Dibawah sistem kapitalisme, elit politik borjuasi telah gagal mensejahterakan rakyat. Bangun kekuatan rakyat yang progressif dibawah kepemimpinan kelas buruh yang progressif
Oleh : Kiky Seza A
Oleh : Kiky Seza A
Telah terlihat jelas kegagalan kapitalisme dalam mensejahterakn rakyatnya. Terbukti dengan penetapan upah minum buruh yang jauh dari kebutuhan hidup layak, hal itu bukan semata mata ketidak mampuan para elit politik dalam mensejahterakan kaum buruh melainkan Dalam posisi negara sebagai alat kepentingan klas pemodal mengartikan bahwa setiap rezim yang berkuasa akan terus bekerja keras untuk menjalankan program-proogram liberalisasi.
Bukan hanya disektor perburuhan, namun kegagalan kapitalisme juga dapat dilihat pada sector- sector lainnya. Seperti Indosat, Pertamina, PLN, Freeport yang sesungguhnya merupakan asset dalam negeri. Namun semuanya telah di liberalisasikan dan Indonesia hanya mendapat bagian kecilnya bahkan tidak sama sekali.Bahkan sector pendidikan yang selayaknya bukanlah merupakan sector ekonomi manapun karena mengingat UUD 45’ pasal 31 yang mendefinisikan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara ternyata telah di liberalisasikan pula dalam UU SISDIKNAS NO.20 TH 2003.
Rakyat semakin jauh dari kesejahteraan
Majalah bisnis ternama AS, Global Finance, merilis peringkat 182 negara di dunia berdasarkan tingkat produk domestik bruto (PDB) per kapita. Dari negara yang paling miskin hingga negara yang paling kaya sejagat. Berdasarkan data ranking 182 negara tersebut, Indonesia berada di urutan ke 122 dengan PDB per kapita US$4.380 atau Rp39,4 juta per tahun.
Hal tersebut diperparah dengan lahirnya UU Intelejen, UU Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Publik (UU PTUP). Yang kesemua undang undang tersebut bisa kita lihat dampaknya pada kasus di lampung, bima, papua dan beberapa kota lainnya yang terjadi perampasan lahan rakyat oleh pemodal. Hal tersebut jelas akan mematikan nafas rakyat kecil dalam mencari nafkah.
Solusi pergerakan rakyat
Represifitas atas rakyat kecil akan terus terjadi baik secara fisik, materiil Maupun psikologis. Maka hanya dengan kekuatan massa yang progressif di bawah kepemimpinan kelas buruh yang progressif pula kita bias melawannya. Karena selama sisytem kapitalisme masih bercokol di negeri ini tidak akan ada negosiasi yang menghasilkan kesejahteraan rakyat tanpa adanya dorongan dari kekuatan masa.
Dan perjuangan dari kelas buruh, petani, mahasiswa, maupun kaum miskin kota sesungguhnya berada pada satu titik permasalahan yang sama, yaitu system kapitalisme yang mengatur negeri ini dan terbukti gagal dalan mensejahterakan rakyat.
Maka dari itu SMI cabang Bekasi menghimbau unuk segera membangun kekuatan massa rakyat yang progressif untuk membebaskan negeri ini dari cengkraman kapitalisme dan persatukan perjuangan semua sector.
Solusi untuk kesejahteraan rakyat
Dan solusi untuk mensejahterakan rakyat adalah
- wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis serta bervisi kerakyatan
- nasionalisasikan asset- asset vital bangsa
- bangun industri yang kuat dan mandiri dibawah control rakyat
- laksanakan reforma agrarian sejati
Di Bantaeng, Sulawesi Selatan, seorang bayi perempuan berusia delapan bulan, diculik dan diperkosa! NF, si bocah malang itu diculik pada Jumat tengah malam, 28 Mei 2011. 13 jam kemudian, ia ditemukan oleh seorang nelayan, dalam kondisi terikat di sebuah perahu kosong. Darah mengucur dari alat vitalnya.
Berita tersebut pertama kali dilansir oleh Metrotvnews.com pada akhir Mei 2011. Membaca judulnya saja sudah membuat gemetar. Tak kuasa membayangkan bagaimana remuknya hati sang ibu, Sulastri, saat bayi yang sedang terlelap di sisinya itu tiba-tiba raib, dan esok harinya ditemukan dalam kondisi demikian mengenaskan.
Peristiwa keji ini sontak memicu amarah warga kabupaten Bantaeng. Lebih dari 3.000 orang menggelar aksi mendesak polisi segera menuntaskan kasus penculikan sekaligus pemerkosaan anak yang marak terjadi di kabupaten tersebut. (Metrotvnews.com (6/6). Sebagai informasi, dalam beberapa bulan terakhir, terjadi beberapa kasus penculikan anak di daerah tersebut. Namun, kasus terakhir yang menimpa bayi inilah yang paling menghebohkan, lantaran disertai indikasi perkosaan.
Sayang, kejadian miris ini tak terlalu bergaung di media massa, hanya koran-koran lokal dan sebuah televisi nasional yang memberitakan. Media lainnya lebih riuh oleh berita tentang M. Nazaruddin dan Nunun Nurbaeti, dua tersangka korupsi yang kabur ke luar negeri, dengan akal-akalan yang sama, sakit. Media juga lebih tertarik membombardir publik dengan sakit radang payudara Malinda Dee, karyawan Citibank yang membobol 17 miliar uang nasabahnya.
Berita di luar nalar manusia ini, sayup-sayup menerobos relung nurani lewat ruang jejaring sosial. Semua orang mendidih hatinya. Tak sanggup menalar, bagaimana seorang manusia dapat melakukan tindak biadab seperti itu? Sebagai bentuk simpati, beberapa ibu memelopori menggalang dukungan melalui twitter dengan hastag #charity4Nurfadilah. Beberapa dari mereka juga datang langsung ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, tempat si bayi dirawat dan mengupayakan penanganan yang lebih memadai.
Peristiwa ini, sekaligus menjungkirbalikkan bermacam stigma diskriminatif yang kadung melekat di masyarakat. bahwasanya, dalam kasus pelecehan seksual dan perkosaan, perempuan lah yang kerap dipersalahkan. “Oh pantas, dia berbaju seksi,” atau “dianya sih yang menggoda!” Saat korban melaporkan ke kepolisian pun, serta-merta akan diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kalah menyakitkan dari perkosaan itu sendiri. Belum lagi berhadapan ‘kejamnya’ pemberitaan media, yang acapkali tidak sensitive terhadap perempuan korban.
Kini, masih berlakukah stigma ‘perempuan penggoda’, ketika seorang bayi tanpa daya pun diperkosa?
Kuasa dan Perkosa
Memperkosa berarti menundukkan. Berkehendak untuk menguasai. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya berhulu pada adanya relasi kuasa yang tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki, yang kemudian dilanggengkan dengan budaya, stereotype, maupun kebijakan negara yang tidak berpihak pada perempuan.
Dalam alam patriarki, perkosaan menjadi alat teror paling efektif untuk menghancurkan perempuan. Sejarah Indonesia sendiri merekam banyak jejak hitam kekerasan pada perempuan. Tengoklah kisah-kisah getir para jugun ianfu, perempuan yang menjadi budak seks pada masa penjajahan Jepang.
Zaman Orde Baru, jejak kekerasan terhadap perempuan dengan latar politik membentang terutama di daerah-daerah konflik. Di Aceh, Timor Leste, hingga Papua, berderet kisah menyesakkan para perempuan yang dilecehkan, diperkosa tentara dan ditinggal begitu saja. Tak terhitung pula yang akhirnya dibunuh guna menutup rapat bau anyir kekejaman ini.
Laporan Akhir Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR) tahun 2005 merekam ratusan kesaksian perempuan yang diperkosa di instalasi-instalasi resmi militer. Belum kering dari ingatan kita, perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa pada peristiwa kerusuhan Mei 1998, sebagaimana hasil penyelidikan TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), yakni tim penyelidik yang dibentuk untuk mengusut kasus Kerusuhan Mei 1998.Para korban ini harus memikul luka batin yang begitu dahsyat, sepanjang hidupnya.Atau, bagaimana Marsinah, seorang buruh perempuan dari Sidoarjo yang gigih memprotes ketidakadilan di pabriknya itu diculik dan dihajar hingga tewas pada 1993? Pangkal pahanya hancur akibat hantaman benda keras berkali-kali.
Tak terbayangkan pula goresan luka yang dialami para aktivis Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang dituding oleh rezim Orde Baru terlibat dalam Gerakan 30 September yang membunuhi jenderal-jenderal. Mereka disiksa, dilecehkan, diperkosa. Salah seorang yang bersikukuh menolak fitnah tersebut, dihajar habis-habisan. Rahimnya disiksa hingga remuk dan berdarah-darah.
Kenapa perkosaan dijadikan modus? Kenapa vagina, organ reproduksi dan seksual perempuan ini harus diserbu demikian ganasnya? Negara memperkosa tubuh dan pikiran perempuan dengan berbagai cara. Politik seksualitas Negara telah menempatkan tubuh perempuan sebagai yang patut dipersalahkan. Karenanya, ia harus dijadikan sasaran berbagai macam aturan.
Perempuan ditata mulai dari cara berpakaian hingga bertingkah laku. Komnas Perempuan mencatat, hingga 2009 terdapat 154 kebijakan yang diskriminatif, dan 63 diantaranya mendiskriminasikan perempuan. Aturan-aturan yang meletakkan moralitas dan simbol agama sebagai hukum itu terus-menerus diproduksi untuk menertibkan perempuan, memasung pikiran-pikiran perempuan. Tapi kita lupa akar sebenarnya, pikiran laki-laki yang tak sanggup dibenahi.
Perempuan ditata mulai dari cara berpakaian hingga bertingkah laku. Komnas Perempuan mencatat, hingga 2009 terdapat 154 kebijakan yang diskriminatif, dan 63 diantaranya mendiskriminasikan perempuan.
Aturan-aturan yang meletakkan moralitas dan simbol agama sebagai hukum itu terus-menerus diproduksi untuk menertibkan perempuan. Memasung pikiran-pikiran perempuan. Tapi kita lupa akar sebenarnya, pikiran laki-laki yang tak sanggup dibenahi.
Kini, kita musti bersiaga lagi dengan kondisi yang semakin gawat. Fundamentalisme agama yang merasuk hingga ruang-ruang privat. Yang telah mengikis nalar dan memaksa manusia menanggalkan perasaannya, sehingga kemudian menjadi kebas menyaksikan kekejian demi kekejian berseliweran di depan mata.
Anak-anak kita, seharusnya dapat menikmati masa kanaknya dengan riang gembira, Bermain, bersekolah dan belajar dari kehidupan secara aman. Tanpa didera rasa takut dan was-was. Namun, di sudut negeri ini, di Bantaeng, ternyata seorang bayi bisa terenggut di rumahnya sendiri. Diculik. Diperkosa. Dirusak kehidupannya. Kita diburu oleh teror seksual, hingga ke bilik pribadi kita sendiri. Kita benar-benar sedang di tubir petaka kemanusiaan yang sebenarnya. ***
Lilik HS, Anggota Klub Feminis-Queer Menulis, Jakarta
Berita tersebut pertama kali dilansir oleh Metrotvnews.com pada akhir Mei 2011. Membaca judulnya saja sudah membuat gemetar. Tak kuasa membayangkan bagaimana remuknya hati sang ibu, Sulastri, saat bayi yang sedang terlelap di sisinya itu tiba-tiba raib, dan esok harinya ditemukan dalam kondisi demikian mengenaskan.
Peristiwa keji ini sontak memicu amarah warga kabupaten Bantaeng. Lebih dari 3.000 orang menggelar aksi mendesak polisi segera menuntaskan kasus penculikan sekaligus pemerkosaan anak yang marak terjadi di kabupaten tersebut. (Metrotvnews.com (6/6). Sebagai informasi, dalam beberapa bulan terakhir, terjadi beberapa kasus penculikan anak di daerah tersebut. Namun, kasus terakhir yang menimpa bayi inilah yang paling menghebohkan, lantaran disertai indikasi perkosaan.
Sayang, kejadian miris ini tak terlalu bergaung di media massa, hanya koran-koran lokal dan sebuah televisi nasional yang memberitakan. Media lainnya lebih riuh oleh berita tentang M. Nazaruddin dan Nunun Nurbaeti, dua tersangka korupsi yang kabur ke luar negeri, dengan akal-akalan yang sama, sakit. Media juga lebih tertarik membombardir publik dengan sakit radang payudara Malinda Dee, karyawan Citibank yang membobol 17 miliar uang nasabahnya.
Berita di luar nalar manusia ini, sayup-sayup menerobos relung nurani lewat ruang jejaring sosial. Semua orang mendidih hatinya. Tak sanggup menalar, bagaimana seorang manusia dapat melakukan tindak biadab seperti itu? Sebagai bentuk simpati, beberapa ibu memelopori menggalang dukungan melalui twitter dengan hastag #charity4Nurfadilah. Beberapa dari mereka juga datang langsung ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, tempat si bayi dirawat dan mengupayakan penanganan yang lebih memadai.
Peristiwa ini, sekaligus menjungkirbalikkan bermacam stigma diskriminatif yang kadung melekat di masyarakat. bahwasanya, dalam kasus pelecehan seksual dan perkosaan, perempuan lah yang kerap dipersalahkan. “Oh pantas, dia berbaju seksi,” atau “dianya sih yang menggoda!” Saat korban melaporkan ke kepolisian pun, serta-merta akan diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kalah menyakitkan dari perkosaan itu sendiri. Belum lagi berhadapan ‘kejamnya’ pemberitaan media, yang acapkali tidak sensitive terhadap perempuan korban.
Kini, masih berlakukah stigma ‘perempuan penggoda’, ketika seorang bayi tanpa daya pun diperkosa?
Kuasa dan Perkosa
Memperkosa berarti menundukkan. Berkehendak untuk menguasai. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya berhulu pada adanya relasi kuasa yang tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki, yang kemudian dilanggengkan dengan budaya, stereotype, maupun kebijakan negara yang tidak berpihak pada perempuan.
Dalam alam patriarki, perkosaan menjadi alat teror paling efektif untuk menghancurkan perempuan. Sejarah Indonesia sendiri merekam banyak jejak hitam kekerasan pada perempuan. Tengoklah kisah-kisah getir para jugun ianfu, perempuan yang menjadi budak seks pada masa penjajahan Jepang.
Zaman Orde Baru, jejak kekerasan terhadap perempuan dengan latar politik membentang terutama di daerah-daerah konflik. Di Aceh, Timor Leste, hingga Papua, berderet kisah menyesakkan para perempuan yang dilecehkan, diperkosa tentara dan ditinggal begitu saja. Tak terhitung pula yang akhirnya dibunuh guna menutup rapat bau anyir kekejaman ini.
Laporan Akhir Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR) tahun 2005 merekam ratusan kesaksian perempuan yang diperkosa di instalasi-instalasi resmi militer. Belum kering dari ingatan kita, perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa pada peristiwa kerusuhan Mei 1998, sebagaimana hasil penyelidikan TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), yakni tim penyelidik yang dibentuk untuk mengusut kasus Kerusuhan Mei 1998.Para korban ini harus memikul luka batin yang begitu dahsyat, sepanjang hidupnya.Atau, bagaimana Marsinah, seorang buruh perempuan dari Sidoarjo yang gigih memprotes ketidakadilan di pabriknya itu diculik dan dihajar hingga tewas pada 1993? Pangkal pahanya hancur akibat hantaman benda keras berkali-kali.
Tak terbayangkan pula goresan luka yang dialami para aktivis Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang dituding oleh rezim Orde Baru terlibat dalam Gerakan 30 September yang membunuhi jenderal-jenderal. Mereka disiksa, dilecehkan, diperkosa. Salah seorang yang bersikukuh menolak fitnah tersebut, dihajar habis-habisan. Rahimnya disiksa hingga remuk dan berdarah-darah.
Kenapa perkosaan dijadikan modus? Kenapa vagina, organ reproduksi dan seksual perempuan ini harus diserbu demikian ganasnya? Negara memperkosa tubuh dan pikiran perempuan dengan berbagai cara. Politik seksualitas Negara telah menempatkan tubuh perempuan sebagai yang patut dipersalahkan. Karenanya, ia harus dijadikan sasaran berbagai macam aturan.
Perempuan ditata mulai dari cara berpakaian hingga bertingkah laku. Komnas Perempuan mencatat, hingga 2009 terdapat 154 kebijakan yang diskriminatif, dan 63 diantaranya mendiskriminasikan perempuan. Aturan-aturan yang meletakkan moralitas dan simbol agama sebagai hukum itu terus-menerus diproduksi untuk menertibkan perempuan, memasung pikiran-pikiran perempuan. Tapi kita lupa akar sebenarnya, pikiran laki-laki yang tak sanggup dibenahi.
Perempuan ditata mulai dari cara berpakaian hingga bertingkah laku. Komnas Perempuan mencatat, hingga 2009 terdapat 154 kebijakan yang diskriminatif, dan 63 diantaranya mendiskriminasikan perempuan.
Aturan-aturan yang meletakkan moralitas dan simbol agama sebagai hukum itu terus-menerus diproduksi untuk menertibkan perempuan. Memasung pikiran-pikiran perempuan. Tapi kita lupa akar sebenarnya, pikiran laki-laki yang tak sanggup dibenahi.
Kini, kita musti bersiaga lagi dengan kondisi yang semakin gawat. Fundamentalisme agama yang merasuk hingga ruang-ruang privat. Yang telah mengikis nalar dan memaksa manusia menanggalkan perasaannya, sehingga kemudian menjadi kebas menyaksikan kekejian demi kekejian berseliweran di depan mata.
Anak-anak kita, seharusnya dapat menikmati masa kanaknya dengan riang gembira, Bermain, bersekolah dan belajar dari kehidupan secara aman. Tanpa didera rasa takut dan was-was. Namun, di sudut negeri ini, di Bantaeng, ternyata seorang bayi bisa terenggut di rumahnya sendiri. Diculik. Diperkosa. Dirusak kehidupannya. Kita diburu oleh teror seksual, hingga ke bilik pribadi kita sendiri. Kita benar-benar sedang di tubir petaka kemanusiaan yang sebenarnya. ***
Lilik HS, Anggota Klub Feminis-Queer Menulis, Jakarta
Bahwa Indonesia harus membangunkan industri sendiri, tak ada lagi orang sekarang yang berani membantahnya. Bukan saja kemiskinan rakyat dan kelemahan Indonesia dalam pertahanannya menghendaki timbulnya industri itu, melainkan juga cita-cita ekonomi baru yang menuntut adanya kemakmuran dan tenaga pembeli pada rakyat.
Dahulu menurut ajaran liberalisme abad ke 19 orang Barat selalu mengatakan, bahwa Indonesia negeri agrarian dan mestilah mengutamakan pertanian. Industri yang dapat didirikan disini ialah industri agraria. Tapi bagi industri barang, pakaian, tempat kedudukannya di Eropa. Dan industri agraria pulalah yang dibangunkan bermula oleh kapitalisme Barat di Indonesia. Macam industrinya ditujukan kepada keperluan pasar dunia, bukan berpedoman dengan keperluan rakyat. Rakyat Indonesia hanya dipandang sebagai persediaan tenaga buruh yang murah.
Berbagai kejadian mengubahi beransur-ansur pandangan yang berat sebelah itu. Industri agraria yang begitu maju dahulu, tersangkut jalannya karena semangat proteksi diluar negeri. Krisis ekonomi yang maha hebat, yang menimpa hidup rakyat Indonesia sejak tahun 1929, menambah kemiskinan rakyat yang sudah keliwat dari pada miskin.
Dimana-mana kelihatan pengganguran, terjadi kerusuhan sosial. Selanjutnya, banyak manusia yang bertumpuk-tumpuk hidup di pulau Jawa menutup sama sekali jalan mencapai kemakmuran dengan pertanian kecil. Muslihat memindahkan rakyat berangsur-angsur ketanah Seberang tidak memberi kelonggaran, sebab jumlah orang yang dipindahkan jauh lebih kurang dari pada sejiwa setiap tahun. Rakyat Indonesia tidak lagi kekurangan kemakmuran, melainkan sama sekali tidak makmur. Mau tak mau, cita-cita industri bangun juga dimasa yang lalu.
Sekarang kapitalisme Belanda, yang mengalang-alangi selama ini timbulnya industri rakyat di Indonesia, sudah hilang pelindungnya. Politik bumi angus menghancurkan sendirinya apa yang dibangunkannya dengan bersusah payah dahulu. Karena itu terbuka jalan dan pikiran untuk memikirkan kedudukan industri Indonesia, yang menimbulkan kemakmuran bagi rakyat. Indonesia mesti menjadi negeri industri dengan tiada melengahkan pertanian. Pertanian dan industri mesti berimbang!
Banyak jalan untuk mendirikan industri. Tetapi yang penting bagi rakyat ialah: Jalan mana?
Industri dapat di dirikan dengan inisatif orang partikulir, seperti sedia kala. Industri semacam itu banyak membawa kemelaratan dan sedikit membawa bahagia bagi rakyat. Ia akan dikuasai oleh kapitalis asing, sebab orang asinglah yang mempunyai kapital. Kalau industry ditangan orang partikulir, kedudukannya dan macamnya bergantung kepada perhitungan keuntungan mereka. Inisiatif partikulir senantiasa berpedoman pada keuntungan. Macam industri yang bakal menimbulkan keuntungan besar, itulah yang didirikan. Soal kemakmuran rakyat tinggal dibelakang, Jadinya, usaha membangunkan dan menyusun industri yang akan menyebarkan kemakmuran kepada rakyat, tak dapat diserahkan kepada inisiatif partikulir sama sekali.
Industry dapat juga dibangun sebagai usaha campuran. Pemerintah, jadinya negara atau bagian-bagiannya sama-sama berserta dengan kapitalis partikulir. Pembangunan industry semacam ini ada juga diajukan orang pada beberapa negeri. Juga pemerintah Hindia Belanda dimasa yang lalu menuju kearah ini, dengan menentukan bagian orang partikulir lebih banyak.
Kesukaran bangunan industri semacam itu ialah fasal kedudukan orang partikulir tadi dalam pergabungan itu. Jika pesertanya diperbanyak dalam hal kapital saja, hal ini tidak mengkuatirkan. Yang terutama bagi kedudukan industri ialah pimpinan. Pada pimpinan hendaklah lebih besar pengaruh pemerintah. Ini maksudnya supaya industri terutama diatur untuk membela kepentingan umum, dan tidak semata-mata bagi mereka yang mempunyai kapital-pesertaan. Tetapi sukakah kaum kapitalis partikulir dbelakangkan dalam hal pimpinan? Tujuannya menyertai perusahaan ialah mengharapkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Harapan itu dapat makbul, apabila pimpinan sama sekali ditangannya. Jika tidak, putuslah harapannya. Sebab itu kaum kapitalis biasanya enggan menyertai perusahaan campuran, yang pimpinannya dikuasai pemerintah.
Industri boleh juga dibangunkan sebagai industri pemerintah. Industri besar, apalagi yang disebut vital, yang menguasai menguasai penghidupan orang banyak, memang sebaik-baiknya di tangan pemerintah. Perusahaan Kereta Api, Listrik. Gas dan Air, Tambang berbagai rupa, semuanya itu hendaklah di urus oleh pemerintah sendiri. Kapitalnya boleh diambil dari uang pajak dan juga dari pinjaman yang berjangka lama. Asal diatur pembangunanya menurut plan, keberatan tanggungan pajaknya dapat dibagi sama rata dari tahun ke tahun.
Orang sering kuatir, bahwa perusahaan pemerintah di pimpin secara birokrasi. Itu tidak perlu dan tidak mesti! Tidak ada yang lebih berbahaya bagi industry dan dagang dari pada semangat birokrasi. Juga industri yang bekerja dibawah pimpinan pemerintah bisa berpedoman dengan dasar ekonomi atau dasar komersil sekalipun. Ini tergantung kepada mereka yang di angkat jadi pimpinannya. Kemajuan beberapa perusahaan negeri, istimewa kereta api, memperlihatkan bahwa salah benar sangka orang yang mengatakan, bahwa industry negeri tidak bisa berhasil. Orang yang menyangka begitu, banyak yang memandang amtener sebagai pegawai buro, yang lalai dan perlahan bekerja. Orang lupa, bahwa tindakan orang dalam pekerjaan sangat terpengaruh oleh lingkungannya bekerja. Sistim buro membawa orang bekerja tenang. Tapi industry dan dagang menghendaki aktivitet dan inisiatif senantiasa. Amtenar yang lalai di buro bisa menjadi aktif dalam perusahaan. Prof. Goudriaan sendiri mengakui dalam pidatonya tentang “Rationalisatie in particuliere en Overheidsbedrijiven” dalam tahun 1929, bahwa juga amtenar cakap memimpin perusahaan, asal dipilih orang yang punya pembawaan. Perusahaan pemerintah hanya kalah dengan perusahaan partikulir dalam hal memberikan gaji. Pada pemerintah gaji lebih rendah, sebab itu kurang menarik. Tetapi jika terpilih orang yang cakap serta idealis, faktor gaji itu tidak penting lagi. Sebab itu bagi kemajuan Indonesia dan kemakmuran rakyatnya lebih baik industry besar ditangan negara. Industri pemerintah lebih baik dari pada industry bangsa asing. Juga lebih baik dari pada industry partikulir bangsa Indonesia yang hanya mengingat keuntungan besar dengan tiada memperhatikan sedikit juga perihal kemanusiaan.
Industry dibawah pimpinan pemerintahan tidak pula berarti, bahwa industry itu langsung dipimpin dari buro pemerintah. Pimpinan harian sebagaimana biasa, dipimpin oleh seorang yang cakap, yang sanggung menanggung jawab. Pimpinan Umum, juga yang mengatur juga kedudukan modalnya, dapat pula diserahkan kepada suatu badan aoutonomi, seperti sebuah Bank Industri, yang pada gilirannya menanggung jawab pada pemerintah. Bank industry itu di wajibkan pula menyediakan berbagai plan tentang memajukan industry umumnya. Penyelidikan tanah, pemeriksaan tentang tempat usaha, mengadakan koordinasi antara beberapa industri, juga semua itu menjadi pekerjaannya.
Tetapi disebelah industri pemerintah ada tempat lagi bagi industry rakyat secara koperasi. Inilah yang penting bagi kita dimasa ini. Sebab koperasilah jalan yang sebaik-baiknya pencapai kemakmuran bagi rakyat yang tidak punya kapital.
Tentang kedudukan koperasi yang sebenar-benarnya menurut idealnya, sudah kita bentangkan. Yang perlu kita periksa disini ialah: dapatkah industry rakyat didirikan sebagai koperasi?
Oleh : Binbin Firman Tresnadi
Siapa yang menganjurkan industry secara koperasi mudah mendapat pukulan dari lawannya. Sebab banyak bukti yang dapat dikemukakannya. Orang dapat mengatakan dengan alsan baik, bahwa sampai sekarang koperasi yang banyak dan baik hasilnya ialah koperasi komsumsi. Tetapi dalam daerah produksi, menghasilkan, banyak koperasi yang meleset. Koperasi-produksi yang berhasil hanya dalam daerah pertanian. Ujudnya ialah memperbaiki harga penjualan barangnya. Dengan koperasi itu si penghasil tidak tergantung lagi hidupnya kepada pabrik yang membeli barangnya itu sebagai bahan. Dengan koperasi itu mereka dapat mendirikan pabrik sendiri, dan mengerjakan sendiri bahannya itu jadi barang sudah. Koperasi semacam ini berhasil, karena orang tani yang jadi sekutunya ada kuat kedudukan ekonominya, dan ada mempunyai uang simpanan. Tetapi terhadap tani Indonesia, kedudukan ekonominya lemah semata-mata. Mereka tak punya uang simpanan, jadinya tak punya persediaan untuk mendirikan pabrik sendiri. Buat industry, yang terutama sekali ialah kapital. Itulah sebabnya maka industry yang dicita-citakan kaum buruh, sampai sekarang tidak berhasil.
Alasan ini memang kuat, sebab berdasar bukti yang nyata. Berdasar sejarah. Tetapi tidak berarti bagi orang yang mau melihat kemuka, yang mengakui bahwa dunia senantiasa dalam perubahan. Tindakan yang meleset dimasa yang lalu, tidak mestinya meleset dimasa datang. Sejarah yang lalu baik dipergunakan sebagai guru yang menunjukan kesalahan-kesalahan yang diperbuat, yang patut disingkirkan dimasa datang. Bukan buat jadi pedoman. Berapakah banyaknya barang dan perusahaan yang bermula tak laku dan tak menjadi, tetapi kembang dimasa sekarang?
Sebab itu kita tidak boleh berpedoman dengan pikiran “tidak bisa, sebab sudah ada buktinya”. Semboyan kita mestilah: “Usahakan dengan sebaik-baiknya, dan jangan diperbuat kesalahan yang dahulu membuat jatuh”. Tanam pengertian yang betul lebih dahulu, dan perbuat rancangan yang teratur sebelum mengerjakan sesuatunya. Dan sesudah itu usahakan dengan sepenuh-penuh tenaga dan cita-cita. Perusahaan yang dikerjakan sungguh-sungguh, mustahil meleset jalannya.
Pengertian cara bekerja itu mesti tertanam lebih dahulu. Selain dari itu mesti ada dalam dada kita semangat yang kuat dan kepercayaan akan kesanggupan sendiri.
Sudah tentu dari semulanya dipilih baik-baik industry macam apa yang akan dibangunkan dengan dasar koperasi. Menurut sejarahnya, yang berhasil tampaknya ialah yang bersangkut dengan pertanian. Ini rupanya yang lebih mudah menyesuaikannya. Sebab itu pula bagi Indonesia, dipilih dahulu bagian industry yang bahannya hasil pertanian sendiri.
Pertanian yang dikerjakan oleh orang Indonesia dengan hasil baiknya ialah perusahaan getah. Pada segala tempat di Jawa, di Jambi dan Palembang, di Kalimantan, yang ada perusahaan getah orang Indonesia, hendaklah didirikan pabrik dengan berbagai rupa, yang menggunakan getah sebagai bahannya. Selain dari ban-auto dan sepeda, tak terhitung banyaknya barang yang diperbuat dari pada getah. Dari permainan anak-anak, sampai kepada perkakas tulis dan persediaan rumah sakit, banyak sekali barang yang terbuat dari pada getah. Dalam daerah ini dapat diadakan permulaan dengan berangsur-angsur dan dengan tempoh yang cepat. Insinyur ahli kimia ada, sekalipun belum cukup jumlahnya. Tenaga ahli teknik yang kurang dapat di datangkan dari luar negeri. Orang yang bersemangat industry, yang bakal jadi pimpinannya ada juga. Tenaga yang kurang boleh dididik sambil lalu. Pabrik dijadikan serta “rumah sekolah” untuk mendidik tenaga yang berpengetahuan. Dan didikan teori yang disertai sekali dengan prakteknya, adalah lebih baik.
Yang sukar ialah soal kapital. Tetapi karena itulah terutama dianjurkan bangun koperasi. Manakala pemerintah memberi bantuan, kapital rakyat itu banyak sedikitnya bisa terkumpul. Bantuan itu langsung dan tidak langsung.
Untuk mengumpulkan kapital rakyat dari pihak orang kecil, cukuplah jika pemerintah menyatakan simpatinya terhadap tindakan itu. Dengan itu saja mudah terkumpul uang orang banyak.
Kapital yang kurang hendaklah dipinjamkan oleh pemerintah dengan jangka panjang. Inilah bantuan langsung. Bank industry yang disebut diatas dapat pula memudahkan bantuan itu.
Kebaikan koperasi ada dua:
Pertama, anggotanya boleh berhenti setiap waktu. Tetapi pada galibnya, anggota itu keluar karena sebab-sebab yang luar biasa. Apabila semangat koperasi itu baik, dan keperluan yang dibelanya ternyata umum, tak ada niatnya akan mengundurkan diri. Malahan ia malu berbuat begitu, takut akan dikatakan orang tidak mempunyai cita-cita.
Kebaikan kedua ialah, bahwa koperasi tidak mengutamakan keuntungan, melainkan membela keperluan bersama. Oleh karena itu sebagian besar dari pada keuntungan dapat dijadikan reserve. Dengan ini lambat laun dapat diadakan susunan kapital, yang boleh juga mengurangkan kemudian bantuan kredit dari pemerintah.
Selanjutnya, koperasi itu dapat berjasa kepada daerah tempatnya seluruhnya. Misalnya dengan mempergunakan sebagian keuntungannya untuk rumah sekolah, rumah sakit, fonds belajar dan lain-lainnya.
Tinggal lagi soal perhubungan buruh. Oleh karena industry berdasar koperasi rakyat, kaum buruhnya hendaklah turut menjadi sekutu. Uang pesertaannya dapat dicicilnya. Tetapi kalau kurang pengertian, kedudukan seperti ini boleh menimbulkan kesukaran. Orang yang menjadi sekutu, merasa dirinya sebagai seorang dari pada yang empunya. Sekalipun ia bekerja, ia juga majikan. Sebab itu ia tidak mau diperintah bekerja; ia mau bekerja menurut tempo yang disukainya sendiri.
Tetapi nyatalah, bahwa paham semacam itu akan merusak displin bekerja. Akibatnya mencelakakan perusahaan sendiri. Inilah salah satu sebab maka industry barang yang berdasar koperasi, jarang yang terjadi.
Industi modern, sekalipun berdasar koperasi, meski berkedudukan onderneming. Sifat koperasi dinyatakan oleh cara keluar masuk sekutunya dan oleh paham terhadap keuntungan. Tetapi tentang pekerjaan didalam onderneming, organisasinya mesti takluk ke bawah hukum ekonomi bagi onderneming. Diluar pekerjaan, buruh tadi dapat memandang dirinya sebagai sekutu. Antara pimpinan dan sekutu biasa itu tidak ada perbedaan derajat, kecuali dalam hal tanggung jawab yang berhubung dengan kedudukan. Tetapi dalam pekerjaan hanya berlaku displin bekerja. Tiap-tiap orang duduk pada tempat yang seukuran dengan dia. Ada jabatan memimpin, ada jabatan mengerjakan, dan ada jabatan menunjuki kepada si pekerja. Ada yang memerintah, ada yang meneruskan perintah dan ada pula yang menerima perintah. Tentang politik perusahaan, tentang menetapkan tindakan yang harus dilakukan, itu tak dapat diperundingkan bersama. Keputusannya terletak di tangan pimpinan. Buruh yang banyak tidak dapat beserta, sebab ia tidak mempunyai pengetahuan dalam hal itu.
Tentang pembagian keuntungan, tentang menetapkan upah buruh, tentang mengatur waktu bekerja, untuk semuanya itu dapat dipakai dasar bermusyawarah. Dan koperasi yang dijungjung oleh cita-citanya yang sebenarnya, lebih mudah menjalankan permusyawaratan itu. Akan tetapi, tentang melakukan politik perusahaan, itu bagian pimpinan semata-mata. Dia yang dapat mengetahui, dia yang paham dan dia pula yang menanggung jawab. Onderneming modern, dalam urusan pekerjaannya, menghendaki dasar autokrasi. Disini kedudukan onderneming sama dengan kedudukan tentara dalam negeri. Anggota Parlemen, Minister, mereka itu berpengaruh tentang memutuskan belanja angkatan perang dan lain-lainnya. Tetapi apabila mereka serta mengerjakan jabatan militer dalam tentara, mereka tunduk kepada komando diatasnya.
Pengertian seperti ini mesti ada pada mereka yang akan menganjurkan koperasi dalam perusahaan industri. Sekutu mesti tahu membedakan kedudukannya sebagai yang empunya dan sebagai buruh. Dalam jabatan buruh ia tak dapat membanggakan diri mengaku “yang punya”. Sebagai buruh koperasinya, sikapnya harus dikemudikan oleh ingatan hendak memajukan perusahaan dan mengerjakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Ia mesti mengakui adanya disiplin bekerja.
Dengan pengertian syarat-syarat ini, industri rakyat dapat didirikan sebagai koperasi.
*******
Diketik ulang dari kumpulan artikel Mohammad Hatta. Beberapa Fasal Ekonomi: Jalan Ke Ekonomi dan Koperasi. Cetakan kelima 1954.
1. Pendahuluan
Seperti kita ketahui bersama, satu tahun lalu tepatnya tanggal 20 Oktober 2009, SBY dilantik sebagai President Republik Indonesia untuk periode kedua, setelah kemenanganya pada Pemilu president langsung tahun 2009 yang lalu.
Walaupun kemenangan SBY tersebut seolah dipermukaan terlihat fantastis, akan tetapi banyak digugat dan dipersoalkan oleh banyak berbagai kalangan dari berbagai sisi yang terasa banyak kejanggalan. Kejanggalan dari sisi Etis tentang maraknya politik pencitraan yang lebih banyak mengumbar janji-janji Kampanye surga (memanipulasi program), yang ternyata tidak terealisir hingga hari ini, juga berbagai kritik terhadap metode meraup suara rakyat dengan Politik uang lewat jaringan Bisnis Keluarga Cikeas (Lihat, Buku Gurita Cikeas, Geoge Junus Aditjondro), Korupsi dan penggunaan Anggaran negara dan serangkaian manipulasi lewat system Pemilu, melalui aturan dan surat suara yang telah di desaind sedemikian rupa (operasi senyap), dengan menempatkan orang-orangnya seperti Andi Nurpati di KPU (sebelumnya Anas Urbaningrum).
Artinya, naiknya SBY ketampuk kekuasaan melalui pemilu tahun 2009 lalu, bukannya tanpa meninggalkan persoalan dan masalah bagi system perpolitikan dan nasib bangsa Indonesia yang sedang berproses menuju kondisi yang lebih baik. Hendaknya kita sebagai Mahasiswa harus Objektif dan kritisi dalam membaca setiap persoalan dan fenomena besar yang sedang di hadapi bangsa dan negeri ini.
2. Pemerintahan SBY dan Penetrasi Sistem Neoliberalisme di Indonesia.
Sistem Neoliberalisme yang menyandarkan seluruh tatanan hajat hidup rakyat banyak diserahkan pada mekanisme pasar bebas, dengan meminimalisir campur tangan dan peran Negara, terbukti kian hari justru semakin menajamkan kontradiksi-kontradiski dalam berbagai sector kehidupan rakyat.
Dampak system Neoliberalisme terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia terus mengalami kemerosotan, kita bisa saksikan setiap harinya, bagaimana tingkat Kemiskinan, pengangguran, Gizi buruk, Kriminalitas, Kekerasan, rasa Frustasi sosial dan percobaan bunuh diri terus meningkat, bahkan eskalasinya semakin mendalam dan begitu luas kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Belum lagi ditambah dengan bencana-bencana social yang hamper merata diseluruh negeri terus berlangsung silih berganti.
Seolah pemerintah dalam hal ini Rejim SBY alpha atau tidak hadir atau bersikap masa bodoh dalam serangkaian persoalan yang dihadapi rakyat, yang terjadi secara massif hamper setiap harinya. Kalaupun terlihat melakukan tindakan/kebijakan politik, tak lebih hanyalah bersifat seremonial dan procedural belaka (bagian dari Politik Tebar pesona dan pencitraan), tanpa diikuti dengan tindakan/kebijakan yang lebih nyata dan substantive dalam menyelesaikan dan menyentuh akar persoalan yang dihadapi Rakyat sehari-hari.
Sistem Neoliberal selain menyandarkan diri pada mekanisme pasar bebas, juga mendikte Negara-negara berkembang seperti Indonesia melalui lembaga-lembaga Keuangan dan kerjasama Internasional seperti Word Bank, IMF, IBRD, ADB, G8, ASEAN dan lain-lain, untuk membuka sebebas-bebasnya Sumber daya alamnya untuk di Eksploitasi oleh perusahaan-perusahaan raksasa asing (MNC dan TNC) seperti Free Port, Mobil Oil, Caltec, Chevron dll, yang bergerak diberbagai sector usaha seperti pertembangan, Kehutanan, Perkebunan, Pertanian, Sumberdaya laut dan belakangan di sector-sektor Public Service lainya. sementara negara (Pemerintah SBY) sebagai penjaga modalnya, dari tuntutan-tuntutan rakyat yang merasa diserobot dan disingkirkan serta dirugikan oleh perusahaan-perusahaan raksasa tersebut.
Sistem Neoliberalisme juga terus mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan Privatisasi asset-aset vital Negara (BUMN) seperti Privatisasi PT.Krakatau Steel, PTDI, PT.Angkasa Pura, PT.Indosat, PT.Pelindo, PTPN-PTPN, PT.BNI. PT.Bank Mandiri dll, sebentar lagi asset-aset vital Negara yang tersisa seperti PT.PLN, PDAM, PT.KAI akan segera menyusul untuk dijual kepada asing.
Bisa dibayangkan, jika Sektor-sektor usaha vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh swasta apa lagi asing, maka harga-harga kebutuhan dasar rakyat yang sudah miskin ini harus diserahkan kepada mekanisme pasar bebas, yang pastinya untuk tujuan dan kepentingan Profit semata.
Sistem Neoliberalisme juga secara meyakinkan telah dan akan semakin mematikan industri dan usaha-usaha kecil dalam negeri (rakyat), seperti pedagang dan pasar-pasar tradisional digusur digantikan oleh Mall-mall besar (modal besar), Industri otomotif dan elektronik dalam negeri serta perbengkelan rakyat di gantikan oleh Industri otomotif raksasa Jepang, AS, Eropa, India dan Malaysia. Indutri kecil makanan dan minuman mulai di kalahkan oleh Perusahaan-perusahaan modal asing, Industri pertanian dan perkebunan dalam negeri, tiap tahunya diserbu oleh produk-produk Impor, dan masih banyak lagi sector-sektor industri dalam negeri yang sedang menunggu ajalnya, Ironisnya ini semua justru didukung oleh pemerintahan SBY, yang mengabdi bagi kepentingan Sistem Neoliberalisme.
3. Kondisi Kehidupan Rakyat dan Potensi-potensi Perlawanan Rakyat
Sesacar umum kondisi kehidupan rakyat dibawah cengkeraman sistem Neolib saat ini mengalami tekanan hidup dan kemiskinan yang kian mendalam. Lapangan pekerjaan dan lapangan usaha serta persaingan di tataran bawah yang dirasa kian sulit, sering sekali memicu Kemarahan dan emosi rakyat, seperti tawuran, bentrokan, bahkan gejala-gejala frustasi sosial sangat mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari makin banyaknya pengemis dan gelandangan yang menghiasi jalan-jalan perkotaan, Pengangguran di pelosok pedesaan dan kota-kota, menjamurnya Pedagang asongan, kaki lima, Pengamen, buruh-buruh bangunan harian lepas, menjamurnya tukang ojek di setiap pinggir jalan, Buruh tani yang tidak punya tanah, Nelayan yang makin sulit mencari ikan, anak-anak putus sekolah dan masih banyak lagi.
Kue Pembangunan ekonomi yang hanya berkisar 20% diperebutkan oleh hampir 85% rakyat miskin dan menengah kebawah di Indonesia. Sementara kue ekonomi yang 80% dinikmati secara bebas oleh kalangan elit Penguasa dan kaum Modal yang jumlahnya tak lebih hanya 15%. Selanjutnya Kita bisa melihat gambaran umum sektor-sektor rakyat sebagai berikut :
A. Sektor Buruh / Kaum Pekerja.
Kaum pekerja di Indonesia saat ini memiliki jumlah yang sangat besar dan merupakan sector yang secara riel menggerakan roda ekonomi Negara. Kaum buruh di Indonesia terbagi kedalam berbagai sector / bidang-bidang pekerjaan seperti Buruh Pabrik (Manufakture), yang berada di kota-kota besar atau kota-kota Industri, umumnya pekerja manufaktur ini jumlahnya cukup besar, yang bidang kerjanya adalah membuat atau memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti Pabrik Garment dan Tekstil, Sepatu, Makanan dan Minuman, Kimia dan Obat-obatan, Otomotif dan Elektronik, Mebel dan perkayuan, Pabrik Rokok dan tembakau dll. Diluar Buruh Manufaktur ada juga beberapa sector seperti buruh Pertambangan, buruh Transportasi, Perkebunan, Mall, Perbankan, Public service, Perhotelan, Restoran dll.
Secara umum banyak sekali persoalan yang dihadapi kaum pekerja Indonesia saat ini, seperti rendahnya Upah (penetapan upah masih minimum belum upah layak), Kondisi kerja yang buruk, Sistem Outsourching (sub kontrak) yang tidak manusiawi, Jaminan social yang buruk, Jam kerja yang panjang (harus lembur karena upahnya rendah), hak berserikat yang masih dihambat (Union Busting) dll, dihadapan biaya hidup yang terus naik, seperti kebutuhan makan, pakaian, Transportasi, rekreasi dan perumahan yang mahal untuk dijangkau kaum pekerja Indonesia.
Ditengah berbagai persoalan diatas, sampai hari ini kaum buruhlah sektor rakyat yang relatif paling masif dan progersif melakukan perlawanannya, baik terhadap Perusahaan (kaum Modal), maupun terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan mereka. Walaupun secara kwantitas perlawanannya masih bersifat tuntutaan Ekonomis menuntut kesejahteraan (seperti menuntut kenaikan Upah, pembayaran THR, Jamsostek, Cuti dll). Umumnya tuntutan kaum buruh dilakukan dengan cara Pemogokan di tempat kerja dan aksi-aksi ke kantor pemerintah seperti Depnaker, DPRD, Kantor Bupati, Gubernur dan Istana Negara. Walau begitu perlawanan kaum buruh sudah mulai mengangkat isyu-isyu Politik seperti penolakan terhadap UU No 13/2003, menolak Privatisasi BUMN, menuntut pemerintah menurunkan harga dan TDL, menuntut SBY mundur, menolak perdagangan bebas dan system Neolib dll.
B. Sektor Petani dan Nelayan.
Kaum Tani dan Nelayan nasibnya tidak jauh berbeda dengan Kaum Buruh, bahkan mungkin lebih terpuruk lagi, mahalnya biaya produksi pertanian seperti pupuk, bibit, alat bajak dan penggilingan bagi hasil pertanian, tak sebanding dengan harga produk-produk pertanian yang di hasilkan. Selain itu Petani Indonesia dibiarkan bertahan dan bertarung sendiri (tanpa insentif dan subsidi pemerintah), menghadapi banjirnya produk-produk pertanian impor dari Negara-negara maju, yang memang disubsidi dan diberikan insentif yang besar oleh negaranya. Belum lagi menghadapi spekulan harga di pasar, mengahadpi rentenir dan sulitnya mendapatkan permodalan untuk meningkatkan produk-produk pertanian, perkebunan dan peternakan bagi kaum Tani. Ditambah lagi dengan bertubi-tubinya bencana alam banjir, tanah longsor, hama tiap tahun yang menghancurkan hasil produk-produk pertanian. Banyak petani yang terus mengalami kerugian dan dipaksa menjual tanah-tanahnya dihadapan system ekonomi neolib. Umumnya generasi muda Petani yang sulit mencari nafkah dan bertahan hidup di pedesaan, memilih berangkat ke Kota atau Luar Negeri untuk mencari pekerjaan, dengan bekal keahlian dan keterampilan yang minim.
Nelayan Indonesia yang jumlahnya cukup besar tinggal di tepi-tepi pantau seluruh kepulauan Indonesia, nasibnya juga tidak lebih beruntung dari Kaum Tani, mahalnya Kapal, Jaring dan alat-alat penangkap ikan membuat jumlah tangkapan dan harga ikan yang mereka hasilkan tak lebih hanya sekedar cukup untuk bertahan hidup. Selain itu mereka dibiarkan bebas bertarung (tanpa insentif dan subsidi Negara) dengan Nelayan-nelayan asing yang memiliki tekhnologi dan modal besar. Dibeberapa daerah para nelayan tradisional ini lahan-lahan usaha dan tempat tinggal mereka justru banyak di gusur oleh perusahaan-perusahaan pertambangan besar, yang limbah-limbah kimianya mematikan habitat ikan sebagai sumber mata pencaharian mereka sehari-hari.
Perlawanan kaum tani dan nelayan walaupun tidak sebesar dan semasif gerakan buruh, dapat kita jumpai setiap harinya di media, umumnya mereka menolak penggusuran lahan, menolak keberadaan perusahaan-perusahaan besar yang mematikan mata pencaharian mereka. meminta pemerintah menurunkan harga pupuk dan bibit, menuntut pemerintah untuk melindungi hasil panen dari para spekulan pasar, meminta pemerintah mengurangi impor pangan, agar hasil pertanian mampu diserap oleh pasar, Meminta subsidi dan permodalan yang murah dan mudah dalam rangka menaikan hasil produksi mereka dan lain-lain.
C. Sektor Mahasiswa
Mahasiswa yang merupakan representasi dari kaum muda, dalam sejarahnya merupakan element perubahan dan pembaharu (AGENT OF CHANGE) dalam mendobrak dan merespon tatanan sistem ekonomi-politik yang merugikan rakyat.
Akan tetapi situasi Mahasiswa di kampus-kampus saat ini terlihat sepi, adem ayem dan pasif, seolah-olah sedang tidak terjadi persoalan di tengah rakyat.
Sistem Neoliberalisme pendidikan yang berlangsung saat ini, seolah-olah menina-bobokan kondisi kehidupan kampus, orientasi perjuangan, kesadaran dan pemikiran Mahasiswa seakan semakin jauh dari realita Kondisi kehidupan rakyat sebagai Ibu Kandungnya.
Mahasiswa saat ini umumnya hanya disibukan dengan aktifitas perkuliahaan saja (kuliah pulang), kalaupun ada beberapa mahasiswa yang aktif di dalam lingkungan kampus, mayoritas hanya terjebak pada aktifitas normatif di kampus yang menyangkut Hobi, seni dan jenis kegiatan kesenangan lainya (Hedonisme Kampus).
Mayoritas kehidupan mahasiswa adalah Individualis, apatis terhadap kegiatan-kegiatan yang menyangkut kehidupan rakyat dan cenderung prakmatis ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah, lalu bekerja.
Tradisi Kelompok study, pers kampus dan kegiatan bersolidaritas di kalangan mahasiswa telah digantikan dengan serangkaian kegiatan karitatif (penggalangan dana, jalan-jalan keluar kota dll).
Padahal persoalan yang dilamai mahasiswa dalam sistem Neoliberalisme pendidikan juga semakin komplek dan sangat merugikan mahasisiwa, seperti :
a. Mahalnya biaya pendidikan (uang semester, buku, Praktikum dll).
b. Otoritarianisme Absen, yang membuat ruang gerak aktifitas mahasiswa sangat terbatas.
c. Sistem kurikulum perkuliahaan yang sangat kaku dan tidak fleksibel (kurikulum pasar), minimnya fasilitas penunjang belajar dan kegitan kemahasiswaan.
d. Organisasi Formal kemahasiswaan seperti BEM, BPM, Senat Mahasiswa yang kurang demokratis, dalam mewakili kepentingan real mahasisiwa (bandingkan dengan bentuk Dewan Mahasiswa “DEMA” yang pernah di pakai tahun 1960- 1970an). Dan lain-lain.
Perlawanan atau aksi dan tuntutan Gerakan mahasiswa walaupun sayup-sayup masih sering terdengar, walaupun tidak sebesar pada era tahun 60, 70 dan membesar pada saat gerakan Mahasiswa 98.
Gerakan Mahasiswa saat ini umumnya lebih banyak terjebak sebatas pada isyu-isyu elite kekuasaan, walaupun masih sering terdengar gerakan mahasiswa yang beberapa aktu lalu aksi menolak kenaikan TDL, harga-harga, kasus korupsi dan kasus skandal Century.
Akan tetapi pola gerakanya sangat fragmentatif, insidental dan lebih banyak terbawa arus pertarungan elite-elite politik.
Maka penting bagi kita untuk merumuskan kembali gerakan mahasiswa kerakyatan dimasa depan. Yang akan menggugat akar persoalan dari tatanan atau sistem ekonomi poliik yang semakin menyengsarakan rakyat banyak.
Diluar ke 4 sektor diatas, masih ada sektor Kaum miskin perkotaan, yang geliat perlawanannya dalam menghadapi penggusuran dan kesewenang-wenangan aparat secara sporadis sering kali kita saksikan di media-media masa.
4. Menata kembali Bangkitnya Gerakan Rakyat dan Perlawanan terhadap sistem Neoliberalisme.
Diatas kita telah mengidentifikasi bahwa pemerintahan SBY saat ini berkuasa di topang oleh suatu sistem Ekonomi-Politik Neoliberalisme, yang makin memiskinkan dan meminggirkan rakyat sebagai pihak yang memiliki kedaulatan penuh atas tanah dan tumpah darah negeri ini.
Maka penting kiranya bagi kita untuk segera merapikan diri bersama sektor-sektor rakyat lainya untuk bahu-membahu berjuang bersama-sama. Tentunya dengan memperkuat keanggotaan Organisasi kita di kampus, dan mulai menghimpun kawan-kawan kita dikampus-kampus lain untuk bergabung, bekerjasama dan belajar bersama-sama dalam wadah FMLK yang sedang kita bangun ini. Terimakasih.
Oleh : Christianto
Pertanian sebagai basis ekonomi kerakyatan dan merupakan sektor yang melibatkan sebagian besar penduduk Indonesia terus mendapatkan ancaman dan permasalahan baik dari dalam maupun luar. Marginalisasi sektor pertanian rakyat, dengan mulai mendominasinya pertanian korporasi (corporate farming) dan ancaman ketersingkiran petani kecil pedesaan dengan adanya globalisasi pasar bebas Neo Liberalisme melalui kesepakatan Agreement on Agriculture (AoA) merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Pemerintah hingga saat ini belum memihak petani kecil dengan memberikan kebijakan proteksi dan subsidi yang cukup dapat melindungi mereka dari ancaman pasar bebas, dimana produk-produk pertanian dari negara lain dapat bebas masuk dan menggusur. Jika hal ini terus dibiarkan, kebangkrutan ekonomi pertanian rakyat dan hilangnya kedaulatan produksi pangan merupakan resiko besar yang terpampang di depan mata.Sementara itu, pertanian rakyat juga masih menghadapi persoalan-persoalan klasik dan internal dari dari pra produksi sampai pasca produksi. Permasalahan pra produksi meliputi pemenuhan faktor-faktor produksi, dari tanah hingga sarana produksi pertanian (benih, pupuk, dll.), dan dukungan infrastruktur pertanian semisal irigasi. Pada proses produksi, terjadi permasalahan inefisiensi akibat tinginya biaya input dan minimnya aplikasi teknologi yang dapat meningkatkan produktifitas. Permasalahan pasca produksi terlihat dari rendahnya nilai tukar hasil produksi pertanian yang menyebabkan petani kecil tak kunjung sejahtera. Jauh sebelum pemerintah mendengungkan program revitalisasi pertanian yang katanya akan menyelesaikan krisis pertanian di Indonesia, yang ternyata tak kunjung kongkret dan masih bias dalam konsep dan praktek, sebenarnya sudah banyak pihak yang mengkampanyekan pertanian berkelanjutan sebagai alternatif. Pertanian Berkelanjutan mengandung pengertian bahwa petani harus mempunyai kedaulatan dalam produksi yang dapat menjamin keberlanjutan ekologi, ekonomi dan sosial budayanya. Pemberdayaan ekonomi pertanian dilakukan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan kemandirian petani melalui peningkatan produktifitas dan efisiensi produksi pertanian melalui pertanian organis, tata kelola produksi yang mendukung ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan, peningkatan pendapatan dengan usaha ekonomi produktif dan manajemen pasca panen, serta peningkatan posisi tawar dan akses dalam pasar produksi pertanian rakyat.
Dalam perspektif ekonomi, pertanian berkelanjutan melalui inovasi teknis produksinya bisa jadi menjawab persoalan ekonomi mikro pertanian pada segi permodalan dan efisiensi produksi dengan penekanan input, peningkatan produktifitas dengan aplikasi teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, dan penambahan pendapatan rumah tangga petani dengan produksi pasca panen misalnya. Namun pada persoalan ekonomi makro, dimana petani sebagai individu-individu produsen harus menjadi bagian besar struktur ekonomi pada suatu wilayah atau negara, dimana terdapat banyak sekali aktor dan kepentingan yang bermain, persoalan ekonomi petani kecil ternyata tidak cukup diselesaikan dengan resep teknis semata. Sebenarnya, pada level makro, yang bisa menjamin tata perkonomian dapat mensejahterakan petani adalah pemerintah, dengan membuat kebijakan makro yang memihak kepentingan petani produsen. Namun seperti sudah dinyatakan di awal tulisan, kenyataan tersebut jauh dari harapan, dan menjadi tanggung jawab eksponen gerakan tani untuk terus mengkampanyekan dan mendorong perubahan kebijakan tersebut.
Pertama kita akan membedah persoalan makro ekonomi pertanian, atau persoalan-persoalan di luar produksi. Dalam struktur ekonomi, petani produsen dengan jumlah mayoritas memiliki posisi tawar yang rendah dibandingkan dengan aktor lain, yaitu pemodal, pedagang, distributor, dan penikmat rente lainnya. Tata niaga produk pertanian yang berlaku sangat tidak adil bagi petani, karena nilai tukar produk pertanian di tingkat petani sangat rendah dan jauh dari kelayakan, sementara marjin harga produsen dan harga konsumen akhir yang cukup lebar lebih banyak dinikmati oleh pelaku distribusi. Tata niaga tersebut juga cenderung aman bagi distributor. Bila terjadi kenaikan biaya distribusi, misalnya kenaikan harga BBM, maka distributor akan menaikkan harga konsumen, tetap menekan harga produsen, dan marjin keuntungan distributor relatif stabil. Kondisi ini terbangun karena tidak efisiennya pola distribusi produk pertanian dan tidak adanya aturan dan perangkat yang membatasi ekspansi dan eskploitasi modal terhadap petani. Praktek ijon yang dilakukan tengkulak adalah salah satu contoh. Sebab lain adalah paradigma tata niaga pertanian yang lebih memihak konsumen, dan menempatkan rakyat tani sebagai produsen dan rakyat lain sebagai konsumen dalam posisi vis a vis. Penyesuaian harga di tingkat produsen, dengan resiko memperbesar harga konsumen seakan menjadi tabu dalam kebijakan, padahal petani produsen yang jumlahnya sangat banyak harus diperhatikan. Apabila ada kecendengunan kenaikan harga produk pertanian, alih-alih justru menjadi alasan untuk membuka keran impor yang akan semakin memperpuruk ketahanan produksi pertanian dalam negeri.
Apa yang bisa dilakukan petani produsen dalam kondisi mekanisme pasar yang tidak terkontrol seperti ini selain terus menuntut pemerintah untuk membuat kebijakan pro petani? Upaya yang harus dilakukan adalah menaikkan daya tawar petani produsen, karena persoalan mendasarnya adalah posisi lemah petani dalam permainan pasar, dan posisi lemah pada relasi dengan pelaku ekonomi lainnya. Kelemahan dalam pemasaran terjadi karena dominasi tengkulak dalam menentukan harga jual produk pertanian di tingkat petani. Ketergantungan pemenuhan modal kerja untuk pembelian sarana produksi dari tengkulak atau pemodal menyebabkan praktek ijon dan penentuan harga jual yang tidak bisa dielak oleh petani. Harga pasar tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan mekanisme harga dalam pasar persaingan sempurna yaitu hubungan tingkat penawaran dan permintaan. Kondisi yang terjadi, jaringan tengkulak dan pemodal membentuk kartel distribusi yang menyebabkan tipe pasar produk pertanian adalah oligopoli, sehingga mereka dapat dengan mudah mempermainkan harga pasar dengan tetap menekan harga produsen. Sementara ini baru komoditas padi (gabah) yang mendapatkan intervensi pemerintah dalam perlindungan harga, dengan penentuan harga dasar pembelian, namun itupun belum dapat menyelesaikan persoalan tata niaga gabah dan persoalan petani padi lainnya.
Upaya menaikkan daya tawar petani produsen harus dilakukan dengan konsolidasi petani produsen dalam satu wadah yang menyatukan gerak ekonomi dalam setiap rantai pertanian, dari pra produksi sampai pemasaran. Konsolidasi tersebut dilakukan dengan mengkolektifkan semua proses dalam rantai pertanian, yaitu meliputi kolektifikasi modal, kolektifikasi produksi, dan kolektifikasi pemasaran. Kolektifikasi modal adalah upaya membangun modal secara kolektif dan swadaya, dengan gerakan simpan-pinjam produktif, yaitu anggota kolekte menyimpan tabungan untuk dipinjam sebagai modal produksi, bukan kebutuhan konsumsi. Hal ini dilakukan agar pemenuhan modal kerja pada awal masa tanam dapat dipenuhi sendiri, dan mengurangi ketergantungan kredit dan jeratan hutang tengkulak. Apabila kolektifikasi modal dapat berkembang baik, maka tidak menutup kemungkinan modal kolektif tersebut tidak hanya digunakan dalam pemenuhan modal kerja produksi, tetapi juga dalam pemasaran. Kedua, kolektifikasi produksi, yaitu perencanaan produksi secara kolektif untuk menentukan pola, jenis, kuantitas dan siklus produksi secara kolektif. Hal ini perlu dilakukan agar dapat dicapai efisiensi produksi dengan skala produksi yang besar dari banyak produsen, dalam satu koordinasi dan kerjasama. Efisisensi dapat dicapai karena dengan skala yang lebih besar dan terkoordinasi maka akan dapat dilakukan penghematan biaya dalam pemenuhan faktor produksi, dan kemudahan dalam pengelolaan produksi, misalnya dalam penanganan hama dan penyakit, satu momok persoalan produksi yang paling sulit dilakukan secara parsial. Langkah ini juga dapa menghindari kompetisi yang tidak sehat di antara produsen sendiri yang justru akan merugikan, misalnya dalam irigasi dan jadwal tanam. Ketiga, kolektifikasi dalam pemasaran produk pertanian. Hal ini dilakukan untuk mencapai efisiensi biaya pemasaran dengan skala kuantitas yang besar, dan menaikkan posisi tawar produsen dalam perdagangan produk pertanian. Kolektifikasi pemasaran dilakukan untuk mengkikis jaring-jaring tengkulak yang dalam menekan posisi tawar petani dalam penentuan harga secara individual. Satu hal yang perlu diingat, upaya kolektifikasi tersebut tidak berarti menghapus peran dan posisi pedagang distributor dalam rantai pemasaran, namun tujuan utamanya adalah merubah pola relasi yang merugikan petani produsen dan membuat pola distribusi lebih efisien dengan pemangkasan rantai yang tidak menguntungkan.
Tentu saja upaya tersebut bukan hal mudah untuk dilakukan. Organisasi dan pengorganisasian tani yang kuat sangat mutlak dibutuhkan. Saat ini gerakan pengorganisasian tani cenderung berorientasi politik, pada ranah kebijakan umum, nasional dan global. Pemberdayaan pertanian melalui program-program developmentalis masih berkutat pada tata kelola, produksi, dan pemasaran pada level mikro. Bahkan advokasi pemasaran program developmentalis cenderung berkompromi pada tatanan pasar yang sudah berlaku, dengan intervensi pada rantai pemasaran, tanpa usaha merubah struktur pasar. Pembangunan kekuatan ekonomi pertanian dari bawah, dimulai dari kelompok-kelompok tani dengan kolektifikasi seluruh aktifitas ekonomi, dari produksi barang dan jasa serta konsumsi harus dimulai agar petani produsen lebih berdaya dalam perang kepentingan dengan pelaku pasar lain. Perubahan struktur pasar, tata niaga dan pola relasi dalam pemasaran produk pertanian yang memihak dan mensejahterakan petani harus ditekan dari dua sisi, kebijakan pertanian yang pro petani, dan konsolidasi kekuatan ekonomi petani produsen yang dibangun dari bawah. Dimulai dari hal kecil, menyadarkan dan menggerakkan anggota kelompok tani untuk bekerjasama, ber ko-operasi, dan menjadikan kelompok sebagai organisasi politik dan ekonomi adalah hal yang harus dilakukan.
Oleh : Odang Erik Rodiana pada 19 Agustus 2010
Ada beberapa cara yang bisa kita lakuin untuk mendapatkan password facebook org yang kita inginkan..banyak gunanya lho tau pasword facebook org..kadang2 kalo elo benci ama orang lain,pasti lo pengen hack tuh facebooknya..trus lo obrak abrik, lo delete2 temen2nya atau kalo lo suka ama cewe,walau gk mau diapa2in facebooknya,tp ttp aja pengen tau paswordnya apaan,.. uma buat koleksi..:lol:ini gw kasi tau cara nya biar bisa dapet pasword facebook org yg lo incer:
1. Yang pertama ..pastinya tanya sendiri baik2 dolo,..coba bilang gini "eh gw bole tau pasword FB lo gk..yah gk buat apa2sih...cuma pgn tau aja "... berdoa lah kalo dia bakal ngasiin dengan cuma2,..ato gk lo traktir dolo lah..dimana kek...jika dia ngasitau berarti lo lg hoki banget bro...
2. Kalo gagal, lo coba tanya saat pikiran doi lg kosong,,biasanya org kalo lagi lengah akan menjawab secara otomatis..apalg doi orgnya dongo..ditanya apa aja dijawab..(mudah2an)
3.kalo masi gagal, coba lo intip si doi pas dia lg login...tp lo harus sambil pura2 gitu..pura2 garuk kek, pura2 lewat..ato pura2 jatoh dengan gaya kayang..pas lg ada kesempetan lo intip dah...tp ati2 bro..krn ini agak berbahaya...krn kalo ketauan ntr lo bs dibilang sok akrab ..wkwkkwkwkw(gk nyambung)
4. kalo masih gagal, brarti saatnya menggunakan kekerasan , Ancam dengan pisau atau silet ...85% kemungkinan dia bakal ngasitau..sisanya kemungkinan dia teriak ato nonjok...haha...
5. cara terakhir yg tidak disarankan adalah menemui langsung si pendiri facebook..si om mark zukerberg...minta tulung ama dia biar dikasitau pasword FB inceran,,cara ngomongnya gini "om mark, ane mau tau pasword si fulan bin fulan,..ane bisa aja ngehack tu FB doi, tp krn ane orgnya baek dan respek ama si om, ane lebih milih minta baek2 ama si om "....mudah2an doi mau ngasi...kalo gk dikasi jg, lo bs gunakan cara spt no.4...ancam dia dengan kekerasan!
begitu aja tulisan nyampah gw bro....Selamat Mencoba!!....dan mencoba lagi...teruslah mencoba....mudah2an dibukakan jalan..amin...
Semoga Berhasil!!
Pada tahun 70an SM, di Negara Romawi Yang megah, dan ditengah-tengah peradaban perbudakan. Seorang pengacara muda yang namanya belum dikenal dijajaran pengacara-pengacara masa itu memutuskan untuk belajar lebih banyak lagi ilmu retorika dan filsafat. Untuk memastikan bahwa segala kebutuhannya dapat tersedia dan terlayani dengan sempurna maka Cicero, sang pengacara muda, membawa seorang budak milik keluarganya yang bernama Tiro.
Tugas si budak Tiro kira-kira adalah: mengatur perjalanan, menyewakan kendaraan, membayar guru, mempersiapakan kebutuhan makan, pakaian dll, dan pada tahun depannya akan dikembalikan ke tuan budak aslinya yaitu orang tua Cicero.
Sebuah peristiwa besar terjadi pada Tiro di Athena, kota pertama dari perjalanan panjang perburuan ilmu sang tuannya. Ketika dia diperintahkan oleh sang tuan, Cicero, untuk mengikuti pelajaran diakademi filsafat terkenal di Athena tersebut, karena pada masa perbudakan maka hanya manusia merdekalah, keturunan tuan budak, yang punya hak untuk mendapatkan pendidikan apalagi pendidikan di akademi filsafat.
Kesempatan istimewa tersebut membuat Tiro dapat mendapatkan pengajaran langsung dari Antiochus dari Ascalon tentang Tiga Prinsip dasar Stoisme- bahwa budi pekerti itu cukup untuk memperoleh kebahagian, bahwa budi pekerti sajalah yang baik, dan bahwa emosi tidak dapat dipercaya. Meskipun sesungguhnya bagi Tiro ajaran Stoisme tersebut sangat berbeda dengan kenyataan hidup yang dialaminya selama ini, karena seakan-akan hanya para tuan budak lah yang mempunyai budi pekerti baik sehingga mereka dapat hidup bahagia, dan emosi para budak yang memberontak adalah sesuatu yang salah.
Ops… bukan mau menceritakan panjang lebar tentang isi buku novel berjudul Imperium,karangan Robert Harris, tetapi hanya pengen mengambil sepenggal ceritanya, saat Tiro menanyakan kenapa dia harus mengikuti kelas akademi filsagfat tersebut, maka Cicero menjawab: “Aku ingin kamu masuk kesini bersamaku dan belajar sedikit filsafat, supaya aku punya teman bicara dalam perjalanan kita yang panjang.”
Ooo… Ternyata memberikan kesempatan bagi sang budak, Tiro, untuk Belajar filsafat adalah untuk melayani kebutuhan sang tuan budak dalam memperdalam dan mempertajam pengetahuan filsafatnya yang kemudian akan sangat berguna bagi karirnya sebagai pengacara handal.
Ops.. kok aku jadi marah dengan motif sang tuan budak? Kan seharusnya dia memberikan kesempatan belajar pada Tiro agar sang budak dapat lebih pintar dan dapat membebaskan dirinya dari perbudakan, hmm cepat-cepat aku menghapus anggapan mulia tersebut, kan tuan budak tidak bertugas untuk membebaskan budaknya dari kungkungan sistem perbudakan ya..? Ya.. itulah posisi tuan budak!
Hmm secara tidak sadar tanganku mengepal dan telunjukku dengan tegas menunjuk pada mereka yang: Menjadi Aktifis Mahasiswa, membela rakyat kecil yang digusur, mengadvokasi buruh yang di PHK, dan sederatan tindakan heroik lainnya atas nama rakyat kecil, hingga tiba saatnya untuk melakukan pilihan politik yang lebih menjanjikan masa depan yang cerah. Mereka yang Menjadi Pengacara Muda di LSM,membela rakyat kecil, hingga namanya terkenal sebagai pengacara yang berani dan berotak cerdas, lalu tibalah waktunya untuk menuai hasil sebagai pengacara professional yang akan dibayar mahal oleh klien, meskipun klien itu adalah pengusaha yang akan mem PHK buruhnya, pengusaha yang ingin menguasai tanah para petani, koruptor yang ingin bebas dari tuntutan hukum, penculik yang merasa menjalankan tugas negara, dll… Mereka yang Menjadi Aktivis LSM, Aktifis Serikat Buruh, lalu dengan gigih memperjuangkan hak kaum miskin kota yang digusur trantib, hak para buruh yang diperlakukan tidak adil oleh para pengusaha, hak warga yang lingkungannya dirusak oleh para pemilik modal, hak para TKI dan keluarganya yang dibohongi oleh PJTKI dan majikannya, dan banyak lagi tugas-tugas heroik yang telah dijalankan selama 4-5 tahun di LSM, hingga tibalah saatnya menuai hasil dari pengorbanan waktu dan tenaga tersebut menjadi Public Relation perusahaan yang dulu menjadi musuh rakyat yang dibelanya atau menjadi boneka manis partai-partai yang selama ini telah terbukti menjadi musuh rakyat yang dibelanya, dll…
Hmm jadi teringat pepatah yang sedang hot “Tidak ada Makan Siang yang Gratis”… ya memang tidak ada, Rakyat kecil, Kelas buruh Indonesia, Kelas Tani Indonesia, Kaum miskin kota telah bertahun-tahun dan telah jutaan orang yang telah seakan-akan mendapat pertolongan dari kaum terpelajar, aktivis, pengacara muda dll tetapi sebenarnya hanya menjadi alas kaki untuk mencapai tujuan sebenarnya.. Ya.. Sejatinya memang benar Pembebasan Kelas Pekerjada adalah karya dari kelas pekerja..
Wow tanganku semakin kuat mengepal dan telunjukku semakian liar menunjuk nama-nama yang terlintas dikepalaku, semakin lama semakin banyak dan semakin banyak… Pengen muntah rasanya…. Marah.. Dendam… Jijik… setumpuk kata-kata lainnya yang aku gak bisa tuliskan lagi… dan tiba-tiba Ops…. Satu Telunjukku yang terarah kebanyak nama yang terlintas dikepala maka Empat jari lainnya terarah tepat didadaku…. Semakin jari telunjukku kupertegas pada mereka maka semakin tegas juga Empat jari lainnya pada dadaku… Benarkah aku ingin kelas pekerja itu terbebas dari penghisapan dan penindasan kelas modal? Bukankah.. tugasku bukan untuk membebaskan mereka dari system saat ini, karena sebenarnya system ini menguntungkanku …. Argh…. Berapa banyak lagi Tiro yang akan menjadi alas kaki kesuksesan orang-orang dari kaumku ya..?
"The Congo has made me, I shall make the Congo - There is no compromise between freedom and slavery”.
Patrice Lumumba dikenal dalam sejarah Afrika sebagai pahlawan nasional yang berasal dari Kongo. Dia berjuang untuk Rakyat dan negaranya dari penindasan kaum Kolonial. Kisah hidupnya sebagai pejuang, pembela Rakyat dan seorang revolusioner menjadikan dia sebagai juru bicara dan pemimpin bagi Rakyat Kongo.
Patrice Emery Lumumba dilahirkan pada tanggal 2 Juli 1925, disebuah desa yang bernama Onalua propinsi Kasai. Kedua orang tuanya yang berada di Batetela menginginkan Patrice untuk menjadi guru di sekolah Katolik dan untuk memenuhi persyaratan itu maka Patrice dikirimkan ke Sekolah Misi Katolik yang berada di Katako-Kombe.
Anak kecil itu menampakkan bakat yang sangat besar untuk belajar dan mempunyai kemampuan yang luwes untuk bergaul kepada orang-orang yang ditemuinya. Perhatian yang besar juga ditampakkan oleh Patrice kecil kepada para misionaris Protestan yang mengelola sekolah kedokteran asistensi bedah.
Karena hubungannya dengan para misionaris Protestan itu maka Patrice kecil yang sudah beranjak remaja usia 12 tahun melanjutkan pendidikannya disekolah kedokteran tersebut. Pada usia 13 tahun Patrice remaja menjadi seorang penganut Protestan.
Setelah menempuh pendidikan kodekteran selama dua tahun Patrice meninggalkan sekolah itu tanpa menggenggam ijazah. Selama dalam masa pendidikan Patrice remaja menunjukkan antusiasme yang tinggi kepada berbagai materi pelajaran yang diberikan kepadanya. Belajar menjadi suatu yang mudah bagi dirinya dan dia tumbuh menjadi remaja yang selalu ingin tau tentang berbagai disiplin ilmu walaupun ilmu tersebut tidak diajarkan di sekolahnya. Patrice remaja juga menggemari Voltaire, Rousseu, Viktor Hugo dan Moliere serta para penulis modern lainnya.
Karena rasa hausnya yang tinggi kepada ilmu pengetahuan mempengaruhi dan mendorong perkembangan pemikirannya kepada dunia buku. Banyak pertanyaan yang muncul didalam dirinya kepada guru-guru misionaris kulit putih tetapi pertanyaan-pertanyaan itu bukan merupakan pertanyaan yang lazim ditanyakan oleh seorang Afrika. Karena sebab itu maka hubungan Patrice remaja kepada guru-gurunya semakin renggang dan dia memutuskan untuk meninggalkan sekolahnya. Itulah alasan kenapa dia meninggalkan sekolahnya.
Usianya telah menginjak 15 tahun, berbadan tinggi, kurus, dan berkulit gelap. Ciri-ciri ini merupakan hal yang umum pada setiap orang Afrika seusianya. Patrice remaja pergi menuju Kindu yaitu sebuah kota di Propinsi Katanga. Tetapi seperti para imigran yang biasa pergi menuju kota untuk mendapatkan pekerjaan, Patrice juga menemui di pintu-pintu atau halaman-halaman perkantoran, pabrik, toko dan tempat-tempat usaha lainnya sebuah plank kecil yang bertuliskan “tidak terdapat lowongan pekerjaan”. Selain dibidang usaha tadi Patrice juga sangat sulit mendapatkan pekerjaan pada olonial pertambangan yang ada.
Pada akhir tahun 1939 meletus perang dunia ke 2 ditandai dengan serbuan tentara Fasis Jerman ke Polandia. Pada saat itu Negara-negara yang tergabung dengan kekuatan sekutu seperti Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, dll bahu-membahu menyusun kekuatan untuk menahan laju maju tentara Fasis Jerman menuju Eropa Barat. Perang yang memakan biaya besar ini juga membutuhkan bahan material pendukung seperti biji besi, timah, minyak, dsb.
Daerah Kindu termasuk daerah di Kongo yang mengandung cadangan deposit timah terbesar dan beberapa bahan mineral lainnya. Berduyun-duyun para pencari kerja pergi menuju kesana untuk mendapatkan pekerjaan di tambang-tambang timah dan tambang bahan-bahan mineral lainnya yang ada.
Di kota Kindu Patrice menjalin kontak dengan beberapa orang pekerja tambang. Patrice dan teman-temannya itu sering berkumpul bukan hanya sekedar membicarakan pekerjaannya tetapi mereka semua mempunyai hobby yang sama yaitu membaca buku. Dari orang-orang inilah maka terbentuk kelompok kecil yang sering melakukan diskusi bersama-sama dan Patrice termasuk pimpinan diantara mereka. Patrice terus melanjutkan hobbynya yang membaca buku itu.
Dia mengikuti dari surat kabar, majalah dan buku-buku tentang kondisi kekinian yang pada saat itu terjadi di seluruh dunia. Dia juga belajar sosiologi dan mulai belajar menulis. Pada awalnya dia belajar untuk membuat puisi tetapi puisi-puisi yang diciptakannya dirasa kurang mengena. Setelah itu dia juga menjalani profesi lain sebagai jurnalis yang kerjanya adalah menulis article dan membuat laporan berita kepada surat kabar local di Leopoldville.
Bagaimanapun juga karena tulisan-tulisannya Patrice mulai mendapat perhatian dari oloni rekan-rekan wartawan dan para pembaca setia. Kebetulan dari para pembaca setia surat kabar dan para pekerja yang berprofesi sebagai wartawan itu kebanyakan berasal dari lingkaran Katolik. Patrice muda dikenal sebagai orang yang mempunyai gaya penulisan berbeda dari para wartawan lainnya dan tulisan-tulisan yang dibuat sering kali kritis cara pandangnya. Sebagai salah satu contoh pada tahun 1948 Patrice menulis sebuah artikel yang berjudul “Mengapa beberapa orang kulit putih memperlakukan anjing peliharaannya lebih baik daripada pelayannya yang berkulit hitam?”. Tulisan Patrice menimbulkan kegemparan di kalangan kaum kolonialis tetapi di kalangan Rakyat Kongo mendapat sambutan yang hangat.
Setelah beberapa tahun Patrice tinggal di kota Kindu maka dia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota besar yang mana dia menganggap bahwa di kota itu nantinya akan mendapatkan pekerjaan yang lebih besar dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Leopodville adalah kota yang dituju. Setelah beberapa waktu sampai disana Patrice memperoleh pekerjaan di kantor pos dan dia juga mulai melanjutkan pendidikannya. Ditahun itu juga Patrice berkenalan dengan seorang gadis cantik di kampusnya yang bernama Pauline Opanga dan tidak lama kemudian gadis tersebut dinikahinya.
Sesudah Patrice menyelesaikan sekolah pegawai pos-nya dia dipindahkan ke kota Stanleyville, yang merupakan ibukota propinsi Orientale. Dia diangkat menjadi manager kantor pos cabang desa Yangambi dekat Stanleyville.
Dikota Stanleyville ini pandangan dia sebagai seorang pejuang untuk kemerdekaan dan pembebasan Kongo semakin tampak. Dia dengan cepat mendapatkan dukungan, dikenal serta dihormati sebagai tokoh progresif di kota itu. Pada pemilihan ketua ANPBC (Association of Native Personnel of Belgian Congo) di kota Stanleyville Patrice terpilih menjadi ketua organisasi tersebut. Banyak teman-temannya datang ke tempat tinggalnya hanya sekedar berkunjung atau juga melakukan diskusi persoalan-persoalan politik terkini.
Beberapa tahun belakangan ini Patrice dan rekan-rekan sejawat lainnya melihat dengan jelas bentuk-bentuk halus kolonialisme modern di Congo yang bersembunyi dibalik kata-kata “peradaban”. Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah bukan pembangunan peradaban Rakyat Kongo melainkan perbudakan modern dari pemerintah kolonialisme Belgia terhadap Rakyat Kongo.
Kondisi-kondisi buruk, penghinaan dan eksploitasi dari kaum kolonialis asing menyebabkan Rakyat menjadi tidak tahan, karena tekanan yang bertubi-tubi tersebut timbul diantara sebagian masyarakat kesadaran untuk melakukan perlawanan guna membela hak-haknya yaitu Pembebasan Nasional Kongo dari kekuasaan kaum Kolonial Belgia.
Pada tahun 1945 setelah selesainya perang dunia ke 2 banyak terjadi pemogokan di Kongo. Salah satu diantaranya adalah pemogokan buruh pelabuhan di Matadi. Slogan-slogan anti Kolonial juga sudah dikumandangkan pada pemogokan-pemogokan besar dari para buruh tambang dan para pegawai kantoran yang terjadi tahun 1949-1950 di Leopodville. Tahun 1952 ditandai dengan kebangkitan gerakan Pembebasan Nasional di Kongo yang semakin besar sehingga mengguncang fondasi rezim Kolonial.
Kesadaran politik untuk Pembebasan Nasional diantara segenap Rakyat Kongo tumbuh dengan sangat cepat. Pada saat itu kesadaran untuk bebas dan merdeka umumnya memang tumbuh berkembang di benua Afrika. Hal itu menandakan mulai collapse-nya aturan Colonial di Afrika. Mitos yang berkembang selama ini mengenai peradaban barat yang akan membantu masyarakat Afrika primitive dan terbelakang menjadi masyarakat modern menjadi terpatahkan dengan kebangkitan Rakyat Afrika menentang Imperialisme dan Kolonialisme. Mitos-mitos tersebut adalah illusi belaka dan memang sering ditiupkan oleh kaum Kolonialis.
Selama berdekade-dekade kaum Kolonialis Belgia membangun mitos untuk menjadikan Kongo “koloni yang sangat baik” dimana terdapat “keharmonisan” antara penduduk asli dan kaum “penerang” Belgia serta kaum industrialist Eropa. Dan ini menjadi percontohan bagi daerah-daerah koloni yang lain di Afrika.
Sebagai perbandingan gaji yang diterima oleh pegawai orang Belgia selama 1 tahun berkisar sekitar 500 ribu francs, sedangkan gaji yang diterima oleh pegawai tinggi Kongo yang bekerja di pertambangan berkisar 15 ribu francs dan itu adalah penghasilan maksimal yang dapat diperoleh.
Keuntungan besar dari kaum colonial yang lainnya adalah penguasaan terhadap kekayaan sumber-sumber daya alam, seperti tambang. Ini mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Propaganda dari kaum Kolonial mengatakan bahwa hasil keuntungan dari pengusahaan dan penjualan hasil tambang tersebut akan dikembalikan kepada Rakyat Kongo dalam bentuk pembangunan infrastruktur kota dan desa serta membangun sekolah-sekolah. Tetapi kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan merupakan kebohongan besar, Rakyat Kongo hidup dibawah garis kemiskinan, sangat sedikit putra dan putri Kongo yang dapat mengenyam pendidikan, infrastruktur kota dan desa rusak parah kecuali beberapa tempat dikota besar yang mempunyai hubungan langsung dengan daerah pertambangan.
Terdapat 5 perusahaan monopoly besar yang dikelola oleh kaum Kolonial Belgia yang mengontrol 90 percent dari investasi di Kongo. Modal Belgia memainkan peranan yang dominan didalam ekonomi Kongo tetapi peranan kaum Imperialis Inggris dan Amerika juga tidak kalah besar karena mereka juga mempunyai share sebanyak 25 percent di perusahaan-perusahaan monopoly itu. Berarti lengkap sudah penderitaan Rakyat Kongo yang dijajah oleh para pengusaha kaya dari Belgia, Inggris dan Amerika. Penjajahan itu dibacking oleh pemerintahan Kolonial Belgia yang bersenjata lengkap.
O.P. Gilbert seorang penulis buku ternama dari Belgia pada tahun 1947 menulis sebuah buku yang berjudul “The Empire of Silence”. Buku ini hanya diterbitkan di Belgia tetapi sangat dilarang di Kongo. Diam-diam buku ini dibaca oleh kaum Progressive. Buku itu menggambarkan bagaimana kemurahan hati dan penindasan kaum Kolonial di Kongo. Tambang-tambang, pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan dan perusahaan-perusahaan komersial dimiliki oleh “Societe Generale” dan beberapa kartel.
Kartel-kartel itu tampak seperti negara dalam negara dan cabang-cabangnya di daerah seperti juga menyerupai negara. Untuk mengelola perusahaan-perusahaan itu mereka memiliki ribuan pekerja tehnik dan pekerja tambang kulit putih yang membawahi 10 ribu pekerja kulit hitam. Mereka mempunyai pasukan polisinya sendiri dan mempunyai alat propagandannya sendiri. Mereka membiayai segala urusan yang berbau dengan bisnis dan berada di semua penjuru wilayah Kongo serta memerintah bagaikan Tuan Besar. Mereka menentukan apa saja terutama nasib kaum Buruh.
Lumumba belajar banyak tentang arti modal, kekayaan dan kekuasaan dari buku tersebut. Dia mempunyai pengalaman bagaimana mendapatkan perlakukan yang bar-bar dan sewenang-wenang dari kaum Kolonialis yang menganggap bahwa ratusan ribu Rakyat pekerja itu seperti budak. Dengan semangat yang menggebu-gebu sebagai seorang pejuang Rakyat, Lumumba muncul sebagai seorang yang melawan aturan sewenang-wenang. Dia menghimbau Rakyatnya agar berperan aktif berjuang untuk mendapatkan hak-haknya sebagai manusia.
Pemerintahan colonial yang menyaksikan semakin berkembangnya pengaruh Lumumba menjadi cemas dan pada tahun 1956 tanpa alasan yang jelas Lumumba di tangkap serta dimasukkan kedalam penjara dengan vonis 18 bulan. Rakyat kota Stanleyville menunjukkan solidaritas yang tinggi atas penangkapan tersebut dan mengorganisasikan sebuah seruan untuk bersolidaritas atas perjuangan Lumumba dan kawan-kawan.
Setelah dia dibebaskan pada bulan Juni tahun 1957, Lumumba pindah menuju kota Leopodville, dimana dia mendapatkan pekerjaan di perusahaan minuman ringan dan bir. Pekerjaan ini memungkinkan Lumumba untuk bepergian ke luar kota atau daerah pinggiran kota. Lumumba banyak bertemu dan berbincang-bincang dengan orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Situasi ini membuat Lumumba menjadi seorang orator yang ulung karena sering berpidato didepan Rakyat dan karena ini pula maka Lumumba semakin popular menjadi figure yang dikenal di kota Leopodville dan lingkungan sekitarnya.
Karena aktifitasnya ini membuat Lumumba menjadi seorang politikus dan menjadikannya sebagai ketua dari Federasi Batetela. Karena mewakili organisasi itu Lumumba datang menghadiri pertemuan partai Liberal. Tetapi aktifitas politik ini tidak juga memuaskan dirinya karena dia mempunyai satu tujuan yaitu penghilangan perbudakan di tanah Kongo dan dengan segera menuntut kemerdekaan negaranya. Kemerdekaan sejati dari Rakyat Kongo bebas dari penjajahan kaum Kolonialis Belgia.
Untuk mewujudkan cita-citanya itu Lumumba berusaha mendirikan partai politik. Partai politik yang didirikannya itu merupakan partai Politik dari Rakyat Kongo bukan partai politik yang berdasarkan kesukuan, yang bercita-cita memperjuangkan kemerdekaan Negara Kongo.
Buat Rakyat Kongo ide partai seperti itu adalah sesuatu yang baru dan Revolusioner. Selain itu partai ini juga dibentuk untuk menandingi partai Abako yang dipimpin oleh Kasavubu. Partai Abako didirikan pada tahun 1950 dan basis pengikutnya berasal dari suku-suku tertentu. Partai yang seperti ini sangat didukung keberadaannya oleh pemerintahan Kolonial Belgia karena menjadikan Rakyat Kongo terbagi-bagi menjadi beberapa etnik yang berdasarkan kesukuan sehingga mudah di adu domba satu sama lain. Hal ini dilakukan agar terjadi perpecahan diantara Rakyat Kongo sehingga persatuan dan perjuangan Rakyat Kongo untuk Pembebasan Nasional dari kaum Kolonialis Belgia tidak akan pernah terwujud.
Karena idenya ini maka Lumumba semakin popular di mata Rakyat Kongo. Popularitasnya ini tidak hanya terbatas pada Negara Kongo tetapi juga mulai terdengar seantero benua Afrika. Sebagai contoh berikut ini adalah kutipan dari laporan luar negeri Inggris:
Lumumba seorang pekerja keras, dari fisiknya saja tampak seorang yang cerdas dan pemberani. Dia adalah seorang nasionalis sejati yang sangat anti kepada politik suku-isme dan wilayah-isme. Lumumba terlihat sebagai seorang politkus Kongo yang mempunyai keinginan dan ambisi untuk menyatukan Rakyat Kongo.
Tahun 1958 ditandai dengan semakin besarnya aktifitas Rakyat Kongo dalam dunia politik maka didirikanlah di Leopodville sebuah partai politik dengan nama Partai Nasional Kongo (CNM - Congo National Movement) yang dipimpin oleh Patrice Lumumba. Program politknya seperti yang ditetapkan pada tanggal 10 Oktober 1958 adalah menolak segala politik kesukuan dan politik wilyah serta bersama-sama dengan Rakyat Kongo menuntut penentuan nasib sendiri (self determination) oloni Kongo. Dan jika Kongo sudah merdeka dengan segera menyatukan segenap wilayah yang terpecah-pecah akibat politik suku dan wilayah itu.
Lumumba dan partai CNM tidak hanya membatasi perjuangan untuk menentang Kolonialisme pada wilayah Kongo tetapi juga menyuarakan gerakan anti Kolonial keseluruh penjuru Benua Afrika dan juga menggalang solidaritas Rakyat Afrika anti Imperialis. Karena solidaritas tersebut CNM juga membangun kontak dengan berbagai organisasi perlawanan Afrika yang lainnya. Pada bulan December 1958 Lumumba datang menghadiri Konferensi Rakyat Afrika di Accra dan pada acara tersebut Lumumba terpilih menjadi anggota komite Rakyat Afrika.
Terjadi kejadian yang dramatic sekembalinya Lumumba dari konferensi Rakyat Afrika di Accra. Pada tanggal 4 January 1959 ketika sedang melakukan perjalanan keliling di Leopodville untuk mensosialisasikan hasil-hasil keputusan konferensi maka pemerintahan Kolonial Belgia dengan segera melarang acara rally tersebut karena acara itu dianggap sebagai bagian dari gerakan Pembebasan Nasional. Tetapi himbauan dan larangan pemerintahan Kolonial itu tidak digubris, 15 ribu orang berbaris dengan rapih berpawai keliling kota dengan tujuan akhir berkumpul di Leopodville’s Victory Square untuk mendengarkan pidato Patrice Lumumba. Dibeberapa posisi strategis di dalam kota dijaga oleh ribuan aparat kepolisian dengan senjata lengkap. Keadaan semakin memanas dan akhirnya gesekan tidak dapat dihindari. Ketika barisan massa berusaha melewati daerah pusat kota yang dipasang barikade kawat berduri terdengar tembakan salvo dari aparat kepolisian yang berjaga-jaga, kekacauan mulai timbul karena dari tengah-tengah belasan ribu demonstran itu jatuh korban, puluhan orang tewas tertembak di tempat dan ribuan lagi bertahan diberbagai tempat melakukan perlawanan dengan menggunakan batu, bom Molotov, dsb.
Rakyat Kongo yang berada di kota Leopodville segera melakukan pembalasan atas penembakan brutal dari aparat kepolisian. Pos-pos polisi yang berada di pinggiran kota diserang, kantor-kantor dan toko-toko yang dimiliki oleh orang-orang Belgia dan Portugis di distrik Afrika dibakar. Pertempuran jalanan terjadi selama 3 hari 3 malam. Aktivitas bisnis terhenti selama aksi-aksi perlawanan itu. Spontanitas dari perlawanan massa itu menandai sebagai dimulainya gerakan perlawanan untuk kemerdekaan.
Karena besarnya perlawanan dan tekanan yang diberikan oleh Rakyat Kongo maka pemerintahan Kolonial Belgia memberikan beberapa konsesi. Pada tanggal 13 January, Raja Baudouin dari Belgia secara samar-samar memberikan janji Rakyat Kongo untuk kemerdekaan negerinya suatu hari kelak.
Lumumba dan rekan-rekannya yang lain langsung bekerja lebih keras dan giat lagi. Tuntutan dari perjuangan yang dilakukan oleh mereka sekarang adalahKEMERDEKAAN!!
Lumumba melakukan perjalanan ke distrik-distrik dan kota-kota, mengorganisasikan pertemuan-pertemuan dan melakukan pawai rally setelahnya. Selain itu dia juga mendirikan komite-komite distrik dan propinsi untuk partai CNM. Aktivitas Lumumba ini dinamakan “perjalanan menuju kemenangan”. Salah satu kota yang menjadi tujuan dari tour Lumumba adalah Elisabethville. Kota ini adalah basis terkuat dari Serikat Buruh kuning Miniere dan partai reaksioner pendukung pemerintahan Kolonial Belgia yaitu Partai Conakat yang dipimpin oleh Tshombe. Tetapi walaupun dalam kondisi yang mencekam pawai itu tetap dilakukan dan sukses dihadiri oleh ribuan penduduk kota.
Pada bulan April 1959, saat kongres pertemuan dari partai-partai politik Kongo, Lumumba kembali mengungkapkan cita-cita kemerdekaan Kongo. Dia menghimbau agar kongres segera melakukan persiapan dan finalisasi untuk kemerdekaan Kongo yang sedianya akan dilakukan pada tanggal 1 January 1961 serta membentuk pemerintahan dari Rakyat Kongo sendiri.
Kongres dari Partai Nasional Kongo dilakukan pada bulan Oktober 1959 di Stanleyville. Dengan dipimpin oleh Lumumba sendiri kongres menghasilkan resolusi untuk melakukan pertemuan antara wakil-wakil Rakyat Kongo dengan pemerintahan Kolonial Belgia dan dalam pertemuan itu nanti akan diserahkan petisi untuk menuntut kemerdekaan Kongo.
Karena melihat partisipan kongres itu dihadiri oleh ribuan Rakyat Kongo maka pemerintahan Kolonial Belgia melakukan aktifitas reaksioner dengan cara melakukan berbagai usaha provokasi. Pawai damai disekitar acara kongres disambut dengan tembakan yang brutal dari aparat kepolisian dan tentara Belgia. Puluhan orang tewas dan ratusan lagi terluka. Beberapa hari kemudian keluarlah surat penahanan dengan tuduhan “menghasut Rakyat Kongo” dan “mengganggu ketertiban umum” dari pemerintahan Kolonial Belgia untuk Lumumba dan beberapa orang rekannya. Setelah menerima surat tersebut Lumumba bersama beberapa orang rekannya langsung digiring ke penjara oleh polisi Belgia.
Tetapi tindakan represi yang dilakukan oleh kaum Kolonialis tidak menyurutkan semangat Rakyat Kongo untuk menuntut kemerdekaannya. Walaupun beberapa orang pimpinan mereka dijebloskan kedalam penjara tetapi hampir tiap hari terlihat aksi-aksi pawai massa dijalan yang menyuarakan kemerdekaan bagi Kongo dan juga tuntutan untuk dilepaskannya para tahanan politik.
Karena tekanan yang dilakukan oleh kaum progresif dan Rakyat Kongo semakin hari nampak kian membesar dan juga pertumbuhan dari organisasi-organisasi Rakyat dari seluruh penjuru negeri yang menuntut kemerdekaan juga semakin banyak maka pada akhir January 1960 pemerintahan Belgia menggagas sebuah pertemuan dengan nama “konferensi meja bundar”. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pemimpin politik “moderate” dari Rakyat Kongo dan wakil pemerintahan Belgia. Dalam pertemuan itu dibahas mengenai soal-soal yang menyangkut kemerdekaan Kongo dikemudian hari.
Tanggal 18 January 1960 secara diam-diam Lumumba dan beberapa orang rekannya dipindahkan secara diam-diam dengan tangan terborgol dari penjara di kota Stanleyville ke kota Jadotville yang merupakan kota industry di distrik Katanga dan menjadi basis utama dari Serikat Buruh Kuning Miniere. Dua hari setelah berada di Stanleyville sebetulnya ada usaha dari pemerintahan Kolonial Belgia untuk memberangkatkan Lumumba dan kawan-kawannya ke Belgia, tetapi usaha reaksioner ini ditolak dan segala upaya pemaksaan akan dilakukan perlawanan. Karena sikap yang tidak kooperatif ini maka kaum kolonialis membatalkan rencana tersebut. Dan setelahnya karena tidak ada bukti dari tuntutan yang diajukan oleh pemerintah Kolonial maka Lumumba dan kawan-kawan dibebaskan oleh pengadilan.
Pada “konferensi meja bundar” tersebut pemerintahan colonial Belgia sengaja hanya mengundang perwakilan dari kelompok moderate Rakyat Kongo dari 81 delegasi Kongo yang hadir, 22 diantaranya adalah perwakilan dari National Progress Party (NPP), yang mana setiap aktifitas politiknya dibiayai oleh pemerintahan Kolonial Belgia. Kaum Kolonialis berharap dapat mendikte keputusan yang dihasilkan oleh konferensi itu. Dan konferensi berakhir pada tanggal 30 Juni 1960 bertepatan dengan hari di proklamirkannya kemerdekaan Kongo.
Musim semi tahun 1960, Patrice Lumumba tengah sibuk mempersiapkan diri dan partainya untuk mengikuti pemilihan parlement yang dilakukan untuk pertama kalinya di Kongo. Pemilihan umum yang dilakukan pada tanggal 17-19 Mei 1960 menghasilkan kemenangan pada CNM. Partai yang dipimpin oleh Lumumba memperoleh 34 kursi di parlement. Setelah kemenangan yang dramatis itu maka CNM yang melakukan aliansi dengan Partai Solidaritas Afrika - African Solidarity Party (ASP) yang dipimpin oleh Antonie Gizenga, Partai Balubakat dan beberapa partai yang lain, menerima mandate untuk membentuk satu pemerintahan Rakyat Kongo dengan Patrice Lumumba terpilih menjadi Perdana Menteri. Dengan terpilihnya Patrice Lumumba sebagai Perdana Menteri berarti menandakan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rakyat Kongo memiliki pemerintahannya sendiri. Pada tanggal 30 Juni 1960 Patrice Lumumba membacakan proklamasi kemerdekaan Negara Kongo yang mana hal tersebut menandakan berakhirnya perbudakan colonial di tanah Kongo.
Berikut adalah cuplikan dari pidato kemerdekaan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Patrice Lumumba:
“Men dan women of the Congo
Victorious independence fighters,
I salute you in the name of the Congolese Government. I ask all of you, my friends, who tirelessly fought in our ranks, to mark this June 30, 1960, as an illustrious date that will be ever engraved in your hearts, a date whose meaning you will proudly explain to your children, so that they in turn might relate to their grandchildren dan great-grandchildren the glorious history of our struggle for freedom.
“……………………The Congo independence is a decisive step towards the liberation of the whole African continent.
Our government, a government of national and popular unity, will serve its country.
“……………………Eternal glory to the fighters for national liberation!!
Long live independence and African unity!!
Long live the independent and sovereign Congo!!”
Setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan maka sambutan dari segenap anggota parlemen yang hadir sangat meriah. Di luar gedung parlemen puluhan ribu Rakyat Kongo berkumpul riang gembira menyambut pembacaan proklamasi kemerdekaan Kongo.
Pemerintahan Kolonial Belgia goyah dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan. Jika mereka tetap bertahan di Negara Kongo pasti terjadi banjir darah, Rakyat Kongo akan mempertahankan kemerdekaannya dan untuk itu siap melakukan perlawanan dalam bentuk apapun.
Tuntutan lain yang dibacakan oleh Parlemen Kongo setelah proklamasi kemerdekaan adalah penarikan semua pasukan dan polisi Belgia yang berada di seluruh wilayah Kongo, karena hanya dengan cara tersebut yang dapat memulihkan situasi keamanan yang selama ini goyah. Untuk mengawal proses peralihan pemegang kekuasaan dari pemerintahan Kolonial Belgia ke pemerintahan Rakyat Kongo akan dipanggil pasukan PBB untuk melakukan pengamanan.
Ditengah sambutan suka cita Rakyat Kongo karena kemerdekaan negerinya propinsi Katanga yang berada dibawah pengaruh Moise Tshombe melakukan pengumuman pemisahan diri dari Republik Kongo. Tshombe yang merupakan agen imperialis Belgia tidak menyetujui keputusan parlemen Kongo dan tengah bersiap-siap mempersenjatai diri dengan bantuan uang dari kaum Kolonial untuk menggagalkan semua daya upaya yang dilakukan Patrice Lumumba dan kawan-kawan. Tshombe ketika jaman pendudukan Belgia adalah seorang pengusaha besar yang mempunyai link bisnis dengan para pengusaha besar Belgia dan banyak perusahaan-perusahaan Belgia itu dipercayakan untuk dikelola oleh dirinya.
Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Kongo adalah Uni Sovyet. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Kongo, Uni Sovyet membuka perwakilannya di Stanleyvile. Selain itu Uni Sovyet dengan segera memberi bantuan berupa makanan, obat-obatan, alat-alat transportasi berupa motor dan mobil, pengiriman dokter-dokter ahli, serta membantu mendidik Rakyat Pekerja Kongo agar dapat membangun infrastruktur berupa jalan, rumah, jalur kereta api, dsb. Semua itu menandakan tanda dimulainya persahabatan yang erat antara Rakyat Kongo dan Rakyat Uni Sovyet.
Didalam negeri dihembuskan isyu oleh agen Imperialis Tshombe bahwa Patrice Lumumba dan CNM adalah komunis. Dalam sebuah wawancara dengan Koran perancis “France-Soir” pada tanggal 22 Juli 1960 sang wartawan menanyakan sbb:
Tanya: beberapa lawan politik anda menyatakan bahwa anda adalah seorang komunis, bagaimana anda menjelaskan hal ini?
Jawab: ini adalah propaganda yang bertujuan untuk menjelekkan diri saya. Saya bukan seorang komunis. Kaum Kolonial berkampanye untuk melawan diri saya keseluruh negeri disebabkan karena saya adalah seorang revolusioner yang selalu konsisten menuntut kemerdekaan Negara Kongo dan menuntuk untuk digulingkannya rezim Kolonial Belgia. Rakyat Kongo menuntut kemerdekaan sebab pemerintahan Kolonial tidak menghargai martabat kemanusiaan. Kaum Kolonial memandang saya sebagai komunis karena saya menolak segala sogokan dari agen-agen imperialist!!
Sejak tanggal 16 July 1960 pasukan perdamaian PBB datang ke Kongo, sejak awal parlemen Kongo mengamanatkan bahwa segera dilakukannya penarikan pasukan, polisi dan petugas administrative Belgia di Kongo. Tetapi setelah beberapa waktu pasukan PBB datang ke Kongo tidak terlihat usaha-usaha dari pihak PBB dan pemerintahan Belgia untuk menarik mundur aparatnya keluar dari Kongo. Malahan yang terjadi terlihat dilapangan pasukan PBB itu justru memperkuat kekuasaan pemerintahan Kolonial Belgia. Komunikasi dan kordinasi pasukan PBB justru dilakukan bukan kepada pemerintahan Rakyat Kongo pimpinan Patrice Lumumba tetapi kepada kaum Kolonial dan kelompok agen
Imperialis Tshombe.
Dengan semakin kokohnya kekuasaan pasukan PBB di Katanga maka Tshombe yang bekerjasama dengan pemerintah Belgia mengadakan persiapan latihan militer untuk melawan pemerintahan yang syah di Leopodville. Pasukan PBB yang datang ke Kongo bukannya bersikap netral malahan berpihak kepada kaum pemberontak dan agen Imperialis Tshombe. Pemerintahan Kolonial Belgia juga mulai pindah ke Katanga. Tindakan represi yang brutal mulai dilakukan oleh para pengikut Tshombe kepada Rakyat Katanga yang dicurigai sebagai pendukung CNM. Tidak ada tindakan pengutukan dari pasukan dan perwakilan PBB akan berbagai aksi kekerasan yang dijalankan oleh para pengikut Tshombe.
Dunia Barat terdiam membisu melihat kejadian-kejadian brutal di Katanga. Pemerintahan Belgia, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dll sibuk di pertemuan PBB mengecam Patrice Lumumba dan kawan-kawanya sebagai orang-orang komunis yang merupakan Agen Uni Sovyet.
Pada bulan Agustus 1960 terjadi demonstrasi yang hebat di seluruh penjuru negeri untuk mengutuk peristiwa pembantaian di Katanga. Karena derasnya tekanan dari Rakyat Kongo maka Dewan Keamanan PBB berjanji akan mengusut tuntas pembantaian itu dan akan menyeret serta mengadili pihak-pihak yang bersalah.
Situasi yang bergejolak di seluruh Kongo ini berakhir anti klimaks dengan dikudetanya pemerintahan PM Patrice Lumumba pada tanggal 14 September oleh Kolonel Joseph Mobutu (yang nantinya dikenal dengan nama Mobutu Sese Seko, seorang dictator korup yang berkuasa di Kongo/Zaire sekitar 35 tahun) yang bekerjasama dengan Presiden Kasavubu dan menteri luar negeri Bamboko. Presiden Kasabuvu menyatakan bahwa PM Patrice Lumumba gagal dalam menjalankan pemerintahannya sehingga menurut undang-undang yang berlaku mandate harus dikembalikan kepada ketua parlemen yaitu Mr. Joseph Ileo.
Perdana Menteri Patrice Lumumba dan rekan seperjuangannya yaitu Mr. Okito - Wakil ketua parlemen dan Mr. Polo - Menteri Pemuda ditahan oleh tentara ANC (Army National Congo) yang dikepalai oleh Kolonel Joseph Mobutu. Lumumba dkk dibawah menuju sebuah kamp pengungsi Ghana yang dikontrol oleh tentara di Leopodville. Setelah tidak lama berada di kamp tersebut Lumumba dkk di serahkan kepada pasukan PBB. Oleh pasukan PBB Lumumba dkk dikenakan tahanan rumah.
Beberapa lamanya Lumumba, Mr. Polo dan Mr. Okito menjalani tahanan rumah. Sampai pada sekitar akhir bulan November 1961 Lumumba dkk berhasil melarikan diri, tetapi ketika dalam perjalanan menuju Stanleyville untuk bergabung bersama pasukan pemberontak yang melawan tentara ANC pimpinan Kolonel Joseph Mobutu, Lumumba dkk berhasil di tangkap oleh pasukan ANC dalam satu operasi militer di daerah Mweka. Menurut satu kesaksian sebelum ditangkap oleh tentara, Lumumba sehari sebelumnya masih terlihat berpidato di depan Rakyat Mweka. Setelah ditangkap maka Lumumba dkk dibawa ke Fort Francqui untuk selanjutnya diterbangkan dengan pesawat menuju Leopodville.
Pada tanggal 2 december 1960 jam 5.15 pm di Njili airport Lumumba dkk tiba dan langsung dibawa oleh tentara dengan pengawalan yang sangat ketat dengan tujuan yang tidak diketahui. Tanggal 3 December Lumumba dkk dipindahkan menuju kamp Hardy di Thysville. Setelah ditahan lebih dari sebulan dan menjalani siksaan yang sangat kejam Lumumba dkk pada tanggal 17 january 1961 dipindahkan ke Elizabethville, Katanga. Dan pada hari itu juga Patrice Lumumba, Mr. Okito dan Mr. Polo dihukum mati oleh tentara pimpinan Tshombe.
Sewaktu didalam penjara Thysville Patrice Lumumba masih sempat membuat surat untuk istrinya dan berhasil diselundupkan keluar penjara. Berikut adalah cuplikan surat tersebut:
“My dear wife, I am writing these words to you, not knowing whether they will ever reach you, or whether I shall be alive when you read them.
Throught out my struggle for independence or our country I have never doubted the victory or our sacred cause, to which I and my comrades have dedicated all our lives.
“………….. I know and feel deep in my heart that sooner or later my peoples will rid themselves or their internal dan external enemies, that they will rise up as one in order to say “No” to colonialism, to brazen, dying colonialism, in order to win their dignity in clean land”.
“……… Without dignity there is no freedom, without justice there is no dignity and without independence there is no free men”.
“……… It will be the history that will be taught in the countries which have won freedom from colonialism and its puppets.
Africa will write its own history and in both north and south it will be history of glory and dignity.
Do not weep for me. I know that my tormented country will be able to defend its freedom and its independence.
Long live the Congo!
Long Live Africa!”
DAFTAR PUSTAKA
• The Black Panther, Saturday January 16, 1970.
• Patrice Lumumba – Fighter for Africa’s Freedom, Progress Publishers Moscow, 1963







