• q
  • z
  • 2
  • 1


Dengan ransel yang sarat beban, penuh semangat sang pecinta alam mendaki gunung, tidak peduli dengan cuaca, tidak peduli dengan dengan medan yang terjal, tersimpan satu tujuan, mencapai puncak. Hamparan alam yang indah, terlihat jelas di puncak gunung, dselimuti hawa dingin dan semilIr angin, ketangguhanmu sungguh menakjubkan, kawan. . . . .

Tetapi, ketika terjadi penggundulan hutan, ketika terjadi penambangan, dimanakah dirimu ???

Berbalut pendidikan pendakian, berselimut teor-teori alam bebas, kau berkilah dengan sejuta dalil ilmiah pengecut, , ,

Sungguh, senyummu semu, KAWAN . . .

KALAH DALAM BERJUANG LEBIH TERHORMAT DARIPADA MENGHINDAR

Cinta dan Pembebasan

Sendiri, aku bisa menjalani,

Untuk sekeping mimpi

Berdua, tapak kaki kami bertambah kokoh,

Mimpi kami semakin liat

Akan tetapi dunia tak semata milik kami

Jadi, tak hendak kutumpuk mimpi indah sendiri-sendiri

Di tengah gelimang darah dan kezaliman tiada henti

Mimpi kami adalah mimpi setiap insan yang sedar
Ibu jangan menangis lagi...
Karena tangismu, adalah pilu bagiku

Ibu jangan menangis lagi...
Karena tangismu, membuat tidurku selalu terjaga

Ibu jangan menangis,..
Biarkanlah kakiku melangkah mencari arti kehidupan

Hapuslah air matamu..
Karena t'lah seringkali kau menangis

Disini aku seorang diri
Tapi do'a-mu selalu menemani kesendirianku

Aku kini dirantau..
namun hatiku t'lah kutinggalkan untukmu

"Anakmu tersayang"

By. Frau
Re-Pubilsh Nony Noy




Di rentang waktu yang berjejal dan memburai

Kau berikan

Sepasang tanganmu terbuka dan membiru
 
Enggan
Di gigir yang curam dan dunia tertinggal
Gelap membeku
Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan
Di rentang waktu yang berjejal dan memburai
Kau berikan
Sepasang tanganmu terbuka dan membiru
Enggan
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang
Ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan
Jalan pulang yang menghilang
Tertulis dan menghilang,
karena kita, telah bercinta di luar angkasa
Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang,
karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa

Penulis (Noni Noy)
Puisi yang di tulis oleh Linda Djalil yang berjudul "Paduka, Benarkah Wajar Jika Ada Kenaikan Harga Di Negeri Ini ??" menurut saya bagus sekali. Mungkin bisa mewakili perasaan-perasaan kita sebagai orang kecil yang menganggap bahwa hidup ini sudah sangat susah, maka jangan dibuat susah lagi dengan kau naikkan harga-harga sembako, dsb di negeri ini. Toh cuma harga-harga kan yang naik? Gaji atau pendapatan kita tidak ikut naik !! Ddduuhhh,,, ada apa dengan negeriku, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.. Tapi, sambil berpikir dan merenung, toh saya belum memberikan kontribusi apa-apa kepadamu negeriku. Malah kadang saya juga masih saja menikmati fasilitas-fasilitas negara secara tidak bertanggung jawab, masih bisa tidur di hotel berbintang dengan di biayai negara, masih bisa jalan-jalan naik pesawat terbang (hebat lo bisa terbang) dengan dibiayai negara. Hhuufff,, jadi dilema buat saya pribadi. Kadang saya malah merasa kasian dengan pengemis-pengemis dijalanan, tapi saya cuma merasa kasian, sementara pada saat saya mengasihani mereka itu, saya sedang berada dalam mobil atau di atas motor tanpa memberikan apa-apa kepada mereka. Sekalinya benar-benar ingin memberikan sesuatu, saya memberikan beberapa tusuk sate kambing yang tidak habis termakan kepada nenek-nenek dipinggir jalan. Astagfirullah Hal Adzmin, bagaimana kalau darah nenek itu naik dan terjadi apa-apa dengannya. Maafkan saya nek, mungkin saya harus lebih banyak belajar untuk bisa lebih menghargai, untuk bisa lebih berempati kepada orang lain, dan untuk bisa lebih memberikan yang terbaik.

Paduka, Benarkah Wajar Jika Ada Kenaikan Harga Di Negeri Ini ??

By. Linda Djalil


Pusing kepala...
Mual diperut menyodok tajam
Selera menyeruput teh hangat hilang sudah
Menelan ubi rebus pun terasa tak nyaman

Terbelalak saya tanpa kata
Pagi-pagi membuat keindahan menjadi sirna
Semua gara-gara paduka berkata
"Wajar, jika ada kenaikan harga di negeri ini"

Duh, paduka
Tajamnya lidah tiada tertera
Sadarkah semua menjadi sebuah serpihan kaca
Yang mengiris sembilu sejuta rasa
Dan membuat hati orang menjadi tambah berduka

Wajar jika ada kenaikan harga di negeri ini

Bagi yang tak pernah merasakan masuk ke pasar becek bau air kali
Bersuasana orang-orang yang berbelanja tawar menawar ngotot sekali

Wajar bila diukur dari siapa...
Dari orang-orang yang hidupnya meruah
Dari orang-orang yang tak pernah merasakan merogoh saku untuk membayar rekening listrik air telefon bahkan ongkos rumah sakit
Karena semua sudah dibiayai negara?

Wajar dilihat dari kacamata siapa ?
Dari orang-orang yang hidup bertabur fasilitas dari pajak rakyatnya..
Atau wajar dilihat dari para nyonya yang punya tas Hermes seharga seratus tiga puluh juta
Yang tiap hari dipakai dengan berganti warna ?

Paduka,
Jangan berharap orang akan menyingkap rasa cinta
Apabila paduka juga tiada cinta
Jangan pula ada yang menganggap permohonan adalah sebuah perbuatan hina dina
Kalau orang menetap tinggal jauh dari pijakan negeri muasalnya

Wajar jika ada kenaikan harga di negeri ini..
Mungkin bila dilihat dari para orang tua
Yang dengan mudah mengeluarkan milyaran-milyaran untuk pesta pernikahan anaknya
Wajar bila diukur dari berbagai merk mobil supermewah yang berderet di garasinya...
Ah paduka, jangan menganggap pernyataan ini sebuah hal nyinyir dan perumpamaan bahwa iri tanda tak mampu..
Benarkah seperti itu ?

Paduka,
Betapa masih banyak manusia melata
Yang tak jauh tinggal dari istana...
Yang sangat jauh pula dari kata-kata "Wajar jika ada kenaikan harga"
Sebab tanpa itu pun
Mereka sudah sengsara...

Paduka membuat selera sarapan pagi saya tadi buyar sebuyar-buyarnya
Sebab meski saya masih bisa menikmati penganan lezat
Tak berani setitik pun saya lancang berkata..
Untuk meluluh lantahkan musim
Padahal yang mutlak diperbaiki adalam sistem
Juga memperbaiki tutur kata..
Agar tidak menambah orang-orang miskin terluka..
Dan jangan lagi menambah orang-orang miskin terkuka.

Join with us