyot.
***
Sekarang
aku singgah di kabupaten Kerawang, sudah setahun ini aku berada
di-sini. aku tinggal dari desa ke desa lainnya. Banyak yang bisa kulihat
di-sini ada tengkulak-tengkulak padi yang menjerat petani dengan
permainan harganya, ada orang-orang kaya yang membeli lahan-lahan
persawahan dengan harga tinggi diantara kemiskinan yang menjepit para
petani tersebut, tak ketinggalan juga para pemodal yang mendirikan
lumbung-lumbung industri bagi kepentingannya sendiri. Maka jangan heran
jika kalian melihat mampir ke kota ini 1001 kesemrawutan terlihat jelas
di-sini.
Tengkulak,
tuan tanah, korban kekerasan TKW, Pemulung, Lintah darat, dan banyak
lagi yang lainnya di-sini. mungkin barangkali kalian berminat bertamu ke
rumah mereka, melihat lebih dekat kehidupan negeri kalian ini. Aku
hanya bisa berbagi cerita saja semoga hidup kalian lebih berwarna dan
bermakna.
Sekarang sudah jam enam pagi dan sepertinya aku harus kembali melanjutkan pengembaraanku.
About author
About author
Name Odang Rodiana
Job Freelancer
Job Freelancer






