Politik kelas buruh (3)
Bab IV: Perang Dunia I dan keruntuhan Internasional-II
Pada bulan oktober, 1912, Montenegro menyatakan perang terhadap Turki yang, tak lama kemudian, menjalar ke seluruh wilayah Balkan. Aroma mesiu sudah tercium sampai ke Eropa, dan hanya dibutuhkan sedikit saja percikan api untuk membuatnya meledaknya. Kantor pusat Internasional-II segera merancang rapat-rapat anti perang, dan mempersiapkan KLB ( Kongres Luar Biasa) sosialis Internasional-II yang akan di selenggarakan di Basel pada tanggal 24-25 November, 1912.
Sungguh pun dipisahkan dalam jangka waktu yang kurang dari satu bulan, kongres tersebut dihadiri tidak kurang dari 555 delegasi dari 23 negeri. Kongres juga sekaligus bertujuan sebagai ajang 'unjuk gigi' solidaritas kelas buruh internasional dalam mengantisipasi ancaman perang yang akan segera menjalar. Pada hari kedua kongres, para delegasi secara bulat telah menandatangani manifesto yang telah dirancang kantor pusat.
Manifesto Basel lah yang untuk pertama kalinya mengumandangkan bahwa perang Eropa, yang akan segera menjelang, pada hakikatnya berwatak imperialis. Manifesto Basel juga mengukuhkan posisi prinsipil perjuangan kelas buruh berkenaan dengan persoalan peperangan, yang telah di tetapkan oleh kongres Interrnasional-II di Stuttgart (1907) dan di copenhagen (1910). Manifesto Basel juga menggaris-bawahi peluang revolusi sosial yang dapat meletus menyusul pecahnya perang. Dengan mengambil contoh-contoh seperti pemberontakan Komune Paris, yang meletus menyusul perang Prancis-Prussia (Jerman) pdatahun 1871; juga revolusi 1905 di Rusia selama perang Rusia-Jepang. Manifesto tersebut antara lain juga menyatakan bahwa “Adalah suatu ketololan yang luar biasa, bila pemerintah-pemerintah yang berkuasa saat ini tidak menyadari luar biasanya ancaman perang dunia, yang dapat dengan mudah memicu revolusi kelas buruh” (Landauer, “European Socialism”, hal. 495.)
Lenin dan perwakilan-perwakilan kaum Bolshevik lainnya, pada kongres Basle ini, ‘sangat puas’ dengan resolusi tersebut. Lenin dan kawan-kawan menganggap manifesto Basel tersebut sebagai pernyataan penting tentang sikap kamu Marxis dalam menghadapi perang kaum imprealis. Sungguhpun demikian, Lenin sendiri menyadari bahwa kata-kata, pernyataan belaka, tidak lah boleh disamakan bobotnya dengan tindakan-tindakan konkrit/aksi. Lenin menyadari betul tentang kecenderungan patriotik (nasionalis) dan arus oportunisme yang sedang berkembang di dalam Internasional-II. Menurut Zinoviev, setelah selesai membaca manifesto Basel tersebut, Lenin berkata, “Mereka telah memberikan pada kita catatan-catatan yang menjanjikan, mari kita lihat seberapa besar usaha mereka untuk mencapainya."
Catatan yang menjanjikan tersebut diuji pada bulan Juli, 1914, ketika Austria dan Hungaria menyampaikan ultimatum kepada Serbia. Anggota-anggota Internasional-II langsung mananggapi krisis tersebut, dengan mengacu pada ketetapan pertama resolusi Stuttgart (1907) , yang berbunyi: “Bila sebuah perang nampaknyua akan meletus, adalah tugas kelas-kelas buruh … dan seterusnya … untuk mencurahkan dukungan… dengan mengerahkan segenap upaya dalam mencegah meletusnya perang".
Pada tanggal 19 Juli, 1914, sementara pasukan Austria sedang bergerak di Belgrade, kantor pusat sosialis Internasional-II menggelar demonstrasi anti perang besar-besaran di Jerman, Austria, Italia, Perancis dan Belgia. Demonstrasi besar-besaran itu dipindah ke Wina pada 23 agustus, 1914, dan kemudian pindah ke Paris pada tanggal 9 Agustus. Dua hari kemudian, Partai Sosialis Jerman mengeluarkan Manifesto, yang mendesak agar pemerintah Jerman tak perlu ikut-ikutan dalam perang yang mengerikan tersebut. Partai Sosialis Jerman juga menggelar rapat-rapat akbar perdamaian, yang dihadiri jutaan kelas buruh, saat Jerman mengumumkan perang terhadap Rusia. Herman Muellle, yang telah menjanjikan bahwa partainya sama sekali tak akan menyokong peperangan, di kirim ke Paris. Sehari sebelumnya, Jean James, pimpinan sosialis Perancis, terbunuh oleh seorang nasionalis fanatik.
Di tengah hawa patriotitisme membela tanah air, yang menjalar ke seluruh penjuru negeri, pimpinan-pimpinan partai sosial-demokrasi nampaknya terlalu optimis bahwa aksi-aksi dan tekanan yang mereka berikan akan dapat memaksa pemerintah-pemerintahnya menunda rencana perang mereka. Sejarah menunjukan bahwa, sungguhpun aksi-aksi demonstrasi massal mendapatkan perhatian juga dari pemerintahan negeri-negeri imperialis, namun kepentingan yang lebih besar di antara kekuatan-kekuatan imperialis—untuk memperluas cakupan kekuasaannya—membuat mereka tak kuasa menahan diri.
Setelah gagal mencegah meletusnya peperangan di antara kekuatan-kekuatan imprealis, kantor pusat dan anggota-anggota Internasional-II kemudian menimbang-nimbang saat dan cara yang paling tepat untuk mengemban tugas kedua yang di tetapkan oleh Resolusi Stuttgart: “Bila peperangan tersebut nampaknya tak dapat di cegah dengan cara apapun juga, maka upaya yang harus dilakukan ditujukan dalam rangka mendorong terjadinya percepatan untuk memanfaatkan krisis ekonomi dan politik (yang diciptakan oleh peperangan), dan untuk membangkitkan massa rakyat, agar mamacu kejatuhan kekuasaan kelas kapitalis.”
Itulah saat yang genting bagi persaudaraan internasionalisme kelas proletar untuk menguji dirinya sendiri. Menguji kapasitas anggota-anggota dan partai-partai yang tergabung di dalamnya, untuk mengatasi tekanan-tekanan kelas bojuis. Pada titik itulah kelas revolusionis sejati akan bisa dibedakan dengan kelas pengekor/pembebek, yang dapat dengan segera mengubah-ngubah prinsipnya sendiri. Seperti halnya dewasa ini—peperangan dan revolusi menyediakan batu penjuru—yang dapat membedakan kaum Marxis sejati.
Namun, kesatuan dan kebulatan tekad yang di pertunjukan oleh kaum sosialis dari berbagai negeri dalam mencegah meletusnya perang, dikacaukan oleh seruan-seruan untuk segera melakukan mobilisasi(wajib militer). Seruan-seruan wajib militer, dengan dalih menyelematkan “tanah air tercinta” ternyata disambut oleh mayoritas massa sdedemikian rupa sehingga begitu memukul solidaritas sosial Internasional.
Peperangan ternyata memecah Internasional-II menjadi tiga pengelompokan yang berbeda: kaum sayap-kanan, Kaum-tengah, kaum-kiri. Kecenderungan-kecenderungan yang telah menjalar dalam periode -periode sebelumnya, ternyata semakin dipercepat akibat peperangan. Dalam manifesto pertamanya, yang di keluarkan pada bulan Nopember, 1914, kaum Bolshevik menuding para penganjur nasionalisme—dengan dalih-dalih “patriotiknya”—hanya sekadar mencari-cari alibi bagi jalur oportunis yang telah mereka tempuh dan khotbahkan selama tahun-tahun terakhir ini.
“Mereka mengatakan bahwa keruntuhan Internasional-II adalah keruntuhan yang telah dipicu oleh oportunisme, yang tumbuh subur selama periode sejarah “masa tenang dan tanpa gejolak”—masa-masa yang kini telah lewat—namun, selama tahun-tahun terakhir ini, praktis telah mendominasi Internasional-II. Kaum oportunis memang telah lama mempersipkan landasan bagi keruntuhan tersebut, dengan menolak revolusi sosialis dan menggantikannya dengan reformasi borjuis. Dengan menentang perjuangan kelas—yang pada titik tertentu secara tak terhindarkan akan berubah menjadi perang saudara—dan dengan menganjurkan kolaborasi kelas, maupun dengan meyerukan nasionalisme borjuis—dengan topang/selubung ‘patriotisme’ membela tanah air. Atau dengan menolak kebenaran fundamental sosialisme yang telah sekian lama termaktubkan dalam manifesto Komunis): “Bahwa kelas buruh tak memiliki tanah air”. Dengan membatasi diri mereka pada cara pandang orang-orang murtad, dan bukanya menyadari keharusan untuk mengemban perang revolusiner yang sesungguhnya bagi kelas buruh sedunia, dengan melawan borjuasi di seluruh permukaan bumi ini dan, akhirnya, juga dengan terlalu mendewa-dewakan penggunaan parlementarisme borjuis sedemikian rupa, maka (mereka) melupakan bahwa bentuk-bentuk ilegal organisasi dan propaganda adalah sebuah keharusan di masa-masa krisis". (Lenin, Collected Works, Volume 21, hal. 32).
Tidaklah mengherankan bahwa mayoritas partai dan pimpinan-pimpinannya kemudian membuat manuver ‘banting setir’—peperangan yang, sebelumnya, bulan Juli, telah mereka nyatakan sebagai “agresi antar kekuatan-kekuatan imprealis”. Tidak sampai satu bulan kemudian, pada bulan Agustus, mereka menjilat ludah mereka sendiri, dengan mencanangkan perang sebagai upaya pembelaan bangsa secara umum.
Partai sosial-demokrasi Jerman menyerukan “pembelaan bangsa” dalam menghadapi Rusia. Seiiring sikap partai, anggota-anggota sosialis-demokrasi di parlemen (reichstag), memberikan suara mereka untuk mendukung pernyataan perang negeri Jerman pada tanggal 4 Agustus, 1914 . Baru saja, pada malam sebelumnya, tanggal 3 Agustus, pada rapat fraksi di parlemen, di adakan pemungutan suara yang hasilnya 14 banding 110. Hanya sekali saja suara yang menentang posisi partai, yakni suara yang menolak dukungan terhadap perang. Termasuk di antaranya adalah Haase, pimpinan kaum-tengah, dan Liebknecht, pimpinan kaum sayap-kiri. Betapapun, sehari kemudian, pada pertemuan 4 Agustus di Reichstag, Haase menyampaikan pernyataan yang sama sekali bertolak belakang. Haase menggambarkan perang sebagai sebuah “fakta suram yang tak bisa di elakan” dan, dengan demikian, “menolak untuk meninggalkan tanah air” dalam ancaman mara-bahaya dan teror yang di akibatkan negeri Belgia, yang saat itu sedang diserang dan hampir diduduki Jerman.
Di Belgia sendiri, kaum sosialis dan pimpinan-pimpinan serikat buruh berhimpun dan meyatakan dukungan mereka pada raja Albert. Bahkan Vandervelde sendiri, Ketua Sekretariat Pusat Sosialis Internasional, menyatakan kesediaannya menjadi menteri dalam kabinet perang raja Albert. Di Prancis, bukan saja kaum sosialis, bahkan kaum sindikalis—yang secara teoritik menolak segala bentuk pemerintahan—kali ini bangkit mendukung pemerintah Perancis. Rupanya, sebuah “serikat suci” yang meliputi segenap kelompok maupun partai untuk membela “la patrie” (tanah air) telah dikumandangkan.
Di Inggris, pada tanggal 1 sampai dengan 2 Agustus, 1914, memang diselenggarakan rapat-rapat akbar untuk “menghentikan peperangan”, yang diprakarsai oleh kaum sosialis dan partai Buruh. Namun, hanya beberapa hari kemudian, Partai Buruh dan Kongres Serikat-serikat Buruh memberikan dukungan penuhnya kepada pemerintahan perang. Memang, masih ada juga kecenderungan pasifis—pasif, menolak, segala bentuk kekerasan—yang di kampanyekan oleh Ramsay Mac Donald ( yang menanggalkan dari jabatannya sebagai ketua Partai Buruh), ataupun juga oleh Partai Buruh Independen, bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil kaum sosialis, yang meneruskan upaya-upaya menentang perang. Namun, jumlahnya memang sedikit. Hal-hal yang sama juga terjadi di Austria dan Hungaria.
Dengan cara seperti itulah partai-partai yang tadinya sangat berbobot tersebut jatuh ke dalam oportunisme—lewat dalih patriotisme. Melepaskan prinsip perjuangan kelas demi pembelaan tanah air dan persatuan nasional. Tunduk pada para penguasa/tuan-tuan kapitalis dan menghianati sosialisme. Tindakan-tindakan yang memalukan itu manandai keruntuhan Internasional-II, tidak hanya secara organisasional—karena peraturan peperangan melarang berfungsinya Kantor pusat sosialis Internasional—namun terutama dalam makna politik yang menentukan. Dengan demikian, Internasional-II telah lalai menjalankan tugas-tugas yang telah di perjanjikannya pada trahun 1912, yang harus dipertanggung-jawabkan oleh para pemimpinya di hadapan kelas proletar. Penghianatan yang oportunistik atas sosialisme demikian menodai dan mendiskreditkan Internasional-II, sehingga citra dan kekuatannya tak pernah bisa dipulihkan lagi (seperti masa sebelum perang).
Sikap yang selalu berubah-rubah dari pimpinan-pimpinan kaum tangah, sepereti Haase dan Kautsky, dalam hal persoalan perang, adalah sebuah ciri yang manandai watak mereka yang tidak teguh (sepanjang karir politik mereka). Lenin menggambarkan kaum tengah sebagai orang-orang yang dibimbangkan oleh pilihan untuk menjadi chauvinis-sosial atau atau internasional sejati. Pada bulan April, 1917, Lenin menuliskan:
“Kelas tengah” senantiasa bersumpah dan mengikrarkan bahwa bahwa diri mereka adalah Marxis dan internasionalis sejati, bahwa mereka selalu cinta damai dan tak ragu-ragu untuk melakukan segala ‘tekanan’ terhadap pemerintah lewat 'tuntutan-tuntutan mereka ‘agar pemerintah memastikan kelangsungan perdamaian yang di kehendaki rakyat’. Bahwa, dalam kecintaan mereka terhadap perdamaian, mereka menentang segala bentuk aneksasi (pencaplokan wilayah/negeri tertentu), dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya… singkatnya, kaum tengah senantiasa berorientasi pada persatuan, kaum tengah senantiasa menentang segala pertengkaran dan perpecahan…
Inti dari persoalannya adalah bahwa kaum tengah tak yakin pada keharusan jalan revolusioner yang sepenuh hati, tak pernah juga menyerukan revolusi dengan sungguh-sungguh. Sehingga, dalam rangka mengelakkan tanggung jawab tersebut, mereka berlindung di balik jargon-jargon ultra-kiri yang sudah usang.
Kaum ‘tengah’ terdiri dari orang-orang yang terjangkit penyangkit legalis, sangat menyandarkan diri pada kecenderungan-kecenderungan parlementarian. Orang-orang yang sudah mulai terbiasa dengan tugas dan posisi-posisi yang 'empuk '. Secara ekonomi dan historis, mereka bukanlah orang-orang yang terpisah/tersendiri dari gerakan kelas buruh. Namun, dalam proses transisi dari tahapan yang sudah lampau—tahapan antara tahun 1871sampai dengan tahun 1914—ke tahapan yang baru, mereka hanya ‘mandeg’ atau jalan di tempat saja. Sebagaimana yang kita ketahui, dalam tahapan antara tahun 1871-1914, adalah saat ketika pergerakan masih dalam tahap merangkak, tumbuh dan bertahan dalam kerja-kerja organisasional yang masih seadanya. Namun, dengan pecahnya pertarungan antara kekuatan imperialis dalam perang dunia pertama, sampailah kita pada tahapan baru, yang seharusnya merupakan pintu gerbang bagi era revolusi sosial (Lenin, Colleceted Works, Volume 24, hal. 76-77).
Namun, betapapun, perlu dicatat bahwa tidak semua partai sosialis mendukung peperangan, mengabaikan amanat yang di serukan oleh resolusi Basle. Ada dua pengecualian yang mencolok di Eropa. Di Rusia, perwakilan-perwakilan social-demokratik, yakni kaum Bolshevik dan Menshevik, keduanya menolak peperangan. Di Serbia, invasi (penyerbuan) Austria dan Hungaria, membuat sukarnya menolak teori pembelaan diri. Namun orang-orang Sosial-Demokrat Serbia (tidak seperti rekan-rekannya di Prancis dan Belgia), dengan tegas menolak segala dukungan terhadap rejim borjuasi. Mereka bersikukuh dengan menegaskan bahwa invasi (penyerbuan) Prancis dan Belgia, tidaklah cukup untuk di jadikan alasan yang syah untuk meninggalkan prinsip-prinsip kaum sosialis.
Dalam pada itu, Lenin menggambarkan Internasionalisme sejati sebagai berikut:
“Watak imternasionalisme dicirikan dengan penolakan total atas kecenderungan chauvinis-sosial ataupun sentrisme (yang di anut kaum tengah). Juga perjuangan revolusioner yang tak gentar melawan pemerintahan imperialis (asing) ataupun imperialis (borjuasi negerinya sendiri). Prinsipnya adalah ‘lawan kita yang utama sesungguhnya ada di rumah kita sendiri’. Para internasionalis sejati mengemban perlawanan yang keras terhadap ungkapan-ungkapan manis kaum pasifis sosial—dalam makna ‘sosialis di mulut’ namun pasifis borjuis dalam perbuatan; mereka adalah orang-orang yang memimpikan penciptaan perdamaian tanpa menyingkirkan/menghapuskan dominasi kapital. Mereka, sekali lagi, adalah orang-orang yang menentang segala dalih yang dikemukakan oleh orang-orang oportunis, dengan segala alasan-alasannya, berkilah bahwa pencanangan revolusi sosialis proletarian, pada saat peperangan tersebut adalah tidak tepat, karena saatnya belum tiba atau, singkatnya, mereka mengeluarkan kesimpulan sepihak bahwa revolusi tidak dapat dilancarkan pada masa-masa perang” (Lenin, Collected Works, hal. 77-78).
Lenin menunjuk Karl Liebknecht sebagai contoh, yang di penjarakan oleh pemerintah karena, dari tribun parlemen, secara terbuka, menyerukan kepada kelas buruh maupun prajurit prajurit—sebagai representasi arus revolusioner yang sedang melanda Jerman—untuk berbalik dan mengarahkan moncong senjatanya kepada pemerintah mereka sendiri. Lenin menambahkan, sambil mengutip kata-kata tajam Rosa Luxemburg, bahwa kaum sosial-demokrasi yang selebihnya tak ubahnya bagai ‘mayat-mayat kaku yang menjijikan’. Liebknecht adalah anggota sekaligus pimpinan “kelompok separatis”.
Kaum internasionalis yang paling konsisten dan berpandangan paling jauh ke depan adalah kaum Bolshevik yang di pimpin oleh Lenin. Namun, anggota-anggota Bolshevik, yang diburu dan banyak berada di pengasingan, menghadapi kesukaran/kendala dan tekanan-tekanan selama krisis peperangan tersebut. Komite Organisasi Luar Negeri, yang berfungsi sebagai kantor pusat perwakilan Bolshevik di luar Rusia, bermarkas di Paris. Komite itu pun ternyata pecah. Dua anggota komite mendaftarkan diri sebagai anggota tentara Prancis, sementara selebihnya mengundurkan diri. Jaringan yang seharusnya terjalin antara Komite sentral Bolshevik di Rusia—antara lain Zinoviev—dengan angota-anggota kantor komite sentral di luar negeri, terputus.
Ketika Lenin dan Zinoviev berangkat dari Galicia ke Swiss pada permulaan perang, mereka mengangkut semua yang masih tertinggal di sekretariat Komite Sentral Bolshevik di luar negeri.
Lenin bekerja keras untuk membangun kembali, menghidupkan lagi Sosial Demokrat (baca: organ sentral Partai). Juga memperbarui kontak, jaringan-jaringan, seksi-seksi Bolshevik yang tercerai berai, mengupayakan penyelundupan literatur-literatur partai ke dalam Rusia, dan menyerap informasi perkembangan terakhir di Rusia. Di atas segalanya, Lenin tak jemu-jemunya melancarkan polemik melawan kaum nasionalis/’patriotis’ maupun kaum tengah, tidak hanya di Rusia, tapi juga di tingkatan internasional. Secara khusus Lenin memacu kebijakan Bolshevik agar menolak keikutsertaan dalam perang.
Berikut ini adalah butir-butir pokok program yang di kedepankan oleh Lenin, pada bulan oktober, 1914 (dalam tulisannya, tentang perang dan sosial demokrasi di Rusia. Lihat Lenin, Collected Works, Volume 21).
1. Peperangan pada hakikatnya adalah beradunya kekuatan imperialis dalam tapal batas masing-masing. Pertahanan/pembelaan tanah air tak memiliki relevansi dalam agresi yang saling bertarung tersebut di atas;
2. Adalah kewajiban dari segenap proletariat yang berkesadaran kelas, untuk membela dan mempertahankan solidaritas kelasnya, juga untuk membela semangat internasionalisme, maupun keteguhan sosialisnya melawan chauvinime yang tak terkendalikan dari klik-klik ‘patriotik’ borjuis di seluruh dunia. Bila kelas buruh yang berkesadaran kelas pada akhirnya ‘angkat tangan’ dari kewajiban tersebut, maka itu berarti bahwa mereka telah mencampakkan aspirasi demokrasi dan kebebasan. Singkatnya, mencampakkan aspirasi sosialis mereka sendiri;
3. Kaum oporutnis telah menghianati prinsip-prinsip sosialisme. Untuk itu, perlawanan tanpa ampun harus ditujukan kepada mereka. Kaum oportunis tersebut adalah ‘penghianat-penghianat keji yang paling membahayakan’. Kami memandang tidak ada lagi penyatuan ataupun perdamaian dengan mereka, sebagaimana yang diusulkan oleh kaum tengah;
4. Internasional yang lama (baca: Internasional-II) telah gugur. Dan kita hanya perlu melakukan upacara penguburan sekadarnya. Yang terpenting adalah, kita harus belajar dari sebab-sebab keruntuhannya, dan segera bangkit untuk meletakkan pondasi/syarat-syarat bagi kelahiran internasional yang baru;
5. Musuh utama kita sesungguhnya ada di dalam rumah kita sendiri (baca: didalam negeri). Tugas mendesak dan strtegis kita sesungguhnya adalah mengembalikan perang imperialis menjadi perang kelas buruh bagi penggulingan yang revolusioner atas kapitalisme. Satu-satunya jalan bagi sosialisme dan perdamaian sejati adalah justru lewat akasi massa revolusioner.
Sungguhpun Trotsky tidak lagi menjadi anggota Bolshevik, namun ia tetap menerima cara pandang di atas. Trotsky masih harus mengatasi sisa-sisa kecenderungan untuk ‘rujukan’ atau ‘berbaik-baikan kembali dengan kaum tengah Rusia, maupun untuk memformulasikan posisinya setegas dan setajam Lenin. Betapapun, ia masih memiliki cara pandang internasionalis dan masih berpegang kepadanya.
Dalam otobiografinya, Trotsky mengingatkan tentang pemungutan suara pada tanggal 14 Agustus, 1914, sebagai berikut: “Hari itu membekas sebagai salah satu kenangan yang paling tragis dalam hidupku” (Aku kira Lenin juga mengalami hal yang sama). Kemudian pada tanggal 9 agustus, 1914, Trotsky kembali menulis di buku hariannya, “Jelaslah sudah bahwa persoalan yang menimpa kita, di sini, bukan lah sekadar kekeliruan atau kesalahan akibat tindakan beberapa kaum oportunis, bukannya sekadar pernyataan yang keliru di atas tribun parlemen, ataupun sekadar pemungutan suara bagi penetapan anggaran belanja partai Sosial-Demokrasi. Bukan pula dikarenakan terobosan coba-coba yang dilakukan dengan militerisme Prancis, di mana beberapa pimpinan membelot menjadi petualang. Tidak. Persoalannya adalah tentang keruntuhan Internasional-II, pada saat tanggung jawab yang sepenuh-penuhnya justru sangat di butuhkan. Saat-saat ini, keseluruhan kerja-kerja terdahulu kita masuk dalam persiapan” (Trotsky, My Life, hal. 238).
"Pada tanggal 11 Agustus 1914,” tulis Trotsky, “Aku manyatakan hal ini: hanya kebangkitan pergerakan yang berbobot, setara dengan kondisi awal peperangan, yang akan memberikan syarat-syarat bagi penegakkan Internasional yang baru. Tahun-tahun ke muka akan menjadi saksi bagi periode revolusi social” (Trotsky, My Life).
Sementara kegagalan internasional telah di ketahui secara umum oleh perwakilan-perwakilan dari kecenderungan yang berbeda-beda tersebut, namun mereka tidak memiliki kesepakatan tentang apa yang seharusnya mereka kerjakan. Kaum oportunis berkayikanan bahwa—setelah peperangan usai, dan tanah-air merka menang perang—maka Internasional akan kembali memutar roda kegiatannya. Sungguh pun konstalasi seluruh dunia telah tergeser, bahkan mengalami perubahan yang sangat besar akibat guncangan peperangan, dalam sudut pandang mereka, tidak ada hal-hal pokok yang benar-benar berubah, dan mereka sendiri untuk kembali ke cara-cara maupun sarana-sarana yang lama, ketika perdamaian sudah pulih.
Kaum tengah, yang menyesuaikan diri dengan kaum oportunis, berusaha untuk menutup-nutupi keruntuhan Internasional-II. Mereka bimbang, dan menolak untuk memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum ‘patriot’ (nasionalis). Mereka terilusi dengan kemungkinan untuk membenahi Internasional yang lama, dan tak bersedia menanggung konsekwensi untuk membangun Internasional dengan landasan yang sama sekali baru.
Dalam berkilah tentang kegagalan Internasional-II, Kautsky kemudian berdalih bahwa, “Internasional-II adalah instrumen saat perdamaian, dan bukannya saat peperangan”. Stalin menyatakan hal yang sama ketika ia mencampakan Komunis Internasional (Komintern) pada tahun 1943. Bagi Marxis sejati, betapapun, Internasional-II sangat dibutuhkan keterlibatannya, bukan pada periode tenang dan tanpa gejolak, tapi justru pada periode ketika antagonisme sosial maupun nasional mencapai titik puncaknya, justru ketika perang saudara, atau ketika kekuatan-kekuatan imperialis atau kolonial saling berperang.
Atas andil mereka yang brengsek, kaum internasionalis sejati tentulah menuntut kaum oportunis dengan kebijakan ‘patriotik’ (nasionalis) nya, yang mengakibatkan keruntuhan Internasional-II. Kaum internasionalis sejati tak akan berkompromi dalam program maupun organisasi agen-agen busuk borjuasi tersebut.
Selama tahun-tahun pertama peperangan, tiga pengelompokan tersebut (kiri, tengah, kanan) melakukan upaya-upaya untuk menyatukan bagian-bagian yang memisahkan diri dari social-demokrasi, terutama sehubungan dengan cara pandang dan posisi mereka secara umum. Partai-partai sosialis Italia, Swiss, dan Amerika, yang mewakili negeri-negeri netral, berusaha untuk menyerukan sebuah konfrensi bersama, namun tanpa hasil. Pertemuan kelompok-kelompok Skandinavia, pada Januari, 1915, untuk meraih titik temu, juga berakhir sia-sia.
Konfrensi perempuan sosialis yang diselenggarakan pada tanggal 26 Maret sampai dengan tanggal 28 Maret, 1915 di Berne, Swiss, adalah konferensi internasional kaum sosialis pertama, yang berhasi diselenggarakan setelah pecahnya perang. Kaum perempuan Bolshevik-Rusia, bekerja sama dengan Clara Zetkin, seorang pimpinan sosial-demokrasi Jerman, mengambil inisiatif untuk menyelenggarkan konfrensi tersebut. Dalam konferensi tersebut, terjadi dua kubu perdebatan besar: mayoritas suara—yang disponsori oleh Zetkin—mengutuk peperangan sebagai ajang kekuatan-kekuatan imperialis, dan menyerukan agar kelas buruh ‘memperjuangkan perdamaian’. Akan tetapi tidak ada kesimpulan final dari kubu ini; sementara, minoritas, yang dikedepankan oleh kaum Bolshevik, menekankan bahwa mayoritas partai sosialis “telah menjadi penghianat, yang menukar sosialisme dengan nasionalisme”. Sehingga mereka menyerukan agar kelas buruh berjuang untuk menumbangkan kapitalisme, dan menegakkan perdamaian lewat sosialisme.
Konferensi anti-perang kaum sosialis yang penting juga adalah yang diselenggarakan pada bulan September, 1915, di zimmerwald, Swiss. Konferensi ini di hadiri oleh 42 delegasi, Trotsky termasuk di antaranya. Berikut ini adalah cuplikan tentang konfrensi tersebut:
Hari-hari penyelengaraan konferensi tersebut, yakni antara tanggal 5 sampai dengan tanggal 8 september, 1915, begitu dipenuhi dengan perdebatan yang keras. Lenin—mewakili sayap revolusioner—menghadapai sayap pasifis, yang merupakan mayoritas dalam delegasi. Masing-masing pihak memaklumi kesulitan untuk menghasilkan manifesto bersama, yang rancangannya aku buat. Akhirnya, redaksional manifesto yang di hasilkan ternyata jauh dari yang diharapkan oleh masing-masing pihak. Namun, betapapun, merupakan satu langkah maju ke muka. Dalam konfrensi itu Lenin berada di pihak yang sangat kiri. Ia berada di posisi minoritas dalam banyak perdebatan di kongres. Bahkan Lenin sendiri tak mendapatkan dukungan mayoritas dari sayap kiri tuan rumah, penyelenggara kongres (baca: kaum kiri di Zimmerwald, Swiss). Aku sendiri—walaupun secara formal tidak gabung dengannya—namun punya banyak kesamaan dalam persoalan-persoalan pokok. Betapapun, harus dicamkan bahwa di konfrensi inilah Lenin memperkuat ‘kuda-kuda’ bagi kebangkitan kembali Internasional di masa yang akan datang. Di sebuah dusun pegunungan Swiss, ia meletakkan batu-penjuru bagi Internasional yang revolusioner.” (Trotsky, My Life, hal. 249-250).
Konfrensi berikutnya, yang masih membahas persoalan yang sama, di selenggarakan pada bulan April tahun berikutnya (1916) di kota Kienthal, masih di Swiss. Konfrensi tersebut menetapkan resolusi yang mengecam pasifisme dan sepak terjang kantor Pusat Sosialis Internasional. Konfrensi mencatat satu langkah maju berkenaan dengan pematokan/garis batas yang tegas antara arus/kecendrungan yang berbeda-beda perihal peperangan. Perjuangan ideologi dan politik yang di emban oleh Lenin, trotsky dan Luxemburg, maupun kawan-kawan sejawatnya, tercatat memiliki makna historis yang penting. Dalam tahun-tahun pertama perdebatan, mereka nampaknya terdesak, terisolasi tanpa harapan, menggerutu dan mengecam di pojok forum, menyayangkan perihal alur perkembangan ataupun rangkaian perjalanan yang di pilih/di tempuh oleh sebagian terbesar orang-orang di muka bumi.
Betapapun, mereka bertahan dengan tegar atas gagasan-gagasan yang mereka perjuangkan. Mereka juga optimis dengan kapasitas daya-penyembuhan-diri yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan anti-kapitalis, maupun dengan prospek revolusi sosial. Kekuatan mereka yang teguh, berakar dari wawasan teoritik perihal arah perkembangan kapitalisme, yang telah disediakan oleh Marxisme. Dan juga dari pengalaman praktek mereka saat bergabung dengan kekuatan (dan kapasitas) perlawanan proletariat, yang disingkapkan (walaupun hanya sebentar) oelh revolusi 1905 dan pertarungan kelas lainnya.
Semangat mereka dicerminkan dengan sangat mengesankan dalam penutupan buku Trotsky yang berjudul “The War and The Interntional”: “Kalaupun peperangan ternyata berkembang sedemikian rupa, melampaui jangkauan yang dapat dikontrol oleh Internasional-II, maka konsekwensi langsungnya pun akan berbalik-menghantam di luar kemampuan kontrol kelas borjuis di seluruh dunia. Kami, kaum sosialis revolusioner, tak menghendaki peperangan, namun kami tidak jeri atau gentar atasnya. Kami tak menyerah dan berputus asa atas fakta keruntuhan Internasional-II. Sejarah senantiasa meletakkannya kembali pada posisi yang sebenarnya. Era revolusioner akan menumbuhkan kembali benih-benih berupa bentuk-bentuk baru organisasi, yang bermunculan dari “sumber-sumber mata air” (yang tak pernah kering) sosialisme proletariat. Bentuk-bentuk baru perjuangan akan setara dengan tugas-tugas baru yang tak kalah besarnya, dan kami akan tetap menjaga kejernihan pikiran dan orientasi yang tak terpadamkan. Kami merasakan betul kekuatan-kekuatan kreatif hasil bersama kami, yang memberikan panduan bagi masa depan, dan yang sudah hadir bersama kami, bahkan lebih banyak dari yang nampak di permukaan. Esok akan ditunjukkan bahwa kita lebih besar dari hari ini. Dan esok lusa, jutaan kawan akan bangkit, tegak bersama di bawah panji-panji kita. Jutaan kawan buruh—bahkan setelah 67 tahun sejak kelahiran manifesto komunis--akan bangkit berjuang. Seberat apapun tekanan yang akan menimpanya. Mereka tidak akan kehilangan apa-apa, selain mata-rantai yang membelenggunya (Trotsky, “The War and The Interntional”, hal. 76-77).
Terdorong oleh gagasan-gagasan tersebut, kaum sosialis revolusioner, ke depannya, dari tahun 1914 hingga tahun 1917, memilkul perjuangan internasionalisme. Sejarah memulihkan kembali keharuman nama baik mereka, yakni setelah terjadinya revolusi Oktober, 1917. Kejayaan itulah yang menghantarkan syarat-syarat bagi penegakkan kembali Internasional-III.
Tentang Penulis Pamflet ini:
George Novack (1906-1992) menjadi seorang Marxis di awal 1930-an. Novack bergabung dengan Communist League of America—yang beraliran Trotskyis. Liga tersebut merupakan pendahulu Socialist Workers Party (SWP). Ia menjadi anggota Komite Nasional SWP dari tahun 1940 sampai dengan tahun 1972. Novack juga menghasilkan berbagai tulisan dengan tema tentang filsafat dan sejarah.
Dari PRM
Dari PRM
Politik kelas buruh (2)
Saat penting yang melatari Intrernasional-II adalah peringatan ke-100 tahun Revolusi besar Perancis, 1889. Tercatat tidak kurang dari 69 kongres bertarap internasional di selenggarakan—bersamaan dengan pameran internasional yang juga diselenggarakan di Paris oleh pemerintah Prancis—untuk memperingati hari bersejarah tersebut. Di antara kongres-kongres tersebut, terdapat dua kongres terpisah yang mewakili kelas buruh dan sosialis dari dua kubu yang berbeda. Yang satu, di rancang oleh kaum sosialis Jerman dan di selenggarakan oleh kaum Guesdites Perancis; sedangkan yang lainnya, di rancang oleh pimpinan serikat Buruh Inggris bersama kauam reformis Prancis (biasa di sebut kaum Posibilis)
Mengenai hal tersebut, Hyndman, seorang sosialis dari Inggris berkomentar, “Dua kongres, yang saling menjelek-jelekkan itu, diselenggarakan di gedung yang terpisah, oleh kaum posibilis dan imposibilis. Sedangkan kaum anarkis, bersikap netral dengan menghadiri keduanya. Pemberitaan di koran-koran tentang pertengkaran di antara persaudaraan sosialis, yang tidak mau akur, di sambut dengan cemooh/ejekan oleh dunia yang bebal” (lihat Braunthal, “Sejarah Internasionale”, Jilid 1, hal. 198-200)
Bagaimanapun juga, kongres kaum imposibilis yang berbasiskan prinsip-prinsip Marxis, yang ternyata menghasilkan kesatuan dan vitalitas. Sejarah mencatat bahwa kongres itu pulalah yang merupakan tonggak pendirian Internasional-II. Kongres itu sendiri secara resmi disyahkan sebagai kongres Internasional-II.
Ada dua persoalan praktis yang mengedepan dalam kongres ini. Untuk menangkis anggapan pihak-pihak yang bersikap bahwa Undang-undang perburuhan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip sosialis, kongres itu justru menyerukan kepada kelas buruh untuk mendukung program legislasi/undang-undang perburuhan secara internasional. Kongres itu juga menetapkan dukungan bagi perjuangan delapan jam kerja, yang dilancarkan oleh Ammmerican Federation of Labour. Walaupun, pada saat itu, AFL tidak hadir dalam salah satu kongres tersebut di atas, AFL mengirimkan pesan dukuhgan kepada keduanya. Pada saat yang sama, AFL mengajak kelas buruh mendukung kampanye tuntutan delapan jam kerja. Kampanye itu sendiri di jadwalkan untuk dimulai pada tanggal 1 Mei, 1890. Kongres pertama Internasional-II menetapkan untuk melakukan persiapan bagi demonstrasi serentak yang akan di lancarkan secara internasional pada tanggal tersebut. Dengan demikian, diawali lah tradisi peringatan 1 Mei (May Day) secara Internasional. AFL sendiri—yang ajakannya melahirkan peringatan 1 mei—kemudian, ternyata, memisahkan diri dari tradisi peringatan hari libur kelas sosialis (secara internasional). Mereka malah mempromosikan hari buruh secara tersendiri, dengan semangat nasionalis-borjuis.
Tahun-tahun awal internasional-II diwarnai dengan perjuangan prinsipil secara politik, yakni dalam menangkis gagasan maupun metode anarkisme. Pertarungan melawan anarkisme, tidak lain adalah kelanjutan dari pertarungan Marx melawan Bakunin (di dalam Internasional-I). Kaum anarkis, yang digelari sebutan Black Internasional menentang segala aksi politik dan bentuk parlementarian. Mereka justru mempraktekan bentuk aksi-aksi terorisme dan sedemikian mendewa-dewakan aksi-aksi pemogokan besar (yang spontan/tak terorganisir, tanpa orientasi). Pengaruh-pengaruh anarkisme ini diperangi oleh kaum Marxis dari Jerman. Bahkan, pada kongres Internasional-II di London (tahun 1896), kaum anarkis dan anti parlementarian tidak di ikutsertakan. Ditetapkanlah aturan bahwa peserta kongrees hanya berasal dari serikat-serikat buruh atau partai-partai politik saja. Kekompakan kaum sosialis tersebut menandai konsolidasi dan organisasi permanen internasional-II. Terhitung sejak saat itu, sampai sekitar tahun 1914, kepemimpinan Internasional-II diakui sebagai garda depan kelas buruh.
Dalam sepuluh tahun kemudian, Internasional-II berada di puncak ketinggian kekuatan dan prestasinya. Dalam kongres Internasional-II, pimpinan-pimpinan utama kelas buruh dari berbagai negeri mendebatkan semua problem pokok kelas buruh, yang hasil-hasilnya ditetapkan sebagai resolusi-resolusi. Sebelum dan sesudah kongres tersebut, persoalan-persoalan pokok tadi digodok dan ditetapkan oleh berbagai partai nasional. Watak Internasional perdebatan-perdebatan tersebut memperkaya dan memajukan gerakan buruh secara pesat, dan berbagai perdebatan yang berlangsung di angkat ke level teoritik secara berkala—sehingga cara pandang sempit yang yang mementingkan perjuangan nasional/bangsanya sendiri dapat di tuntaskan. Sejak saat itu, persoalan-persoalan besar yang dihadapi kelas buruh di sebuah negeri tertentu menjadi tanggungan bersama kelas buruh maju di segenap negeri.
Salah satu juga persoalan yang juga mengedepan adalah mengenai masalah hubungan antara reformasi (perbaikan) dengan revolusi. Teori Marxis bagi kedua masalah ini dengan tepat menjelaskan: “Perjuangan sehari-hari bagi reformasi—yakni bagi perbaikan kondisi-kondisi kerja dan buruh (dalam kerangka kerja tatanan masyarakat yang ada) dan juga perjuangan bagi lembaga-lembaga demokratis—hanya lah merupakan sarana/alat bagi kaum social-demokratik, suatu sarana untuk memasuki kancah peperangan kelas proletarian … untuk bekerja bagi tujuan final… yakni perebutan kekuasaan politik dan pembalikan kelas upahan”, demikianlah tulis Rosa Luxemburg dalam pamfletnya (“Reform or Revolution”, hal. 8), yang di tulis tahun 1899.
Dalam menghadapi persoalan di atas, kaum Marxis harus memerangi dua kecendrungan yang keliru dan membahayakan dalam gerakan sosialis. Yakni, kecendrungan oportunis dan sektarian. Kaum oportunis melandasakan dirinya dalam praktek-praktek yang menitik-beratkan pada partai-partai sosial-demokrat—karena, pada saat itu, tahap perkembangan perjuangan baru sebatas reformasi, sebatas perjuangan di tingkat nasional, dalam negeri-negeri kapitalis)… kaum oportunis ini berusaha menukar revolusi sosial dengan rerformasi. Mereka menjadikan reformasi sebagai esensi, hakikat, yang dipandangnya sebagai puncak pencapaian total pergerakan sosialis. “Kesalahan kaum revisionis adalah… bahwa mereka mau melanggengkan reformisme negara secara teoritik; bahkan hendak menjadikan reformisme sebagai satu-satunya metode perjuangan kelas proletar,” demikianlah pernyataan Trotsky dalam tulisannya “The War and the International”. “Dengan demikian, kaum revisioinis gagal mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan obyektif dalam perkembangan kapitalisme. Padahal, dengan semakin mendalamnya perdebatan-perdebatan tentang kelas, semakin terbuka pulalah jalan bagi revolusi sosial, sebagai satu-satunya jalan menuju pembebasan proletariat.” (hal. 60)
Cara pandang kaum reformis dapat tergambar dengan jelas dalam pernyataan Bernstein: “Bagiku, apa pun yang disebut sebagai tujuan utama sosialisme, bukan lah apa-apa , bagiku, gerakan adalah segala-galanya.” (Reform or Revolution, hal. 64) Dalam kecamanya, Rosa Luxemburg menunjukkan bahwa, di antara reformasi dan revolusi sosial, terdapat dua hal yang tak terjembatani bagi kaum sosial-demokratik. Perjuangan reformasi sebagai alat/sarana, revolusi sebagai tujuan sejati.” (hal. 8).
Sekarang, tentang kaum sektarian. Kaum sektarian justru melakukan kesalahan yang sebaliknya. Kaum sectarian, atau ultra-radikal, sama sekali menolak reformasi sebagai alat/sarana revolusi. Mereka menolak perjuangan lewat reformasi secara prinsipil karena, menurut mereka, reformasi cenderung melunakkan kelas buruh ke haribaan kapitalisme. Sehingga, hanya akan merepotkan/menghalang-halangi perjuangan revolusioner bagi pembebasan kelas buruh. Amerika merupakan contoh yang mengerikan dari sektarianisme yang sangat kaku, yang tercermin pada Socialist Labour Party. Socialist Labour Party memandang bahwa segala bentuk aksi massa untuk perjuangan reformasi sebagai tindakan reaksioner dan, oleh karena itu, menolaknya sama sekali.
Dalam perdebataan teoritik menghadapi dua kecenderungan di dalam tubuh internasionale-II, Marxisme muncul sebagai pemenangnya. Dalam menghadapi kaum oportunis, yang berusaha untuk melunakan gerakan sosialis ke dalam ‘pelukan’ sistim kapitalisme, kaum Marxis menekankan keharusan untuk mempromosikan perjuangan kelas, untuk merebut kekuasaan, dalam rangka menjungkirkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme. Sedangkan dalam menghadapi kaum ultra-kiri, kaum Marxis menunjukkan arti pentingnya perjuangan lewat reformasi untuk memanfaatkan semaksimal mungkin lembaga-lembaga demokrasi dan parlemen, demi mendidik, mengorganisir dan mencerahkan kelas buruh, hingga mayoritas rakyat siap bagi pengambilalihan kekuasaan, sebagai sebuah hujaman telak (yang revolusioner) atas kapitalisme.
Konflik berkesinambungan antara kaum Marxis melawan kaum oportunis meletup dengan sengitnya di Eropa—di negeri-negeri dengan perkembangan pergerakan sosialis yang paling maju, yakni Jerman dan Prancis. Di Prancis, Konflik tersebut mengedepan sehubungan dengan persoalan politik praktis yang dilakukan oleh Alexandre Millerand. Millerand adalah seorang anggota Independent Socialis Party (partai sosialis independen). Pada tahun 1899, ia menerima tawaran (dengan pertanggungjawaban perorangan) menduduki jabatan menteri urusan industri dalam sebuah kabinet kapitalis. Itu lah untuk yang pertama kalinya seorang pimpinan sosialis menerima tawaran jabatan di dalam pemerintahan borjuis, namun hal itu bukan yang terakhir kalinya. Millerand membela dirinya dengan dalih bahwa hal tersebut merupakan sebuah keharusan, demi menyelematkan demokrasi Prancis dari kaum Monarkis dan Bonapartis. Menurutnya, kaum Monarkis dan Bonapartis sedang mengeruk keuntungan lewat agitasi-agitasi yang dilancarkan atas kasus Dreyfus, dengan tujuan hendak mengahancurkan republik Prancis Ketiga (Third Republik). Pertikaian tersebut berkelanjutan di sekitar persoalan bahwa apa yang dilakukan oleh Millerand dianggap sebagai penyelewengan dari garis sosialisme, yang mengakibatkan terkjadinya perpecahan—antara sayap-kiri dan sayap-kanan dalam partai sosialis Prancis. Polemik dan kontoversi tersebut bahkan menyebar juga ke seluruh kalangan Sosial-Demokrasi Eropa.
Persoalan mendasar tentang politik koalisi—tentang kolaborasi, kerjasama, persekongkolan antara kaum sosialis dengan sayap liberal kaum kapitalis—dalam menghadapi kekuatan reaksioner lainnnya bukan sekadar permasalahan masa lalu, melainkan masih menjadi persoalan yang harus kita hadapi sampai saat ini. Persoalan tersebut kembali berulang dari waktu ke waktu, dalam rangkaian perkembangan sosialisme. Dan selalu saja kaum oportunis menyeruhkan slogan-slogan dan argumen-argumen palsu yang itu-itu juga, sambil mencari upaya merusak perjuangan kelas buruh—pada tahun 1918, misalnya, Ebert dan scheidemann masuk dalam pemerintah republikan kaum borjuis, dengan dalih “untuk menyelamatkan demokrasi Jerman”. Hasil nyatanya adalah: Nazi menang, revolusi proletarian dihancurkan dengan sangat keras. Ketika kaum sosialis, dan belakangan juga kaum Stalinis, berpartisipasi dalam pemerintahan republikan kaum borjuis Spanyol, dengan alasan yang kurang lebih sama, menyelematkan demokrasi Spanyol dari ancaman kaum monarkis dan fasis, hasilnya; naiknya Franco ke panggung kekuasaan. Suatu ketika, pimpinan kelas buruh dan kaum Stalinis menyatakan bahwa Presiden Roosevelt harus didukung, dalam rangka menangkal kelas ultra-reaksioner di Amerika Serikat, dan program perangnya harus diikuti dalam rangka memukul balik Fasisme di Eropa. Hasilnya: melimpah-ruah lah pengangguran dan upah yang rendah; masih di tambah lagi dengan tindakan keras pemerintah terhadap setiap aksi-aksi pemogokan buruh. Ini lah ‘buah’ yang dapat dipetik setelah menerima program perang: dilancarkannya program “pembersihan orang-orang merah” dari serikat-serikat buruh; perburuan kaum kiri oleh Mc Carthy, di bawah restu dari “kawan-kawan” buruh liberal, yakni Harry Truman. Lagi-lagi, pada tahun 1968, terdengar seruan untuk mendukung Presiden Lyndon Johnson, untuk menghadapi “penjaja perang” Barry Goldwater. Semua itu sama saja
Hal-hal tersebut di atas, maupun pengalaman-pengalaman sejarah lainnya, yang memiliki kesamaan selama abad ke-20, telah menguji dan membuktikan ketepatan pandangan kaum Marxis—yang sudah dilontarkan semasa Millerand—bahwa kolaborasi politik kaum sosialis dengan perwakilan kapitalisme manapun juga hanya akan memperkuat kelas penguasa yang reaksioner (yang menyingkirkan kelas buruh dan merongrong demokrasi). Bukti-buktinya sudah terdapat dalam diri Millerand, yang di kemudian hari “menyabot”, “memotong” aksi pemogokan buruh-buruh kereta api Prancis. Kolaborasi semacam itu menjadi basis bagi pendirian “Front-front rakyat” (palsu), yang ternyata menggiring kelas buruh Eropa ke dalam jurang kekalahan sebelum perang dunia II; atau persatuan masyarakat dengan imperialis (yang berkedok) demokratik, yang terbukti hanya membawa kehancuran selama peperangan. Kelas buruh sanggup membela hak-hak ekonomi dan demokratiknya, yakni dengan mengorganisir diri dalam perjuangan melawan pemerintah mereka; sama sekali bukan menggabungkan kekuatannya (dengan musuh-musuh kelas mereka sendiri), dalam sebuah koalisi politik.
Dua persoalan tersebut merupakan bagian yang terpadu (integral) dari perjuangan yang lebih luas, antara kaum marxis dengan sayap-sayap revisionis social-demokrasi. Penganjur utama dan pimpinan teoritik kaum revisionis adalah Edward Bernstein. Dalam rangkaian artikelnya, yang berjudul Problem of Soocialism, yang di terbitkan tahun 1897-1898, maupun dalam bukunya yang berjudul Evolutionary Socialism, yang di terbitkan tahun 1899, Bernstein menganjurkan revisi (perbaikan) atas Marxisme, di bawah panduan apa yang ia sebut sebagai “realitas hidup” (yang palsu). Ia adalah pimpinan teoritik oposisi borjuis kecil yang menyimpang dari garis Marxime. Bernstein lah yang dengan pongahnya memperolok dialektika, dengan cara yang sama seperti yang di lakukan oleh Burnham-Shachtman, ketika menentang Socialist Worker Party pada tahun 1939-1940. Ia mencampakkan metode Materialisme histories, bahkan ia menentang makna pentingnya teori pergerakan sosialis secara keseluruhan, juga ia melakukan hal yang sama terhadap teori nilai kerja (yang merupakan fondasi dari keseluruhan struktur ekonomi-politik Marxis)—yang mencakup: Keniscayaan (keharusan) historis sosialisme; keruntuhan, yang tak terhindarkan, kapitalisme; hukum akumulasi modal dan kecenderungan penghisapan yang sermakin mendalam atas kelas buruh. Ringkasnya, ia menjadi penganjur aliansi dengan partai-partai borjuis-demokrat dan metode-metode oportunisme.
Sejarah telah menunjukan kesalahan teori maupun maupun ramalan-ramalan Bernstein. Bernstein sendiri sangat meyakini bahwa kapitalisme telah berkembang secara lebih damai, lebih progresif, dalam menghapuskan krisis-krisis yang ada, dan meningkatkan standar kehidupan massa. Ia meramalkan bahwa reformasi dengan sendirinya (secara bertahap) akan membuka jalan bagi sosialisme; bahwa negeri kapitalis akan berubah menjadi negeri sosialisme (secara damai, tanpa konflik sama sekali). Dan antagonisme kelas akan hilang dengan sendirinya. Padahal, paruh abad ini sendiri telah mempertunjukan berbagai konflik, krisis yang meluas, kelaparan, kemelaratan, pengangguran, berbagai proses pembusukan Kapitalisme. Bersamaan dengan antagonisme kelas yang bergerak, berkonflik, meletus lah perang maupun revolusi.
Bahkan pada masa seperti itu, kaum Marxis—yang di persenjatai dengan sosialisme ilmiah—memenangkan pertarungan teoritik melawan ide-ide revisionisme. Walaupun, memang, masih ada saja orang yang senang memelihara kebiasaan dan praktek-praktek reformis di tubuh partai. Di Jerman: Babel, Kautsky, Rosa Luxemburg, saat itu, memukul mundur kaum revisionis yang dipimpin Bernstein dan Vollmar (yang, ‘kebetulan’, merupakan pendahulu Stalin dalam menganjurkan teori tentang “sosialisme di satu negeri”).
Dalam kongres kaum social-demokrasi Jerman pada tahun 1903, di kota Dresden, Bebel dan Kautsky berhasil mempetahankan keutuhan partai, sekaligus mengeluarkan sebuah resolusi yang di tujukkan kepada kaum revisionis. Resolusi tersebut menyatakan, antara lain:
“Dengan ini, kongres mengutuk keras upaya-upaya para revisionis untuk mengubah garis-garis taktik yang sudah teruji dan sukses, yang telah kita emban selama ini, yang berakar dari perjuangan kelas.
Taktik para revisionis tersebut secara tak terhindarkan akan mengubah watak partai kita, dari sebuah gerakan yang bertujuan penyingkiran secepatnya masyarakat borjuis—dan menggantikannya dengan masyarakat sosialis—menjadi sebuah kelompok yang sekadar puas dengan perbaikan-perbaikan dalam masyarakat borjuis. Selanjutnya, kongres mengutuk tiap upaya untuk menyembunyikan pertentangan-ppertentangan kelas yang semakin meningkat, terlebih-lebih bila dimaksudkan untuk memfasilitasi kerjasama dengan partai-partai borjuis (di kutip dari Landauer, European Socialism, Vol.1, hal. 359).
Pada kongres Internasional-II di Amsterdam tahun 1904, resolusi Dresden di atas menjadi pusat perdebatan sengit yang berlangsung sampai empat hari. Kongres tersebut juga menjadi saksi bagi terjadinya “duel dua raksasa berkaliber internasional”, yakni antara Jaures (seorang sosialis Prancis) melawan Babel (pimpinan sosialis Jerman). Dengan menerima resolusi Dresden, Internasional-II secara resmi menyingkirkan teori kaum revisionis dan, sekali lagi, mengukuhkan dirinya berdiri tegak di bawah panji-panji revolusi Marxisme.
Kongres Amsterdam sendiri menandai titik puncak Internasional-II. Kongres di hadiri 444 delegasi, yang merupakan kelompok perwakilan gerakan sosialis terbesar dan paling kukuh, sejauh yang pernah dicatat. Ketika Van Kol (seorang sosialis Belanda) memberikan sambutan, ia membandingkan perbedaan yang sangat mencolok antara kongres Internasional tahun 1872 dengan tahun 1904. Di tahun 1872, seingatnya, beberapa lusin delegasi internasional-I bertemu di Den Haag, di sebuah Kafe, hanya untuk membubarkan organisasinya. Dalam waktu 30 tahun, orang-orang pengasingan dan pejuang-pejuang buruh, yang tadinya di buru-buru, kini telah menggerakan dunia.
Tahun itu (1904), merupakan masa kejayaan Internasional-II dan gagasan Marxisme yang diembannya. Kejayaan tersebut masih tetap bisa ditingkatkan lebih jauh—ketika revolusi Rusia pertama meletus pada tahun berikutnya (1905); saat kelas buruh yang masih begitu muda, di bawah kepemimpinan sosial-demokrasi, untuk pertama kalinya, menunjukkan kegagahan Revolusionernya.
Itulah tahap puncak Internasional-II. Tahapan tersebut turun bersama dengan surutnya gelombang pasang revolusioner.
Bab III: Menjangkitnya Oportunisme dalam Sosialis Internasional (1904-1914)
Kongres Amsterdam tahun 1904 dan revolusi Rusia tahun 1905 adalah dua puncak semangat revolusioner dalam sejarah internasional-II. Kongres tersebut menandai kemenangan Marxisme atas ide-ide sayap kanan kaum revisionis. Juga kemengan cita-cita kelas proletarian terhadap upaya-upaya untuk menggiring buruh yang terorganisir ke arah demokrasi parlementer. Kemenangan taktik yang berbasiskan perjuangan kelas yang tegar atas taktik yang berbasiskan oportunisme dan reformisme sosialis. Pendeknya, kemenangan semangat proletarian atas pengaruh-pengaruh borjuis kecil di dalam internasional-II.
Revolusi Rusia tahun 1905 menjadi saksi atas program dan semangat tersebut, yang memandu aksi pengerahan massa secara besar-besaran. Harap di ingat, sejak di pukulnya Komune Paris pada tahun 1871, di Eropa tak pernah ada lagi gejolak revolusioner dalam skala besar, selama sekitar 35 tahun terakhir. Sekarang, justru di kekaisaran T’sar yang terbelakang, yang merupakan negeri yang paling reaksioner di Eropa—dengan sebuah rejim yang absolut, yang menindas lembaga-lembaga demokrasi, memburu-buru kaum sosialis dan gerakan buruh—justru segenap rakyatnya, rakyat Rusia yang tertindas, mulai bergerak lebih dulu di Eropa, terutama setelah kekalahan menuyakitkan yang dialami Rusia dalam perang Rusia- Jepang. Adalah kelas buruh Rusia, yang masih muda, yang berdiri paling depan dalam barisan massa rakyat, gerakan tersebut dipandu oleh kaum sosial Demokratik Rusia.
Dalam sebuah kuliah tentang revolusi 1905 (yang ditulis oleh Lenin dalam pembuangan di Swiss, satu bulan sebelum pecahnya revolusi tahun 1917), Lenin mengamati:
“Sebelum 22 Januari, 1905, partai revolusioner Rusia belum memiliki keanggotaan secara luas, saat itu kaum reformis menyebut kita sebuah “sekte”. Seratusan organiser revolusioner, sekian ribu anggota organisasi lokal, setengah lusin koran revolusiner, yang terbit tidak lebih dari sekali bulan (material-material/koran tersebut biasanya diterbitkan di luar negerri dan di selundupkan ke Rusia dengan kesukaran yang luar biasa, dan dan dengan bayaran pengorbanan yang tidak kecil. Seperti itulah partai-partai revolusioner, dan khususnya Partai Sosial Demokrasi Rusia, sebelum 22 Januari, 1905. Kondisi seperti itu membuat kaum reformis, yang picik dan pongah, terpaksa mengeluarkan justifikasi (pembenaran) bahwa revolusi Rusia adalah peristiwa besar pertama yang membawa hembusan segar dalam atmosfir Eropa yang pengap/membosankan, selama 35 tahun terakhir sejak Komune Paris. Perkembangan cepat dalam perjuangan kelas buruh Rusia, dan kekuatan tak terbayangkan dalam pemusatan aktifitas revolusioner mereka, menghasilkan kesan yang mendalam bagi dunia, dan di mana-mana menghasilkan benih yang mempertajam perbedaan-perbedaan politik. Di Inggris, revolusi tersebut telah mempercepat pembentukan partai buruh independen. Di Austria terjadi desakan-desakan yang kuat untuk menegakkan hak-hak politik rakyat. Di Prancis, gaung revolusi Rusia memberikan dampak bentuk dalam gerakan sindikalisme, yang memberikan pencerahan pad tingkat praktek dan teori bagi berkembangnya kecenderungan revolusioner proletariat Prancis. Di Jerman, revolusi Rusia menunjukan pengaruhnya dalam penguatan buruh sayap Kiri partai, menyeret mayoritas kamu tengah ke kiri, menghasilkan penyingkiran kamu revisionis (Kanan). Sehingga, secara prinsipil, partai menetapkan metode revolusioner dalam aksi-aksi pemogokan umum. (“The War and The International”, hal. 61).
Pemberontakan besar tahun 1905 juga meninggalkan jejak yang mendalam di seluruh Asia dan merangsang revolusi-revolusi melawan kekuatan kolonial di Turki, Persia dan China.
Betapapun, revolusi tersebut di pukul balik dengan sangat keras. Kekalahan revolusi dan kemenangan kekuatan kontra-revolusi, telah mendorong berlangsungnya periode reaksi yang berkepanjangan, dan hal tersebut bukan hanya berlangsung di Rusia, namun juga di setiap penjuru Eropa. Trotsky menggambarkan kemunduruan politik tersebut sebagai berikut:
“ Di Rusia, kekuatan kontra-revolusi menang. Dan, bersamaan dengan itu, dimulai lah periode kemunduran proletariat Rusia; kemunduran kekuatan, baik secara politik maupun secara organisasi di Austria. Jalinan-jalinan kemajuan yang telah di capai oleh kelas buruh, terpotong-putus. Tuntutan bagi pengesahan jaminan sosial untuk rakyat banyak, terbengkalai di kantor-kantor pemerintah. Tuntutan-tuntutan bagi hak-hak politk universal terpuruk dalam kepentingan kaum nasionalis belaka. Semua itu bermuara pada semakin melemah dan terpecahnya kekuatan Sosial-Demokrasi. Di Inggris, setelah sekian lama Partai Buruh melepaskan diri dari Partai Liberal, belakangan ini mulai menjalim hubungan kembali. Di Prancis, kaum sindikalis menyerah pada posisi kaum reformis. Dalam waktu yang singkat, Gustave Harve memutarbalikkan keputusan yang diambilnya sendiri. Di Jerman sendiri, kaum revisionis dalam tubuh partai Sosial Demokrasi, mengangkat kembali kepala mereka dengan pongahnya. Kaum Marxis dipaksa untuk merubah taktik mereka—dari taktik ofensif menjadi taktik defensif. Upaya-upaya kaum kiri dalam mengarahkan partai-partai untuk mengambil kebijakan yang lebih aktif, tak membuahkan hasil. Kaum tengah makin bergerak ke kanan, sambil mengepung kaum radikal/kiri. Kekuatan-kekuatan konservatif menarik nafas lega atas kekalahan revolusi 1905” (“The War and The International”, hal. 63).
Dalam satu kuliah Lenin menegaskan, “…bahwa revolusi rusia 1905, dikarenakan watak proletariatnya, merupakan prolog (pendahuluan), bagi kedatangan revolusi Eropa” (Lenin, Selected Works, Vol. 23, hal. 252). Pandangan tersebut jernih dan tajam—ketika itu, diakui juga oleh kautsky. Namun, pandangan itu tidak dominan di kalangan pemimpin-pemimpin Internasional-II, sehingga tak pernah digunakan sebagai sebuah panduan strategi (terutama pada tahun 1904-1914). Para pemimpin Internasional-II tersebut bekerja dengan menggunakan cara pandang dan analisis yang berbeda. Walau tidak di akui secara terbuka, sesungguhnya cara pandang mereka adalah cara pandang kaum reformis.
Apa sajakah premis-premis (landasan argumen) mereka? Kini mereka percaya bahwa kapitalisme akan tetap bertahan sampai dengan masa depan yang tak terbatas. Seperti juga saat kapitalisme dapat tetap bertahan di bawah kondisi kolonial: keuntungan luar biasa, yang ditumpuk dan diakumulasi oleh penguasa-penguasa kapitalis semasa ‘naik daunnya’ kapitalisme global, memungkinkan negeri-negeri besar tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan lapisan buruh sedikit remah-remah (sisa-sisa makanan) yang tercecer dari meja makan majikan besar mereka yang rakus. Lapisan buruh yang menikmati hal-hak istimewa itulah yang merupakan aristokrat-aristokrat buruh mereka. Lazimnya, mereka kemudian membentuk partai buruh yang besar dan mapan, ataupun juga serikat-serikat buruh yang birokratis.
Pimpinan-pimpinan partai buruh mapan maupun serikat buruh birokratis tersebut biasanya memilih jalan parlementer, dan menjadi penganjur-penganjur utama bagi kampanye pengambilalihan jalan damai, tak susah-susah dan hidup berdampingan secara ‘berbudaya’ dengan kapitalisme. Mereka tidak bertindak, berpikir dan merasakan—sebagaimana selayaknya perwakilan kelas yang tertindas—namun, lebih mirip penjaga-penjaga toko borjuis kecil, majikan-majikan kecil, atau guru-guru sekolahan. Bersamaan dengan semakin kentalnya kecendrungan borjuis mereka, orang-orang mapan tersebut juga menjadi semakin terisolasi (terasing)—dari penderitaan, kesukaran-kesukaran hidup maupun aspirasi massa rakyat. Mereka juga sudah tidak merasa penting untuk menuntut pertanggungjawaban majikan mereka, apalagi melawannya.
Kaum borjuis kecil bersikap sama terhadap rakyat tanah jajahan (daerah-daerah kolonial), sungguh pun mereka tahu betul bahwa hasil-hasil bumi, kenyamanan penghidupan, standar penghidupan yang lebih tinggi, hak-hak istimewa yang mereka kecap, sebagian besar dihasilkan dari penghisapan atas rakyat-rakyat tanah jajahan. Dengan dinginnya mereka membiarkan begitu saja pengambilalihan daerah-daerah koloni, mereka juga tak mempedulikan kekerasan, penindasan, maupun kemorosotan penghidupan yang menimpa rakyat tanah jajahan. Sekali lagi, mereka memilih bungkam terhadap proses perbudakan yang berlangsung bersamaan dengan kebijaksanaan dan praktek-praktek kolonial maupun imperialis. Sama sekali tak terlintas dalam pikiran mereka: perihal keharusan untuk memblejeti praktek-praktek tersebut di atas, dalam rangka mendidik kelas buruh—dengan membangkitkan kesadaran kelasnya dan membangun ikatan solidaritas/persaudaraan antar kelas buruh dari negeri-negeri yang paling terinjak-injak.
Sebagai konsekwensi logisnya, kaum sayap-kanan dalam gerakan buruh justru menjalin aliansi dengan borjuasi pribumi, untuk menindas rakyat di tanah jajahan (khusunya kelas buruh di perkotaan atau di pinggiran kota ). Ternyata praktek kolaborasi kelas (kerja sama antar kelas) itulah yang dipakai untuk menggantikan perjuangan kelas yang konsisten; itulah akar oportunisme. Lenin menggambarkan hal tersebut sebagai, ”…pengorbanan atas kepentingan fundamental massa kelas buruh, demi kepentingan-kepentingan sesaat minoritas kelas buruh (yang tak penting).” Atau, dengan kata lain, aliansi sebagian kecil kelas buruh dengan kelas borjuis, untuk menindas massa proletariat.
Ada empat yang persoalan yang menandai petumbuhan unsur-unsur kanan kaum oportunis dalam Internasional-II, terhitung sejak tahun 1906 sampai dengan tahun 1914. Yang pertama, dan paling utama, adalah dalam menghadapi persoalan kolonial.
Pada kongres di Stuttgart yang tahun 1907, kaum sayap-kiri menyerukan perjuangan yang prinsipil bagi kebijakan sosialis yang sejati. Dengan demikian, sebagai konsekwensinya, kaum kiri harus menentang setiap penaklukan, praktek-praktek perhambaan, pemerkosaan, panjarahan yang menjadi ciri khas dalam operasi-operasi kolonial oleh kekuatan-kekuatan imperialis.
Kaum oportunis, yang di pimpin oleh serikat-serikat buruh Jerman, menentang setiap upaya untuk melawan kekuatan-kekuatan imperialis. Mereka cenderung memilih beradaptasi/menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan imperialis tersebut. Seorang delegasi Jerman, Eduard David, berargumentasi: karena kebijakan dan penindasan kolonial adalah sesuatu yang tak terhindarkan di bawah kapitalisme, maka kaum sosial-demokrasi tak perlu melakukan perlawanan atasnya. Yang perlu dilakukan kaum sosial-demokrasi adalah berjuang bagi perbaikan-perbaikan kondisi kerja penduduk pribumi di tanah jajahan. Ringkasnya, Eduard David mau mengatakan bahwa perjuangan yang perlu dilakukan bukannya untuk mengakhiri perbudakan, namun sekadar memperbaiki kondisi-kondisi perbudakan.
Bernstein juga berpendapat, bahwa masyarakat memang dapat di bagi dalam dua kategori: kelas penguasa dan kelas yang di kuasai. Bagian tertentu dalam masyarakat memang sepeti kanak-kanak, yang selalu harus di bimbing, tak sanggup mengembangkan diri mereka sendiri. Sehingga kebijakan kolonial, menurutnya, adalah sesuatu yang tak bisa dielakan, bahkan di bawah tatanan sosialisme sekalipun. Bagi ideologi-ideologi (palsu) tersebut, bangsanya sendiri lah yang paling beradab, dan memang terlahirkan sebagai “bangsa yang di pertuan”—atau tak mungkin terjadi sebaliknya, sebagai bangsa yang di perbudak.
Kongres menyelenggarakan pemungutan suara sehubungan dengan ‘persoalan kolonial’ tersebut. Dan hasilnya adalah: kaum revolusionis memperoleh 127 suara, sedangkan kaum oportunis 108 suara, sisanya, 10 suara, menyatakan abstain (tidak memilih). Semua kaum sosialis Rusia yang yang hadir dalam kongres tersebut memilih dengan semangat revolusioner; sementara mayoritas pimpinan serikat-serikat buruh Jerman mendukung kaum oportunis. Pilihan-pilihan yang mereka ambil tersebut merupakan isarat tersendiri, yang akan terbukti nanti dalam sejarah.
Perdebatan kedua adalah mengenai kebijakan imigrasi. Seorang delegasi Amerika berpendapat bahwa Internasional-II seharusnya mengeluarkan tuntutan untuk memberlakukan Undang-undang yang membatasi masuknya kelas buruh-buruh berkulit kuning ke “negeri-negeri beradab”. Yang hakikatnya, usulan untuk membangun tembok pemisah antara kelas buruh di Asia dengan yang tinggal di Amerika /Eropa, lewat sebuah perundang-undangan kapitalis. Cara pandang semacam itu telah menjadi semacam tradisi dalam kebijakan buruh Amerika, yang masih berlaku sampai hari ini.
Perdebatan ketiga, yang lebih penting, adalah menyangkut hubungan antar partai-partai sosialis dengan serikat-serikat buruh. Di satu pihak, ada kecenderungan bahwa para pimpinan serikat buruh merasa nyaman dengan hak-hak istimewa yang dimilinya—sambil ‘membina’ kelas buruh yang masih terbelakang. Mereka itulah yang menentang dan berusaha melepaskan diri dari segala bentuk kontrol/pengawasan politik—yang lazim bagi sebuah partai yang menggunalkan metode perjuangan kelas. Karenanya, orang-orang tersebut senantiasa menyerukan ‘netralitas’ serikat buruh bila dikaitkan dengan program-program ataupun aktifitas –aktifitas partai sosialis. Harap dicatat, bahwa lahan subur bagi pertumbuhan oportunisme dan arah gerak ke kanan dalam internasional-II justru di pelopori oleh serikat-serikat buruh.
Memang, kita pahami benar bahwa otonomi organisasional bagi serikat-serikat buruh adalah sebuah keharusan. Namun independensi total bagi serikat-serikat buruh bukanlah suatu keharusan. Independensi total bagi serikat-serikat buruh, dalam praktek dan kebijakannya, adalah sesuatu yang mustahil. Mengingat, bahwa dalam peta pertarungan kekuasaan politik, serikat-serikat buruh tersebut hanya punya dua pilihan: jatuh ke bawah cengkeraman kapitalis dan pemerintahannya, atau berjuang bersama kelas oposisi/penentang kelas kapitalis, yakni bersama massa proletariat. Sehingga kita tidak mengenal ‘jalan tengah’ dalam menghadapi persoalan di atas. Dengan melakukan pemisahan antara perjuangan politik dengan perjuangan ekonomi, kaum sayap kanan hanya ingin mendapatkan pengesahan atas oportunisme mereka.
Dalam kongres di Stuttgart tersebut, keinginan-keinginan atas ‘netralitas’ serikat-serikat buruh berhasil diselesaikan oleh kaum revolusionis, yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip fundamental Marxime. Mengenai hal ini Clara Zetkin menuliskan catatannya, sebagai berikut, “Kini, secara prinsipil, tak ada lagi suara-suara yang mempertanyakan kecenderungan historis (yang pokok) dalam perjuangan kelas proletar; untuk mempersatukan pengorganisasian kerja-kerja ekonomi dan politik seerat mungkin dalam suatu perjuangan kelas buruh sosialis.” (dikutip oleh Lenin dalam Colleceted Works, Volume 13, hal. 89).
Komentar Lenin sendiri atas perdebatan tersebut: “Sambil menjalani proses penahapan dan hubungan timbal-balik yang yang tak terelakan (antara partai revolusioner dengan serikat buruh—penj.), kita tak boleh mengambil langkah-langkah yang gegabah/tak bijaksana, kita harus bekerja secara konsisten dengan serikat-serikat buruh, dalam rangka memandu mereka ke arah yang lebih dekat dengan Partai Sosial-Demokratik” (Lenin, Collected Works, Volume 13, hal. 89).
Problem mengenai hubungan antara partai pelopor dengan proletriat, sebagaimana seharusnya, yang dikaitkan dengan hubungan kepada serikat buruh—yang mencerminkan proletariat sebagaimana seadanya (betapapun kurang maksimalnya)—merupakan salah satu persoalan penting dalam khasanah revolusioner Marxisme. Hal tersebut juga sekaligus merupakan problem yang paling sukar untuk ditangani di tingkat praktek.
Hubungan tersebut tidak saja memiliki perbedaan-perbedaan di negeri-negeri yang berlainan, namun memiliki perbedaan-perbedaan dalam tingkat perkembangannya bahkan di negeri yang sama. Pergerakan serikat buruh telah menjadi saksi bagi terjadinya dua macam hubungan yang mewakili dua kubu yang berbeda. Di Jerman dan Rusia pada umumnya, Partai Sosial-Demokrsi lah yang mengambil inisiatif dalam membentuk dan memipimpin organisasi serikat-serikat buruh. Bagi Inggris dan Amerika Serikat, dilain pihak, gerakan sosialis dan gerakan serikat buruh dilahirkan dan berkembang secara terpisah, bahkan saling bertentangan satu dengan lainnya.
Kaum sindikalis, yang cukup berpengaruh di Prancis dan Spanyol, juga menentang segala kaitan/hubungan antara serikat buruh dengan partai politik kelas buruh.
Belakangan, di beberapa negeri imprealis utama, seperti di Inggris dan juga di Kanada, pergerakan politik di awali dengan kebangkitan serikat-serikat buruh. Dan, secara bertahap, melebur dengan partai pelopor, dalam bentuk partai-partai buruh—dengan ataupun tanpa program/idiologi sosialis yang dinyatakan secara terbuka.
Dengan variasi peluang/kemungkinan yang begitu beragam (dari dua kubu besar tadi), nampaknya tidak akan ada satu formula yang final/absolut untuk menentukan hubungan antara pergerakan ekonomi dan politik kelas buruh. Pilihan terbaik yang perlu diambil, dalam tahapan perkembangan tertentu, sangat tergantung pada keseluruhan faktor politis-historis yang kompleks.
Betapapun, ada satu pertimbangan yang akan tetap konsisten bagi kaum Marxis. Yakni, soal peranan politik yang dinilai lebih menentukan/lebih penting ketimbang peran ekonomi, yang secara organisasional tercerminkan dalam peranan partai atas urusan-urusan serikat-serikat buruh. “Politik”, demikian ungkap Trotsky, “Adalah pencerminan umum yang terfokus, yang berangkat dari persoalan-persoalan ekonomi”.
Trotsky menggambarkan tujuan ideal atas hubungan (partai dan serikat buruh), sebagai berikut: Partai—bila memang cukup berharga untuk disebut demikian—mencakup keseluruhan pelopor kelas buruh. Partai menggunakan pengaruh pengaruh idiologisnya untuk membangun tiap ‘cabang’ dari pergerakan buruh untuk menghasilkan panen (khusunya bagi gerakan serikat buruh). Namun bila serikat-serikat buruh juga hendak benar-benar dianggap cukup berharga, serikat-serikat buruh tersebut juga harus merangkul massa buruh yang sedang terus tumbuh-berkembang, dan meliputi juga elemen-elemen buruh yang belum maju. Sehingga serikat-serikat buruh tersebut baru lah menuntaskan tugas mereka bila berhasil memandu buruh-buruh (secara sadar) dengan prinsip-prinsip yang fundamental. Mereka hanya akan meraih kepemimpinannya bila elemen-elemen terbaik buruh-buruh tersebut telah dipersatukan di dalam partai proletariat yang revolusioner.” (Tulisan Leon Trotsky mengenai serikat buruh, hal. 12) Internasional-II memang sudah cukup baik dalam menyerukan hal tersebut namun, sayang sekali, masih kurang cukup mendalam meyadari sepenuh-penuhnya.
Sementara itu, kekuatan-kekuatan utama di Eropa telah terlibat dalam manuver-manuver diplomatik dan berpacu dalam perlombaan senjata, yang akan memuncak dalam perang tujuh tahun kemudia. Dengan demikian, dalam rangka mengantisipasi persiapan tersebut di atas, kaum sosialis memberikan porsi yang sentral dalam kongres Internasional-II di Stuttgart.
Ada tiga posisi klasik yang mengedepan dalam kongres Internasional-II di Stuttgart. Cara pandang oportunistik diwakili oleh Georg Vollmar (seorang pimpinan sayap-kanan Partai Sosial-Demokrasi Jerman). Vollmar secara terbuka menolak prinsip-prinsip revolusioner proletariat dan, malah, berkhotbah tentang petriotisme bagi ‘tanah air’ (baca: membela negeri Jerman yang kapitalistik). Bukan lah tanpa alasan bila kita menelusuri akar perkembangan teori sosialisme di satu negeri, misalnya, dalam pernyataannya, Vollmar Vollmar menyatakan: “Tidak benar kalau ada yang mengatakan bahwa kita tidak memiliki tanah-air. Segala kecintaan kita akan kemanusiaan, tidak dapat menghindarkan kita untuk menjadi orang-orang Jerman yang baik. Kami berpendapat, bahwa propaganda anti-militer bukan saja tidak benar dari sudut pandang teori, tapi juga sama sekali berbahaya secara prinsip.”
Dari sudut pandang yang sama sekali bertolak belakang belakang dengan pandangan tersebut, seorang Prancis bernama Herve, mewakili posisi kelas ultra-kiri. Herve berpendapat bahwa tiap peperangan dapat diantisipasi dengan aksi pemogokan buruh besar-besaran, yang diikuti dengan pemberontakan. Menurut Lenin, Herve telah melupakan, “Bahwa penggunaan atas suatu alat/sarana (maupun sarana-sarana lainnya), dalam perjuangan ( menghadapi perang) sangat bergantung pada kondisi-kondisi obyektif krisis tersebut—secara ekonomi ataupun politik—yang dipercepat oleh perang tersebut. Sehingga, bukan lah bergantung pada keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum revolusioner .” (Lenin, “Collected Works”, Volume 13, hal. 91)
Pengalaman telah menunjukan, bahwa aksi pemogokan umum (di tingkat nasional) adalah sesuatu yang mustahil pada saat pecahnya perang, ketika chauvinisme dan persatuan nasional sedang begitu memuncak, ketika kaum pemodal begitu kuat serta kelas buruhnya masih sangat lemah. Menurut Lenin, formula yang diusulkan oleh Herve adalah salah, karena, “tidak sanggup mengaitkan perang dengan rejim kapitalis secara keseluruhan; dan juga tak sanggup menghubungkan agitasi anti-militer dengan kerja-kerja sosialisme secara keseluruhan.” (Lenin, “Collected Works”, Volume 13)
Kasus herve tersebut sangat penting (terutama) untuk menunjukkan bagaimana semua seruan kaum borjuis kecil bagi avonturisme (petualangan) ultra-kiri sebenarnya sedang berjudi atas persoalan-persoalan yang sedemikian pentingnya, yang merupakan kebalikan dari oportunisme ekstrim, atau justru merupakan sisi lain dari mata uang yang sama. (sejarah mencatat bahwa Herve—si anti-militer yang fanatik itu—justru menjadi patriot yang bebal pada tahun 1914.
Sayap Marxis dalam Internasional-II, yang dipimpin oleh Lenin, Rosa Luxemburg dan Clara Zetkin, memenangkan perdebatan (keempat) terakhir mengenai peperangan. Zetkin mengekspresikan momen tersebut sebagai berikut: ”… semangat keberanian dan energi revolusioner kelas buruh dalam kapasitas tempurnya, berhasil memukul mundur keyakinan mandul yang digenggam erat oleh orang-orang yang bersandar pada metode perjuangan parlementarian. Selain itu, juga berhasil mengatasi kedangkalan cara pandang anti-militeris kaum semi-anarkis Prancis yang di kampanyekan oleh orang-orang seperti Herve.” (Lenin, “Collected Works”, Volume 13, hal. 92)
Kongres mengeluarkan kesimpulan, yang ditetapkan sebagai resolusi, yang menyatakan bahwa peperangan, “… adalah bagian yang tak terpisahkan dari Kapitalisme. Peperangan hanya bisa dihentikan ketika sistim kapitalisme itu sendiri di hapuskan…” Resolusi tersebut mengumandangkan seruan yang menolak segala pembiayaan untuk membeli senjata dan juga bagi propaganda militer. Dinyatakan pula bahwa, sementara belum ada ketentuan umum, “bentuk-bentuk baku aksi-aksi anti-militer yang perlu dilakukan oleh kelas buruh. Dalam mengantisipasi saat-saat ancaman perang, betapapun, adalah tugas Internasional-II untuk “… mengkordinasikan dan meningkatkan upaya-upaya kelas buruh yang paling maksimal dalam menghadapi peperangan.” Sebagai tambahan, resolusi tersebut juga mengutip sejumlah contoh mengenai aksi anti-perang yang cukup berhasil yang dilakukan oleh kelas buruh. Antara lain, disebutkan pula revolusi Rusia 1905, yang dipercepat oleh perang Rusia-Jepang. Bahaya ancaman (tak langsung) yang dapat mengarah ke revolusi, dijelaskan dalamn alinea penutup resolusi, yang di rancang bersama oleh Rosa Luxemburg, Lenin, dan Martov:
“Bila sebuah perang nampaknya akan meletus, adalah tugas kelas buruh dan perwakilan-perwakilannya di parlemen negeri-negeri yang bersangkutan untuk mencurahkan dukungan (dengan aktifitas-aktifitas yang di kordinasikan dari kantor pusat sosialis Internasional), dengan mengerahkan segala upaya, dalam rangka mencegah meletusnya perang. Juga, dengan sarana apapun, yang paling efektif, menurut mereka. Semua itu sangat bergantung pada penguatan perjuangan kelas dan juga penajaman situasi politik secara umum.
Jika peperangan tersebut nampaknya tidak dapat di cegah dengan cara apapun juga, maka adalah tugas kelas buruh untuk melakukan intervensi (campur tangan). Semuanya itu dalam rangka untuk mendorong terjadinya percepatan dan, bersamaan dengan segenap kkekuatannya, memanfaatkan krisis ekonomi dan politik (yang diciptakan oleh peperangan) demi membangkitkan massa rakyat, yang akan memacu kejatuhan kekuasaan kelas kapitalis.” (Untuk teks selengkapnya resolusi tersebut, lihat Braunthal, hal. 361-363)
Nampaknya, bahwa, dari ringkasan pertimbangan maupun ketetapan yang dibuat dalam kongres Internasional-II kedua di Stuttgart—yang merupakan ciri khas bagi kongres-kongres lainnya sampai dengan tahun 1914—walaupun ada gangguan-gangguan yang dipicu oleh kaum oportunis, gagasan Marxis tetap bertahan di dalam tubuh Internasional-II. Bila kita sekadar melihat dari luar, maka kita akan keliru dalam menilai posisi-posisi formal yang diambil oleh orang-orang tersebut ehubungan dengan situasi nyata yang melingkupi Internasional-II.
Penampilan kontradiktif Internasional-II menjadi semakin nyata setelah kongres di Copenhagen tahun 1910. Dari tahun 1910 sampai dengan 1913, pergolakan sosial dan konflik-konflik kelas yang tajam mengguncang hampir semua negeri, misalnya pergolakanara buruh tambang, buruh-buruh kereta rel api, buruh-buruh mesin dan buruh-buruh penambangan emas di Rusia, buruh-buruh perusahaan tekstil maupun penambangan di Amerika. Ternyata kondisi-kondisi sosial tersebut malah bermuara pada gerakan reformasi, yang nemotong kebangkitan elan revolusioner.
Perjuangan nasionalis juga menyebar di Turki, di Timur Dekat, di China. Semua perkembangan domestik tersebut berjalin erat dengan krisis-krisis di tingkat internasional—Insiden Agadir, yang memicu bentrokan antara Perancis-Jerman di Maroko pada tahun 1911; perang merebut Libya antara Turki-Italia; perang Balkan pertama tahun 1912; dan lain-lainnya.
Itulah goncangan-goncangan yang menggoyahkan Eropa pada tahun 1914. Namun,, sementara itu, sentimen-sentimen nasionalisme, kekuatiran akan perubahan-perubahan drastis, keraguan atas daya kekutan kelas buruh dan aliansi-aliansinya, mengakibatkan merebaknya kecenderungan-kecenderungan oportunis dan munafik, yang merupakan perpaduan pengecut dari oportunisme kelas menengah.
Wabah menular tersebut, dalam tubuh partai-partai sosialis utama, ternyata memang sangat berbahaya. Mengakibatkan mandul dan runtuhnya Internasional-II, sebagai sebuah kekuatan progresif , padahal gejolak konflik perang dunia sudah mulai pecah tepat di hadapan mukanya.
Dari PRM
Dari PRM






