“Jalan berliku jangan berlalu, jalan berliku terus berlalu
Hempaskanlah jiwa ini
Dalam ruang yang tidak pernah ternoda “
Rehan seorang pemuda yang masih perjaka yang tampan dan gagah, ototnya yang terlihat kuat dan badannya terlihat kokoh, di dadanya tergambar arah mata angin dan 2 anak panah. dia tidak pernah merasakan apa itu cinta yang selalu menodai kehidupan, kegelapan yang tiada henti dalam hatinya. Kedalaman hutan yang sering dia jangkau dan menjadi bagian hidupnya. satu detik satu langkah satu bukit satu gunung tak terhenti kaki terus berjalan “kehidupan hutan adalah kehidupanku” itulah yang sering di ucapkan, tapi kakinya yang terus berjalan dengan sorotan matanya yang tajam dan bola matanya yang berwarna coklat terus terarah kejalan-jalan yang penuh dengan kesengsaraan. Terhampar dedaunan kering dan ranting-ranting hutan yang berjatuhan. Karena baginya kehidupan adalah angin yang tidak lelah mengayunkan ranting-ranting dan dedaunan. Dia tidak tau apa maksudnya untuk menjelajahi hutan-hutan? Yang pasti kehidupan
Sorotan matahari mulai hilang di selimuti awan hitam yang mulai menangis. Air matanya mulai mambasahi sang bumi, satu tetes, dua tetes, air mulai turun, para dewa petirpun mulai menjerit-jerit, dengan tawa candanya membangunkan para bunga-bunga dan kumbang-kumbang yang mulai berlari menuju istananya. Siang itu seakan hilang keindahannya, air semakin banyak turun ke bumi dan mulai menginjakan para magma bumi yang sangat dalam.
Awan hitam mulai pergi tangisannyapun berhenti dengan cepat dan mengundang para peri-peri kecil, tujuh gadis itu bermain dia atas pelangi yang menuju kearah sungai yang indah. Mereka mengayunkan sayap-sayap indahnya. pawang hujan seakan telah mengundang mereka untuk datang kehapannya. Tubuhnya yang berwarna pelangi menjadikan satu titik kehidupan bagi mereka, kegelapan telah pergi dan datangnya masa penguasa kehidupan. Mereka bermain di atas sungai itu, tetesan air menjadi permata, hujan seakan terpanah oleh mereka angin yang mulai meniupkan syair-syair lagu untuknya. Awan putih mulai menari-nari, peri kecil bercanda dengan terlepas. Tiba-tiba tanda kehidupan menggoreskan kesedihan. Kini kebahagian menjadi segumpal aspal yang baru terlahir. Kesedihan kini merenggut para gadis-gadis itu.






