• q
  • z
  • 2
  • 1

Kita adalah kita, bukan orang tua kita. Sebagian dari kita mungkin berpikir bawasannya sebagai anak sudah sepatutnya kita meniru orang tua kita. Mungkin pendapat itu benar, tapi menurutku tidak, bagaimanapun juga kehidupan kita dan kehidupan orang tua kita adalah berbeda. Walaupun keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat, namun tetap saja keduanya berbeda. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa contoh yang terjadi disekitar kita seperti seorang anak ustad yang terkena razia film porno disekolahnya, ataupun anak maling yang menjadi Da’i. Kenapa anak ustad bisa menyimpan film porno sedangkan anak maling bisa jadi da’i, semua itu karena mereka menyadari bahwa hidup mereka adalah hidup mereka, yang tidak tergantung pada kehidupan orang tua mereka.

***

Seperti halnya banyak hal lain didunia, pandangan bahwa  sebagai anak harus meniru orang tua juga mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Sisi baiknya adalah jika orang tua mampu menjadi contoh yang baik bagi anaknya, sehingga orang tua mampu membaikkan anak mereka. Sedangkan sisi buruknya adalah jika orang tua adalah manusia yang buruk dan gagal, apa anak mereka harus meniru? Tentunya tidak. Sisi buruk lainnya adalah anak akan cenderung mudah terpengaruh dengan apa-apa yang terjadi pada orang tuanya.Banyak contoh disekitar kita yang bisa membuktikan hal tersebut, seperti anak yang putus sekolah karena orang tua tidak mampu membiayai, atau anak yang malas belajar karena tidak disuruh orang tua dan yang lebih parah lagi adalah yang sering terjadi di keluarga “Broken Home”. Keluarga yang broken home sering dijadikan anak untuk menjadi badboy atau badgirl, mereka selalu menggunakan alasan klasik seperti orang tua yang bercerai, ayah yang menikah lagi, pertengkaran orang tua dan yang lain lagi untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya merusak diri dan masa depan mereka, bukankah itu bodoh?

***
Sangat saya sadari bawasannya pengaruh orang tua terhadap hidup anaknya sangat besar, namun sebesar apapun pengaruh yang merubah kita, kita akan tetap bisa menolaknya, Caranya? Dengan menjadi diri sendiri. Memang tidak mudah untuk bisa survive dengan keadaan keluarga yang broken home, namun ada yang harus kita sadari, pertama, orang tua memiliki kehidupannya sendiri. Mereka punya kepentingan yang terkadang memaksa untuk mengesampingkan kita sebagai anaknya. Kedua, sebagai anak, kitalah yang bertanggung jawab terhadap hidup kita, kita tidak bisa terus-terusan bergantung dan berharap pada orang tua dan suatu saat kita memang harus sejenak melupakan “Siapa orang tua kita” untuk menemukan siapa sebenarnya diri kita dan untuk tetap menjadi manusia yang baik tanpa mempedulikan latar belakang orang tua dan keluarga. Terkesan “durhaka” memang, namun dengan menyadari 2 hal diatas, kita akan selalu berfokus pada tujuan hidup kita, menjadi manusia yang baik dan membaikkan, menjadi manusia yang sukses, dan menjadi diri kita sendiri tanpa perlu terpengaruh masalah-masalah orang tua yang sebenarnya bukan masalah kita.

***

“Kita adalah kita, bukan orang tua kita, Because to be the best, is to be our selves..”

Surakarta, 9 November 2011

Penulis : Bima E'ricka Handoko
Kontributor di : www.baujamban.com

Author : Odang Rodiana

Roman cinta ternyata bukan hanya dimiliki sepasang kekasih fiksi antara Om Garong dan Ajeng dalam Roman cinta ECR,namun juga ada seorang lelaki baya yang tak pernah tercatat dalam Diary kisah Fiksi Desa rangkat . ternyatalelaki tua menyimpan misteri cinta yang begitu dalam. "Einstein berfirman E=MC² : Semaikn lama ia memendam cinta, semakin kuat pula rasa cinta tersebut".
***

Jika kalian mampir ke Desa Rangkat lihatlah jauh disudut Desa, melewati ratusan hektar pematang sawah, di kaki Gunung Naras. Ada sebuah danau yang begitu indah, airnya yang jernih, terlihat riak ikan air tawar yang berebut mencari makan. Lelaki  tua itu tinggal dalam sebuah rumah tua yang beratapkan ilalang, dindingnya terbuat dari kayu rasamala dan lantainya beralaskan tanah. Aku juga tidak tahu usia lelaki tua itu tetapi yang pasti sorot matanya menyimpan sebuah misteri yang sudah lama terpendam dalam usianya yang sudah senja.
***

Aku hanya bertemu dengannya dua kali pertama ketika ku turun dari puncak Gunung Naras. Ketika itu aku lihat ia duduk termenung melihat merahnya matahari sore, dengan tatapan mata yang kosong serta jiwanya yang pergi jauh ke masa lalu. Seulas senyum sepertinya sudah cukup ia berikan kepada orang asing sepertiku yang berlalu begitu saja.

Kedua kalinya aku bertemu denganya hari. Hari ini dia masih tersenyum, sedikit berbeda senyumnya hari ini. begitu tulus, begitu polos, begitu indah seakan misteri hidupnya sudah terjawab. Dengan wajah pucat pasi dan

Join with us