Ketika musim hujan telah tiba
Hati riang dengan gembira
Rintik hujan dan buihnya angin
Bukan suatu penghalang baginya
Janji memang janji tugas memang tugas
Karna kewajiban sang petani
Dinginnya rintik hujan, keroncongan
perut yang lapar menjanjikan kehidupan
hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan
Bulanan jerih payah yang dinantikan, betapa
bahagianya panen raya telah tiba
Tapi apalah arti dari petani
perut yang keroncongan, dinginnya rintik hujan,
bahkan keringat yang berluluran
yang menjanjikan sanak keluarga bahagia
hanya bisa menahan isak tangis di dada
Begitu sanghyang sri yang hanya seharga 10,5 rupiah.
*Syair: Silfia Fitri Yani (Cilamaya), ditulis tahun 2004. Saat itu berusia 13 tahun.
Bagaimana nasibku ini
dengan era globalisasi
Petani tersisihkan
Korupsi diagung-agungkan
Air yang jernih
sudah tercemar limbah
Padi yang berwarna kuning emas
kini jadi pudar
Di mana janji-janji pejabat
yang ingin mengayomi petani
Mungkinkah, mimpi-mimpi petani
menjadi kenyataan.
*Syair: Suharna (Cilamaya), ditulis tahun 2004. Saat itu berusia 22 tahun.
Pak tua
dengan cangkul di pundaknya
berangkat dari ujung masa
walau tak seramah bahasa zaman menyapa
pak tua berjalan
dari sepanjang pematang kebijakan
yang mengurung dengan segala rujukan
lapar di dalam lumbungnya wajah keadilan
petani tua, sesampainya di sawah
dia hanya terduduk, dipeluk lelah
ucapnya yang tersendat dan terbata-bata
"selamat tinggal cangkulku yang setia"
lihatlah, lihatlah sendiri
hamparan ladang luas berubah menjadi industri
hijau sawah sawah akan menjadi sebuah mimpi
di mana anak cucu kita tak pernah tau lagi bertani
lihat, lihatlah sendiri
ke mana burung burung bangau akan pergi
di sana sini sudah tak ada tempat tuk bermain
di sini yang terdengar hanya bisingnya suara mesin
dengar, dengar apa itu Birokrat
yang datang seperti wujud malaikat
angin yang berhembus aroma sangat menyengat
mengapa kenyataan, berubah menjadi tali menjerat
pak tua berkata
dalam kesendiriannya rana meratap
sebenarnya apa yang dikehendaki sang penguasa
apakah aku sebuah batu yang menjadi penghalang saja
sang surya, mohonkan ampunan pada penguasa
bukankah kami memberi apa yang mereka minta
bukankah kami sudah menjadi apa yang mereka inginkan
mengapa selalu kami yang harus tersingkirkan
kami bayar pajak
seperti yang penguasa canangkan
kami bayar iuran dengan tunai
karena itu adalah kewajiban
di manakah? engkau yang menguasa
di saat kami membutuhkan pertolongan
di manakah saat sawah-sawah kami kekeringan
di manakah? atau kami harus mencari kemana
jangan sentuh dunia kami yang kecil dan damai
kami hanya penonton adegan perebutan kekuasaan
atau tiada beda masa lalu dengan masa depan
yang menulis cerita seribu penindasan.
*Syair: Tanu Umbara, ditulis tahun 2004. Saat itu berusia 34 tahun.
Coba sejenak kutengok
Tempatku dulu mengasing diri
Tak jauh beda di kota ini
Tikus-tikus zaman meresahkan
Menggagalkan panen masa depan
Anjing-anjing berkeliaran
Menggonggong mencari dukungan
Membual
Bulshit!
Pribadi-pribadi kulit kehidupan
Gila dengan kursi raja hutan
Saling hantam
Saling tikam
Menggonggong terus-terusan
Dengan menyanyikan lagu-lagu sumbang
Si gila kursi raja hutan
Coba bawa-bawa nama Tuhan
ih....
Memalukan!
Kota ini
Kota hutan
tempat saling tikam dan saling hantam
Gila mendapatkan
Topi dan kursi raja hutan
*Syair: Tatang Affandi (Cilamaya), ditulis tahun 2004. Saat itu berusia 22 tahun.
Lentera Desaku yang hilang
kini telah redup
bagai tertiup angin toupu
hingga gelap gulita menyelimuti Desaku
Entah harus ku mulai dari mana
apa dari pejabat pejabat yang korup
apa dari rentenir rentenir pencekik leher rakyat
atau dari Fir'aun yang kejam dan keji
Fenomena Desaku tlah suram
seraya Desaku tenggelam oleh air mata
Kegelisahan kegelisahan terus menghantui rakyat kecil
walau rakyat menjerit, kau diam tak bergeming
Lentera Desaku kini tlah jadi memori
sinarnya yang indah tlah padam
bayang bayangmu yang indah tlah hilang
walau harus mengorbankan keindahannya
Angin apa yang tlah memadamkan lentera Desaku
Badai apa yang tlah menghancurkan lentera Desaku
Gempa apa yang tlah menelan lentera Desaku
yang sekian lama aku jaga
Tuhan
di mana rasa keadilan-MU
di saat kami butuh Kau tak mendengar
di saat kami butuh mu'jizat-MU Kau tak turunkan
Oh, betapa malangnya nasib lentera Desaku
karna ulah tangan tangan Fir'aun yang anarkis
asap hitam pun hilang tertiup angin lalu
dan pelindung LENTERA-ku tlah hancur tertindas
Tuhan, mungkinkah lentera Desaku terlahir kembali
mungkinkah khalifah bijak kan bermunculan
karna kami butuh keindahan lentera Desaku.
*Syair: Tatang Supriatna (Cilamaya), ditulis tahun 2004. Saat itu berusia 24 tahun.






