You Are Here: Home - puisi - Benarkah Wajar Jika Ada Kenaikan Harga Di Negeri Ini ??

Penulis (Noni Noy)
Puisi yang di tulis oleh Linda Djalil yang berjudul "Paduka, Benarkah Wajar Jika Ada Kenaikan Harga Di Negeri Ini ??" menurut saya bagus sekali. Mungkin bisa mewakili perasaan-perasaan kita sebagai orang kecil yang menganggap bahwa hidup ini sudah sangat susah, maka jangan dibuat susah lagi dengan kau naikkan harga-harga sembako, dsb di negeri ini. Toh cuma harga-harga kan yang naik? Gaji atau pendapatan kita tidak ikut naik !! Ddduuhhh,,, ada apa dengan negeriku, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.. Tapi, sambil berpikir dan merenung, toh saya belum memberikan kontribusi apa-apa kepadamu negeriku. Malah kadang saya juga masih saja menikmati fasilitas-fasilitas negara secara tidak bertanggung jawab, masih bisa tidur di hotel berbintang dengan di biayai negara, masih bisa jalan-jalan naik pesawat terbang (hebat lo bisa terbang) dengan dibiayai negara. Hhuufff,, jadi dilema buat saya pribadi. Kadang saya malah merasa kasian dengan pengemis-pengemis dijalanan, tapi saya cuma merasa kasian, sementara pada saat saya mengasihani mereka itu, saya sedang berada dalam mobil atau di atas motor tanpa memberikan apa-apa kepada mereka. Sekalinya benar-benar ingin memberikan sesuatu, saya memberikan beberapa tusuk sate kambing yang tidak habis termakan kepada nenek-nenek dipinggir jalan. Astagfirullah Hal Adzmin, bagaimana kalau darah nenek itu naik dan terjadi apa-apa dengannya. Maafkan saya nek, mungkin saya harus lebih banyak belajar untuk bisa lebih menghargai, untuk bisa lebih berempati kepada orang lain, dan untuk bisa lebih memberikan yang terbaik.

Paduka, Benarkah Wajar Jika Ada Kenaikan Harga Di Negeri Ini ??

By. Linda Djalil


Pusing kepala...
Mual diperut menyodok tajam
Selera menyeruput teh hangat hilang sudah
Menelan ubi rebus pun terasa tak nyaman

Terbelalak saya tanpa kata
Pagi-pagi membuat keindahan menjadi sirna
Semua gara-gara paduka berkata
"Wajar, jika ada kenaikan harga di negeri ini"

Duh, paduka
Tajamnya lidah tiada tertera
Sadarkah semua menjadi sebuah serpihan kaca
Yang mengiris sembilu sejuta rasa
Dan membuat hati orang menjadi tambah berduka

Wajar jika ada kenaikan harga di negeri ini

Bagi yang tak pernah merasakan masuk ke pasar becek bau air kali
Bersuasana orang-orang yang berbelanja tawar menawar ngotot sekali

Wajar bila diukur dari siapa...
Dari orang-orang yang hidupnya meruah
Dari orang-orang yang tak pernah merasakan merogoh saku untuk membayar rekening listrik air telefon bahkan ongkos rumah sakit
Karena semua sudah dibiayai negara?

Wajar dilihat dari kacamata siapa ?
Dari orang-orang yang hidup bertabur fasilitas dari pajak rakyatnya..
Atau wajar dilihat dari para nyonya yang punya tas Hermes seharga seratus tiga puluh juta
Yang tiap hari dipakai dengan berganti warna ?

Paduka,
Jangan berharap orang akan menyingkap rasa cinta
Apabila paduka juga tiada cinta
Jangan pula ada yang menganggap permohonan adalah sebuah perbuatan hina dina
Kalau orang menetap tinggal jauh dari pijakan negeri muasalnya

Wajar jika ada kenaikan harga di negeri ini..
Mungkin bila dilihat dari para orang tua
Yang dengan mudah mengeluarkan milyaran-milyaran untuk pesta pernikahan anaknya
Wajar bila diukur dari berbagai merk mobil supermewah yang berderet di garasinya...
Ah paduka, jangan menganggap pernyataan ini sebuah hal nyinyir dan perumpamaan bahwa iri tanda tak mampu..
Benarkah seperti itu ?

Paduka,
Betapa masih banyak manusia melata
Yang tak jauh tinggal dari istana...
Yang sangat jauh pula dari kata-kata "Wajar jika ada kenaikan harga"
Sebab tanpa itu pun
Mereka sudah sengsara...

Paduka membuat selera sarapan pagi saya tadi buyar sebuyar-buyarnya
Sebab meski saya masih bisa menikmati penganan lezat
Tak berani setitik pun saya lancang berkata..
Untuk meluluh lantahkan musim
Padahal yang mutlak diperbaiki adalam sistem
Juga memperbaiki tutur kata..
Agar tidak menambah orang-orang miskin terluka..
Dan jangan lagi menambah orang-orang miskin terkuka.
Tags: puisi